Besok hari raya semua kaum muslimin, hari raya idul fitri. Aku punya unek-unek untuk hari ini.
Tak seperti biasa, aku rasa tahun ini lebaran biasa saja. Jujur tidak ada rasa sukacita atau apapun, sama seperti hari biasa.
Mungkin karena sedang wabah corona ini? enggak juga.
Aku bahkan tidak terlalu kangen untuk kumpul2 keluarga. Bagiku lebaran kali ini seperti seremonial biasa saja.
Aku dengar ini hari pemaafan, yang kalau boleh dikatakan pemaafan berulang-ulang. Tiap tahun tidak berubah. Tetap melakukan dosa yang mungkin sama-sama saja tapi akhirnya memohon maaf.
Mungkij dulu ramadan dijadikan ajang maaf-maafan karena ini momentum yang cukup baik untuk itu.
Paginya minta maaf siangnya berdosa dengan hal yang sama. Bahkan manusia saat ini, menurutku, tidak banyak yang bisa mendapatkan momentum ramadan.
Momentum untuk benar-benar mentransformasi dirinya menuju lebih baik. Momen-momen ramadan pun banyak dipakai untuk kasih makan ego masing-masing. Iya gak?
Bukber bareng, sahur bareng - > ego.
Tahajud biar DAPAT pahala - > ego.
Baca quran BIAR khatam - > ego.
Sungkeman BIAR dosa diampuni - > ego.
Padahal nabi dulu solat sampai kakinya bengkak agar dosanya diampuni Allah walaupun sudah dijamin syurga.
Tidak bisakah bulan ramadan ini menjadi momentum transformasi diri? bukan ajang tradisi yang seminggu setelah lebaran semuanya kembali seperti semula.
Jadi lupa ngaji, lupa solat tepat waktu, lupa jaga lisan, lupa untuk tahan diri, lupa untuk tidak ngeluh, lupa untuk tahan gunjing, lupa untuk tidak melakukan hal buruk yang biasa dilakukan sebelum ramadan.
Ramadan jadi ajang tradisi, mungkin ada tapi tidak banyak yang menjadikannya momen evaluasi.
Lihat saja, malam takbiran penuh dengan petasan dan ucapan selamat ramadan di grup2 what'sapp. Ibu2 pada sibuk begadang untuk buat masakan dan kue lebaran. Anak-anak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Padahal malm takbiran dulu rasulullah nangis loh. "ramadhan kok cepet banget ya".
Adasih yang buat konten seperti itu. Buat kontennya lama loh. Harusnya intropeksi dirinya mungkin lebih lama juga.
Bagiku, karena ini yang terjadi dilingkunganku, setelah ramadan adalah sama saja.
Orangtua akan merasa lebih tau dari anak dan mudah sekali judge anak keras kepala jika diajak diskusi.
Anak-anak merasa orangtua terlalu kolot dan tidak update sehingga mudah mengabaikan orangtua.
Ibu-ibu tetap kembali merumpi.
Bapak-bapak akan kembali ke kesibukannya masing-masing.
Dan banyak netizen yang menghabiskan waktunya di medsos. Biasanya buka instagram, tiktok ataupun youtube. Beberapa diantaranya tetap mengakses konten pornografi. Oh ya, tidak lupa mabar gaes.
Tetap ada dosa-dosa yang sama dan berulang-ulang.
Apakah harus banyak dosa supaya bisa dapat ampunan Allah? Waallahualam bisshowab.