Dunia sibuk sekali, penuh dan sesak.
Sudah banyak musibah, banyak juga yang memecahbelah; bicara semaunya, bermain hakim pada yang bukan haknya.
Ya Allah, lekas pulihkan Indonesiaku. ❤️🩹
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from China

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from China
seen from China
seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Russia
Dunia sibuk sekali, penuh dan sesak.
Sudah banyak musibah, banyak juga yang memecahbelah; bicara semaunya, bermain hakim pada yang bukan haknya.
Ya Allah, lekas pulihkan Indonesiaku. ❤️🩹
Malam selalu datang kepadaku bersama penyakit yang tidak bisa ditawar, pikiran terus gentayangan bagaikan kelelawar.
lampu kamar masih menyala ketika para penulis sudah lama tertidur di tumpukan buku, sedangkan aku sedang sibuk mencari ide yang tak kunjung datang padaku.
apa kabar hari ini?
sudahkah menyumpahi mereka yang kau abadikan dalam ingatanmu?
Busy But Lazy?
“Ah, banyak banget yang jadi pikiran hari ini.”
“Apa ya, kegiatan yang bisa ngebuat sibuk sekaligus produktif.”
Halo, semangat kamu. Yang lagi dipusingkan dengan sesuatu yang seakan-akan berat padahal belum sedetikpun dikerjakan. Kebanyakan orang menganggap bahwa ia merasa sangat-sangat sibuk dan tidak ada waktu. Padahal saat itu, pemikiran sibuk itu memicu rasa lelah. Berasa ada tugas ngeganjel yang belum sempat terpegang. Mampir di pikiran. Sibuk dipikir, waktu berpikir ‘saja’ yang sia-sia ini sebenarnya termasuk di waktu santai. Cuman, otak yang ngajak ribut mikir ini itu belum selesai. Mikir aja ya, tanpa tindakan buat ngerjakan.
Thinking while working beda dengan think before starting to work. Simpel banget. Definisi refresing tapi dikejar atasan dalam rangka reminder untuk ngerjakan ini itu, mengirim dokumen dan sebagainya. Jika dikau belum ingat (alias lupa), manusia memang butuh huwangs buat bertahan hidup dengan menyisihkan sebagian besar waktunya untuk itu. Tapi ini ‘sebagian besar’ bukan keseluruhan. Waktu santai ada bukan untuk dipakai memikirkan ini itu cuan cuan. Badanmu milikmu. Komitmen tetap, namun sisihkan waktu untuk dirimu menikmati diri sebagaimana manusia pada mulanya.
Sudah niat melakukan sesuatu? Nice! Do it! Keep it free and as simple as possible. Intinya, manajemen waktu itu nomer satu untuk mental healt-mu.
Hati hati jangan lupa zikirnya dan minum air putihnya..
Kegelisahan ini sungguh menyiksa.
Baru kini terasa. Dasar manusia. Sungguh, betapa kurang bersyukurnya aku saat dulu Allah berikan kesibukan. Dahulu mengeluh ia datang tanpa henti hingga tak punya waktu bersenang-senang. Kini dikaruniai waktu luang, rasanya sungguh tidak berguna.
Wajarkah perasaan bersalah ini kurasakan? Aku merasa masih membutuhkan waktu bersantai setelah bulanan kuhabiskan berperang dengan tugas akhir. Akan tetapi, ternyata pertarungan selanjutnya sudah tiba. Mencari kerja.
Inikah yang dinamakan bertumbuh dewasa? Perasaan tidak nyaman yang menghantui. Perut yang serasa dikocok. Tangan yang tiba-tiba berubah dingin. Merasa bersalah karena menjadi beban orang tua. Anak yang pengangguran. Bikin malu saja.
ya Allah...jadikan aku sibuk dengan kesibukan kesibukan yang lebih mendekatkanku kepada Engkau hingga tiada kesedihan yang bisa masuk kedalam diri apalagi yang disebabkan karna makhlukMu Aamiin
Apakah Kamu Harus Sekolah Lagi?
