Selfie with DJ!!! 💀 #gta #gtav #gtavonline #gtafriends #crew #crewmates #gtacrew #games #videogames #moddedoutfit #skull #mask #LSAI #lossantos #selfie #snapmatic #selfie
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United States
seen from France
seen from China
seen from Australia
seen from Australia
seen from United States

seen from France
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Maldives
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from South Africa
seen from United States
Selfie with DJ!!! 💀 #gta #gtav #gtavonline #gtafriends #crew #crewmates #gtacrew #games #videogames #moddedoutfit #skull #mask #LSAI #lossantos #selfie #snapmatic #selfie
Lightning Scientific Arnis is power striking.
Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia, (Benarkah) Tinggal Sejarah?
Wacana ini dimulai dari sebuah pertanyaan besar yang menjadi tajuk di atas, tentang lembaga yang bahkan telah berdiri sebelum penulis lahir.
Sebab,dari pertanyaanlah; percakapan, diskusi, barangkali argumentasi; lahir. Karena hanya dari bertanya, jawaban hadir.
*
Apa itu LSAI? Apa fungsinya? Kapan dan mengapa didirikan? Siapa orang-orang di dalamnya? Dimana mereka berkegiatan? Bagaimana kondisinya sekarang?
Sebuah keingintahuan di jaman ini, dimulai dari pencarian di mesin pencari maya bernama Google. Salah satu link di halaman pertama membawa kami ke home page LSAI yang berisi beberapa data yang kemudian mengantarkan kami ke ruang tamu rumah Yuswadi Saliya. Berbekal sederet pertanyaan baru yang lebih baik, dalam sebuah siang kami memberanikan diri mengetuk pintu.
“Pak Yus (demikian Yuswadi Saliya sering disapa) dikenal terutama sebagai seorang akademisi, pemikir, teoris dan sejarawan arsitektur, yang niscaya langsung maupun tidak langsung memberi warna pada perkembangan arsitektur di Indonesia.”
- Sandi A. Siregar(1)
Yuswadi Saliya adalah satu dari empat pendiri LSAI. Tiga nama lainnya adalah Sandi A. Siregar, Haryoto Koento (Alm.), dan Sutrisno Murtiyoso. Pada hari Minggu, 24 September 1989, mereka mengajak sederet nama yang saat ini kita kenal sebagai akademisi dan tokoh peminat sejarah arsitektur Indonesia untuk menandatangani sebuah Pernyataan Bersama(2).
Pernyataan tersebut berisi kesepakatan yang menjadi maksud dan tujuan LSAI, yaitu:
Membina pengetahuan sejarah arsitektur dan sejarah arsitektur Indonesia.
Mengembangkan kesadaran akan sejarah arsitektur di tengah masyarakat Indonesia.
Merangsang kegiatan penelitian dan pencatatan perkembangan sejarah arsitektur di Indonesia.
Menyelamatkan khasanah budaya arsitektur yang telah ada di bumi Indonesia dan pengembangannya melalui pembentukan sistem informasi, nasional dan internasional.
Mengembangkan forum komunikasi yang berkesinambungan antar segenap anggota melalui pertemuan ilmiah dan penerbitan.
Adapun nama-nama tokoh yang menandatangani pernyataan tersebut adalah:
Eko Budihardjo
Mochtarram Karyoedi
Abdul Rochym
AA Setiawan
Gunawan Tjahjono
Budi Lim
Sutarki Sutisna
Dedi Suwandi Partadinata
Ardi P. Parimin
Jo Santoso
Toni Sundjaja
Krishnamurti Murad
Dibyo Hartono
Agan Hariman
Johannes Widodo
Budi A. Sukada
R. Saleh
Josef Prijotomo
Tjioe Poo Kwat
Yuyus Mulia
Mahatmanto
F. Christian J. Sinar T.
Yongky Hartanto
Sudianto Aly
PC Djohan S
Yoannes Whadiono
Sandi Siregar
Yuswadi Saliya
Haryoto Kunto
Sutrisno Murtiyoso
Baru pada tanggal 3 Februari 1993, LSAI disahkan menjadi sebuah badan hukum berbentuk yayasan. Format yayasan ini pula yang belakangan dipertanyakan kembali, karena LSAI lebih tepat berbentuk “perkumpulan” yang merupakan himpunan orang, daripada “yayasan” yang merupakan himpunan modal(3). Terlepas dari itu, kegiatan LSAI selama masa aktifnya (sebelum vakum pada tahun 2006) cukup solid dengan keanggotaannya yang masih terbatas.
