Qurban, Dulu dan Sekarang
Bila kita review kembali, ritual haji dan penyembelihan hewan kurban ternyata sudah ada bahkan sebelum Islam datang. Jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad, penduduk semenanjung Arab mayoritas menganut agama yang dibawa Nabi Ibrahim dan Ismail, yakni monoteisme; memercayai adanya satu Tuhan.
Namun begitu masa berlalu, keyakinan itu luntur. Penduduk Arab beralih menyembah berhala yang mereka buat sendiri. Meksipun praktik haji dan kurban masih mereka laksanakan setiap tahun, tapi mereka lupa inti dari agama yang mereka anut: tauhid.
Wal hasil, mereka malah mencemari kesucian Baitullah dengan berhala. Menodai rangkaian ibadah haji dengan mengucapkan kata kotor, bertengkar dan perilaku tak terpuji lainnya. Dalam hal kurban, mereka mempersembahkan ritual penyembelihan hewan untuk patung Manat, melumurkan darah hewan di dinding-dinding Ka'bah, dan meninggalkan bangkai hewan kurban di dekat Ka'bah.
An-Nadwi, seorang cendekiawan muslim penulis buku "ماذا خسر العالم بانحطاط المسلمين" menggambarkan, zaman sebelum kemunculan Islam (sekitar abad ke-6) ini merupakan periode sejarah yang penuh kekacauan lagi kelam dari segi sosial dan akidah keagamaan. Ia juga menjelaskan pada zaman ini manusia telah melupakan Tuhannya, lalu mereka lupa diri sendiri dan kehilangan kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
Lalu jika saat ini ada tuduhan syariat kurban mengajarkan kekerasan, mempraktekkan pembantaian, atau bahkan menyangka Allah menyukai pertumpahan darah, bagaimana bisa?
Sedangkan dalam hal menyembelih hewan pun, Islam mengajarkan untuk berlaku ihsan, menjaga adab-adab memyembelih agar jangan sampai menyakiti. Memerintahkan menyebut nama Allah sebagai pembeda mana yang halal dan tidak halal dimakan.
Selain itu, yang membedakan kurban zaman jahiliah dan setelah Islam datang yaitu daging-daging hewan kurban yang diberikan untuk masyarakat. Dari sini telah terbukti, bahwa keimanan dan ketaatan seorang muslim kepada Allah mampu mewujudkan kesejahteraan bagi sosial.
Lebih utamanya, ibadah kurban ini mempunyai tujuan bagaimana seorang hamba bisa lebih dekat dan bertambah ketaqwaan pada Penciptanya.
Maka benar firman Allah, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (Al Hajj : 37)