Tulisan ini mungkin relevan untuk kamu yang:
Masih menjalani sebuah pendidikan--entah di sekolah atau di kampus, tapi sebenernya ngga bener-bener tau bagaimana pendidikan yang kamu jalani akan membantu mencapai apa yang kamu inginkan dalam hidup
Baru lulus sebuah jenjang pendidikan, tapi ngga tau apakah sebaiknya lanjut sekolah, kerja, memulai bisnis, atau ngapain
Udah selesai dengan pendidikan formal, mulai settle dengan kehidupan yang "sesungguhnya”, tapi ngerasa hampa--ngerasa “no one” karena ngga punya keahlian spesifik
* * *
Jadi, dalam perjalanan saya menggarap proyek Esensify, saya banyak baca buku dan banyak terinspirasi (tentu saja, sebab Esensify kerjaannya emang bikin intisari buku).
Salah satu buku yang lagi saya buatkan intisarinya adalah buku “Ultralearning” (bisa dibeli di Amazon)
Singkatnya, buku ini ngajarin prinsip, strategi, dan taktik yang bisa kita gunakan kalau kita mau belajar sebuah keterampilan atau ilmu dengan efektif, efisien, cepat.
Si penulis cerita, dia lulus semua ujian program sarjana computer science MIT dalam kurang dari setahun (yang wajarnya dicapai dalam empat tahun), tanpa pernah menjadi mahasiswa MIT. Dia belajar sendiri.
Ada juga beberapa cerita ultralearner lain, misalnya cerita tentang orang yang bikin game Stardew Valley sendirian. Dia sendiri belajar ngoding, pixel art, komposisi musik, sampai pemasaran game-nya. Kalau anak Steam pasti tau game ini.
Pendidikan Formal Outdated
Saya sadar bahwa gagasan “pendidikan formal udah outdated” bukanlah sesuatu yang baru.
Waktu kuliah dulu, ada diskusi bahwa pendidikan tinggi tidak berkontribusi signifikan menurunkan angka pengangguran meski angka orang yang mengenyam pendidikan tinggi naik.
Sebagian orang juga udah memulai homeschooling sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, karena saya cukup konservatif kali ya, saya ngga pernah anggap itu alternatif yang serius untuk pendidikan.
Tapi, kali ini, kombinasi dari pengalaman saya selama berkarir dan insight dari buku ini membuat saya akhirnya mau bangun dan serius memikirkannya, paling engga untuk saya dan keluarga saya.
Untuk memberikan konteks yang lebih jelas, begini.
Di industri saya, tech startup, kita semakin ngga peduli dengan latar belakang pendidikan formal kandidat (kebetulan saya udah 6 tahun berurusan dengan hiring orang, jadi saya yakin dengan observasi ini). Banyak software engineer yang di atas kertas “cuma” lulusan SMK, tapi bisa mengimbangi bahkan outperform yang lulusan S1 ilmu komputer--misalnya. Ini riil. Makanya coding bootcamp semakin menjamur.
Kalau kita berorientasi pada hasil, kuliah S1 yang bisa makan waktu 3,5 sampai 6 tahun dan berbiaya puluhan-ratusan juta bisa dicapai dengan bootcamp 3-12 bulan dengan biaya belasan juta hingga “gratis” (bayar setelah lulus dan dapat pekerjaan).
Ini ngga cuma terjadi dalam konteks software engineer, tapi juga bidang spesifik lainnya, seperti data science, design, research, product management, dan bisnis.
Apa Masalah Pendidikan Formal?
Kata buku ini, masalahnya adalah pada “transfer of learning”, yaitu kemampuan mengaplikasikan informasi, strategi, keterampilan yang kita pelajari dalam konteks yang berbeda.
Seringkali pelajaran dalam pendidikan formal tidak berhasil membawa konteks-konteks dalam kehidupan nyata yang kompleks, kaya, dinamis.