Lalu kami bertanya kepada Pak Yus, bagaimana caranya dahulu (ketika arus informasi belum sederas sekarang ini, dan komunikasi merupakan sesuatu yang tak sesingkat menjentikkan jari) para tokoh LSAI berkumpul membicarakan kegiatan organisasi ini. Mereka tersebar di kota-kota di pulau Jawa, sedangkan surat elektronik masih merupakan barang langka.
Beliau bercerita, mereka giat mengikuti seminar dan lokakarya yang diadakan, menetapkan janji bertemu di sana untuk berkumpul di sela-sela acara. Sukur-sukur jika bisa menyisipkan agenda LSAI dalam jadwal. Dalam keterbatasan ruang, waktu, dan biaya; meskipun redup, samar-samar; kegiatan LSAI tetap diupayakan berjalan.
Namun terbatasnya LSAI dalam hal keanggotaan mungkin yang akhirnya membuat mereka kehilangan penerus. Penggiat LSAI, bahkan hingga lebih dari dua dekade keberjalanannya, hanya terbatas pada orang-orang yang sejak awal membangun lembaga tersebut. Beberapa personil tambahan yang ada berasal dari lingkungan akademisi di sekitar anggota LSAI.
“(Soal penerus) kami tidak (belum) berhasil. (Mungkin penyebabnya) dari kecocokan dan minat, ada beberapa tapi loose, longgar, belum bisa memberi komitmen total. Mau ganti pengurus setengah mati, sampai sekarang,” kata Pak Yus.
*
“Telah banyak beredar keluh kesah masyarakat luas melalui berbagai artikel, diskusi, atau seminar akan melemahnya akar-akar budaya bangsa, yang a.l.(4) disebabkan oleh lemahnya pula pemahaman/pengajaran sejarah. Keprihatinan itu telah umum dirasakan, bahkan mulai berkembang ke arah pesimisme/skeptis-isme/rendah-diri yang kontra-produktif dan sangat merugikan pembangunan bangsa, bukan hanya di dunia profesi arsitektur saja, melainkan juga di seluruh lapisan jenjang pendidikan & pengajaran di Indonesia. Orang banyak bertengkar tentang apa yang disebut sejarah (-arsitektur) itu.
”Tampaknya, LSAI pun berkewajiban untuk turut menjelaskannya, mendudukkan perkaranya dalam konteks kiprah berarsitektur di Indonesia, kalaulah bukan dalam konteks budaya bangsa.”(5)
Cita-cita LSAI sederhana: ingin menjadi wadah forum dan diskusi bagi peminat sejarah arsitektur Indonesia. Tapi barangkali, kesederhanaan dalam masa-masa sekarang ini adalah sesuatu yang mewah dan harus didapatkan melalui proses yang berdarah-darah, atau dengan harga mahal. Barangkali, kebersamaan dalam satu wadah bukan sesuatu yang dicari lagi, saat ini. Atau bisa jadi, unsur "sejarah" itu yang menjadi momok. Yang membuat enggan dijadikan tema besar sebuah kegiatan.
“Sejarah merupakan hasil yang paling berbahaya, yang menaburkan racun pada pemikiran. Bahan-bahannya sudah diketahui dengan baik.
“Yang menyebabkan mimpi-mimpi, memabukkan bangsa-bangsa, yang membebani mereka dengan ingatan-ingatan palsu, melebih-lebihkan refleksi, menjaga masa silam yang sakit-sakitan, menyiksa ketika sedang senang-senang, menyebabkan mereka menderita penyakit megalomania, dan kerajingan menyiksa orang.
