Gerhana Bulan total telah berlangsung pada tanggal 15-16 Mei lalu. Sayangnya fenomena alam gerhana bulan ini hanya berlangsung di Amerika, Eropa dan Afrika, dan sebagian Pasifik sehingga masyarakat Indonesia tidak dapat melihatnya secara langsung.
Namun kali ini kita tidak akan membahas mengenai gerhana bulan, melainkan tradisi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa ketika gerhana ini berlangsung. Penasaran? Cekidot!
Pernahkah kalian mendengar istilah liwetan? Liwetan merupakan salah satu tradisi masyarakat jawa yang masih bertahan hingga saat ini. Dari kata "liwetan" yang berarti menanak nasi, tradisi ini biasanya dilaksanakan ketika terjadi gerhana.
Berawal dari cerita legenda masyarakat mengenai buto ijo yang akan memangsa janin ibu-ibu hamil ketika gerhana datang. Hal tersebut digambarkan seperti bulan atau matahari yang akan tertutup bayangan atau objek langit yang lain ketika gerhana terjadi. Sehingga ketika gerhana terjadi para ibu hamil akan menggelar sejumlah tradisi yang salah satunya yaitu liwetan.
Terlepas dari itu, liwetan juga digelar sebagai bentuk selamatan atau tasyakuran atas bayi yang dikandung dan berdoa untuk keselamatan ibu serta calon jabang bayi. Liwetan dilaksanakan dengan pembacaan doa serta pembagian nasi liwet oleh para ibu-ibu tetangga sekitar.
Uniknya nasi liwet dimasak dengan menggunakan sejumlah bahan seperti daun salam, serai, bawang merah dan bawang putih hingga cabai merah dan garam sehingga rasa yang dihasilkan gurih dan nikmat. Adapun lauk wajib ketika liwetan yaitu ikan asin, telur rebus, beberapa lalapan (timur, gubis), tempe, tahu dan yang terpenting yaitu sambel korek atau sambal terasi khas liwetan.
Di daerah lain liwetan dilakukan dengan alasan dan tujuan yang berbeda dan menu masakan yang berbeda juga. Namun sebagai masyarakat Indonesia, tradisi ini perlu kita pertahankan sekaligus lestarikan karena itu merupakan salah satu identitas bangsa kita.










