Manajemen emosi bisa dilatih saat kita sedang kerja sama tim. Sadari dulu kita itu kerja dengan masing-masing kepala dan karakter yang beda-beda. Jadi, wajar kalau tiap-tiap orang punya referensi dan caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah bersama.
Biasanya saat tujuan bersama itu mulai berjalan, akan dilalui konflik akibat latar belakang dan kepala kita yang berbeda-beda.
Di sinilah diri kita dituntut untuk pandai dan bijak dalam mengolah konflik.
Memperburuk situasi karena kesal sama karakter satu orang yang kita kurang cocok. "Kok si A malah gitu, sih, bukannya xxxxx"
Memperbaiki situasi dengan sadar masih ada orang-orang lainnya yang kita tahu juga memiliki tujuan yang sama.
Kebijaksanaan dalam diri kita itu perlu dilatih. Penting. Hidup kita masih akan terus berlangsung. Orang-orang yang hadir pasti akan silih berganti.
Makanya, ada pengingat yang menurut saya tepat.
Jadikan semua orang yang kamu temui itu guru.
Nantinya, kita akan bisa simpulkan. Dia memberi pelajaran baik atau kurang baik.
Pokoknya kita perlu sadar kalau bermasyarakat/muamalah itu akan terus berjalan. Seindividualisnya kita, akan ada saatnya butuh orang lain juga. Jangan penuhi diri dengan ego.
Kedewasaan memang bukanlah perihal umur yang terbilang.
Satu hal yang pasti. Jangan takut berubah. Apabila perubahan kita itu didasarkan pada hal yang benar.
Ya, namanya juga peralihan. Kebaikan kita itu akan menjadi pelecut semangat untuk diri sendiri terus berproses. Tanpa kita sadari, orang yang ada di sekeliling akan memberikan umpan balik yang serupa tanpa perlu kita pinta.
Ya semacam ada aksi, ada reaksi gitulah~
Intinya kalau kita sudah memahami dengan apa yang menjadi tujuan besarnya, insyaallah bakal bisa pilih dan pilah mana yang harus jadi evaluasi mana yang harus jadi pelajaran emosi. 🌝
Semangat, ya, menata lagi.