“Menjadikan mereka kejam, arogan, tak tertahankan, dan penuh dengan kesombongan.”
− Paul Valery(6)
Pada tengah tahun 2012, LSAI berupaya melakukan peremajaan pengurus. Sutrisno Murtiyoso, yang akrab dipanggil Pak Sumur, diangkat sebagai ketua. Nama-nama baru muncul, para akademisi, yang tersebar di kampus-kampus sekitar pulau Jawa. Program-program lama diniatkan untuk dibangkitkan kembali.
Di sebuah pagi kami berkesempatan berbincang dengan beliau di kediamannya di Bandung, yang juga merupakan alamat sekretariat LSAI.
"Mempelajari sejarah adalah soal memahami apa yang sudah disepakati di masa lalu, bukan untuk ber-romantisme ria. Romantisme hanya untuk orang kaya. Orang Indonesia belum mampu. GDP saja (hanya) 3000-an (dollar AS).
“(Orang) Indonesia(7) masih butuh tempat yang layak, dan itu adalah tugasnya arsitek. Semua orang bisa bikin bangunan. Tapi apakah itu nyaman, layak, efisien, tepat guna? ...Kebanyakan tidak. Karena itulah butuh arsitek.
“Tapi apa yang dilakukan arsitek? Hanya bersolek. Pakai gincu. Baju trendi. Kapan mau jadi Indonesia?
“Bagaimana mau berbuat untuk rakyat Indonesia, kenal aja enggak. Kita arsitek hanya kumpul2 sendiri. Saling memuji, tanpa peduli yang diluar. Onani itu namanya! Apa kita pantas menamakan diri (arsitek) Indonesia?
"Sekarang malah mau bikin sayembara hotel di kompleks Prambanan. Tidak meneliti dulu latar belakang, tidak melihat sejarah kompleks Prambanan: bahwa sudah ditetapkan tidak boleh ada hotel di situ. Dulu sudah sepakat, besoknya bikin sayembara. Itu orang yang tidak tahu sejarah.”
Demikian beliau bertutur, berapi-api.
Dari perbincangan dengan Pak Sumur pula, kami mendapat jejak prestasi LSAI. Pada masa aktifnya, LSAI turut berkontribusi mengorganisir pameran arsitektur dalam Festival Istiqlal sebanyak dua kali pada tahun 1991 dan 1995. Juga terlibat dalam penyelenggaraan konferensi internasional mAAN (modern Asia Architectural Network) dan ISVS (International Seminar on Vernacular Architecture and Settlements).
Kegiatan ilmiah yang mereka lakukan berupa Lokakarya Nasional Pemahaman Sejarah Arsitektur (LNPSA)(8) telah berhasil mereka laksanakan sebanyak 10 kali dalam kurun 1995-2006 di berbagai kota di nusantara (sebelum akhirnya berhenti, bertepatan dengan situasi gempa di Sumatra Barat). Ditambah SNEIDAN (Simposium Nasional Ekspresi Islam Dalam Arsitektur Nusantara) dan SiJAN (Simposium Jelajah Arsitektur Nusantara) yang masing-masing berlangsung sebanyak 4 dan 2 kali.(9)
Program utama LSAI adalah menyusun “Buku Sejarah Arsitektur Indonesia”. Naskah ini telah disusun sejak awal LSAI berkegiatan. Namun, aku Pak Sumur, sulit untuk menerbitkan tulisan (semacam itu) di Indonesia. “Menerbitkannya susah, yang baca juga susah.”
Meskipun begitu, sebagian naskah buku tersebut sudah beberapa kali diterbitkan sebagai bagian dari konten buku lain(10). Selain itu, LSAI juga memrogramkan untuk menerbitkan jurnal (ilmiah) rutin bernama Sasakala, yang diharapkan dapat terakreditasi dan diakui dunia Internasional.
*
Akhir kata, yang akhirnya kami imani dan amini pada akhir wacana adalah, bahwa LSAI masih ada. Nilai-nilainya tertanam dalam-dalam, dalam individu-dalam yang tak jua bosan mengulang wacana. Bertahun-tahun.