Ada penelitian dari Howard Gardner dalam bukunya Unschooled Mind, yang kesimpulannya adalah para mahasiswa yang menerima nilai bagus pada pelajaran fisika seringkali tidak mampu menjawab pertanyaan mendasar yang dimodifikasi dari apa yang telah diajarkan.
Atau contoh lain yang saya yakin banyak yang ngalamin, di kelas Bahasa Inggris kita diajarin grammar dan vocabulary. Pas ujian nilainya oke. Udah pede tuh, berasa jago. Tapi, saat ketemu asing beneran dan harus berbahasa Inggris, bisa nggak kita berkomunikasi sama dia?
Apa Sarannya?
Ada beberapa strategi yang direkomendasikan sama buku ini, salah satunya adalah direct learning, di mana kita langsung terjun ke situasi di mana keterampilan itu akan digunakan.
Contoh yang paling mudah adalah belajar bahasa. Daripada sibuk bolak-balik baca buku tentang gramatika, mending kamu bikin komunitas di mana semuanya wajib ngomong pakai bahasa tersebut. Atau, lebih baik lagi, langsung berkomunikasi dengan native speaker-nya.
Contoh lain, kalau mau belajar ngoding website, daripada belajar HTML dan CSS secara terpisah dan masing-masing berdiri sendiri (terpisah dari konteks kebutuhan kita), mending kamu bikin proyek website di mana kamu terpaksa harus menggunakan HTML dan CSS sesuai dengan situasi di mana kamu membutuhkannya.
Ada juga strategi metalearning, di mana kita melakukan pemetaan bagaimana suatu keterampilan terstruktur dan gimana cara terbaik mempelajarinya. Singkatnya, mempelajari gimana caranya untuk mempelajari sesuatu.
Contoh yang saya sendiri praktekkin setiap saya mau menaikkan “level” diri saya sendiri di pekerjaan, saya pelajari job description level yang lebih tinggi dari saya dari berbagai perusahaan besar di Indonesia dan dunia. Saya sintesiskan, lalu saya petakan gimana caranya saya bisa deliver job description itu dan langsung saya praktekkin dalam pekerjaan saya (simpelnya). And it works!
Mungkin, hari ini, belum semua bidang ilmu/keterampilan bisa diperlakukan seperti ini, misalnya bidang dengan resiko tinggi seperti kedokteran atau penerbangan. Tapi kalau kamu ngga di bidang yang beresiko tinggi seperti itu, berbahagialah karena internet menyajikan kesempatan untuk belajar apapun.
Jadi, Apakah Kamu Harus Sekolah Lagi?
Sebagaimana jawaban untuk banyak urusan hidup: tergantung.
Kamu mau mencapai apa dengan sekolah lagi?
Bagaimana sekolah lagi mengantarkan kamu semakin dekat dengan apa yang penting bagi hidup kamu?
(Dan anyway, apa yang sungguh-sungguh penting bagi hidup kamu? Sebaiknya udah bisa jawab ini dengan mantap)
Tentu saja, bisa jadi sekolah lagi relevan untuk kamu dan mengantarkan kamu ke tujuan kamu--apapun itu.
Yang ditawarkan oleh buku ini adalah semacam argumen bahwa kalau yang kamu cari adalah penguasaan atas suatu keterampilan atau ilmu, ada rute lain yang lebih efektif dan efisien daripada pendidikan formal.
Pengen bikin bisnis? Kita bisa belajar dengan cara bikin bisnis alih-alih ambil MBA. Pengen jadi programmer? Kita bisa belajar dengan mulai bikin software alih-alih mikirin untuk kuliah ilmu komputer.
Tentu, belajarnya dengan prinsip, strategi, dan taktik yang tepat, seperti yang ditawarkan oleh buku ini.
* * *
Ps: intisari versi lengkapnya akan tampil di Esensify setelah segala infrakstruktur dan kontennya memadai.
si.buk (adj)