Tapi bisa jadi tak lama lagi ia menjadi sekedar sejarah, yang dibalsam dan dipetikan, dipajang sebagai peninggalan masa lalu, dimuseumkan dalam gedung tua nan berdebu. Sekiranya hal-hal tersebut perlu menjadi renungan (juga tantangan) bagi setiap kita yang ingin peduli. Seperti sebuah pesan dari Wae Rebo, Flores:
“Kita terlambat menyadari bahwa living culture ini lebih penting daripada dead monument. Istilah kasarnya, kita lebih senang membangun monumen kera ketimbang membiarkan kera itu hidup alami di hutan. Dengan kata lain kalau ada situs-situs bersejarah, kita lebih senang mematikan situs itu, kemudian mengangkat situs itu menjadi museum.”
− Yori Antar(11)
Tapi kami tak khawatir. Jiwa baik, nilai baik, niat baik, akan bereinkarnasi. Barangkali, yang LSAI butuhkan hanyalah momentum yang tepat. Untuk terbangun dari koma panjang. Terlahir baru.
Atau barangkali nilai-nilai yang diimani LSAI akan bereinkarnasi di "tubuh" yang lain? Yang mungkin saat ini masih sedang dalam pengembaraan makna. Pencarian jatidiri. Entahlah.
…
Siang berganti sore ketika kami beranjak dari ruang tamu Yuswadi Saliya, membawa pulang harap dan tanya bagi diri sendiri.Senja belum benar-benar hadir. Masih ada waktu untuk kembali ke meja kerja, menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
Ya, masih ada waktu.
*
Terima kasih kepada:
Yuswadi Saliya & Sutrisno Murtiyoso (LSAI) atas waktu yang diluangkan untuk berbincang.
Ahmad Zuhdi ‘Allam, Ivan Kurniawan Nasution, & Pandu Bambang Siswotomo atas bantuan dan diskusinya dalam proses penulisan.
Catatan:
Dikutip dari sambutan LSAI oleh Sandi A. Siregar dalam buku “Perjalanan Malam Hari” karya Yuswadi Saliya.
Data diambil dari home page LSAI di http://www.iis.u-tokyo.ac.jp/~fujimori/lsai/lsai.html
Menurut Sutrisno Murtiyoso dalam perbincangan di kediamannya (yang juga merupakan sekretariat LSAI), Jl. Karangarum No. 8 Bandung 40162.
A.l : Antara lain.
Dikutip dari naskah Undangan Pertemuan LSAI 14 Juli 2012 di Bandung.
Dikutip dari paragraf pembuka tulisan “Sejarah Arsitektur dalam Pendidikan Sarjana Arsitektur”, dalam buku Perjalanan Malam Hari, Yuswadi Saliya (1999).
Menurut Sutrisno Murtiyoso, Indonesia yang dimaksud bukan hanya 30% penduduk yang tinggal di kota besar, tapi juga termasuk 70% sisanya yang tersebar di seluruh nusantara.
LNPSA semula ditujukan untuk “pengajaran sejarah” (target peserta adalah pengajar), lalu diperluas menjadi “pemahaman sejarah” (target peserta lebih luas, menjadi peminat sejarah).
Data diambil dari notula pertemuan LSAI di Bandung 14 Juli 2012 di https://groups.google.com/forum/?hl=id&fromgroups=#!topic/lsai/i8oSexRYrf8
Naskah Sejarah Arsitektur Indonesia sudah diterbitkan dalam: Penyusunan Modul Sejarah Arsitektur bagi Universitas Terbuka, dibawah pimpinan Prof. Koentjaraningrat; Penyusunan jilid Architecture dalam Indonesian Heritage Series, prakarsa Menteri Pariwisata Joop Ave; Buku Sejarah Kebudayaan Indonesia jilid Arsitektur dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan.(Sumber: Sutrisno Murtiyoso)
Dikutip dari pengantar Yori Antar dalam video Ngole Wae Rebo (Vidour, 2011).
Trying to do some stick drills while wearing a jacket. It feels kinda weird.