Matinya Kepakaran?
Seantero bumi sedang gempar dan dilanda kecemasan. Serbuan dari entitas mikro yang menjadi musuh tak terlihat berhasil menyerang diam-diam jutaan manusia. Parahnya, entitas ini selain menyerang, turut menumpang dalam tubuh targetnya serta aktivitas yang dilakukannya sehingga menyebabkan populasinya semakin meluas dan tersebar. Istilah "Kami ada, nyata, dan berlipat ganda" barangkali telah berganti dari sekadar chant supporter atau istilah keren-kerenan semata, menjadi ‘motto resmi’ pergerakan Covid-19.
Sayang, ditengah pandemi yang seharusnya tiap orang saling bantu & meringankan beban, kabar-kabar hoax tetap saja bermunculan, yang mana menganggu bahkan bisa meresahkan. Dari hoax yang masih mungkin masuk akal, sampai yang benar-benar tidak masuk akal seperti Donald Trump yang sedang diruqyah karena stres menghadapi Covid-19.
Sumber: katadata
Mungkin sebagian besar masih cukup bisa berpikir sehat dalam menyortir informasi yang ada, jika momennya berkaitan dengan hal lain. Politik misalnya, layaknya Pilpres kemarin. Karena momennya jelas: untuk kontestasi politik. Antar pihak yang berseteru masih masuk akal untuk bisa saja saling menyewa buzzer agar bisa menjatuhkan lawan, atau dari simpatisan yang bisa jadi sebagai upaya membela pihaknya dengan militan. Namun jika kasusnya seperti ini, jelas tidak habis pikir mengapa masih ada manusia yang tidak punya hati menebar berita bohong, ditengah krisis yang menjangkiti seantero dunia.
Cukup kompleks memang jika ‘why-matter’ penyebaran hoax selalu ada ditelusuri lebih jauh, mulai dari kebutuhan mendapat pengakuan lebih, hal iseng yang disebarluaskan, upaya monetisasi, mendapat kepuasan tersendiri karena berhasil membohongi publik, atau lain sebagainya. Yang jelas, mudahnya penyebaran hoax adalah buah dari kebebasan bicara di era digital, meskipun negatif.
Baru baru ini, sejumlah masyarakat di beberapa daerah melarang jenazah Covid-19 untuk dikebumikan, bahkan sampai melempari petugas kesehatan yang datang agar tidak coba-coba berani menguburkan jenazah di daerahnya. Sebuah ketakutan berlebihan dan tindakan yang merugikan orang lain. Karena sebelumnya, para pakar kesehatan sudah menjelaskan panjang lebar bahwa jenazah yang wafat akibat penyakit tersebut akan aman dan tidak menularkan apapun, selama penanganannya sesuai prosedur. Belum meratanya informasi yang kredibel, rendahnya taraf literasi, serta kesalahan logika yang masih banyak terjadi menjadi penyebabnya, barangkali.
Menyinggung kebebasan bicara di era digital dan ‘melemahnya’ otoritas para pakar untuk didengarkan, mengantarkan kita pada wacana yang cukup populer belakangan ini: Matinya Kepakaran.
Era digital terutama lewat keberadaan medsos, membawa perubahan cara berinteraksi maupun kebebasan mengungkapkan pendapat. Sebelum era medsos, orang-orang memiliki ruang yang lebih terbatas untuk berinteraksi maupun ruang untuk mengungkapkan pendapat. Hari ini, lewat konektivitas di dunia maya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk ‘berbicara’, untuk lebih didengar dan lebih diperhatikan seluruh dunia. Tanpa memandang ia seorang pakar, influencer, maupun pengangguran sekalipun.
Karena kebebasannya, internet dan identitas maya seakan-akan membuat semua bisa fasih menggurui tanpa harus menjadi guru, semua bisa menjadi dokter tanpa perlu bertahun-tahun kuliah kedokteran, semua bisa merasa lebih berilmu dari ulama yang ahli dalam agama. Semua bisa merasa lebih tahu dari para pakar yang kompeten di bidangnya.
Hal ini membuat sebagian orang merasa risau terhadap keadaan masyarakat yang kian hari dirasa makin tenggelam dalam gejala melemahnya otoritas kepakaran. Tom Nichols salah satunya. Dalam bukunya The Death of Expertise (versi bahasa Indonesia: Matinya Kepakaran) yang barangkali sedang cukup trending, beliau menuliskan fakta, indikasi, maupun opini bahwa semakin hari masyarakat dunia cenderung semakin bergerak menuju ‘kebebasan yang kurang terkontrol’. Kebebasan berbicara terlebih di era digital, serta peran internet menurutnya menjadi salah satu penyebab yang hari ini menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.
Betapa tidak, karena kebebasan ini banyak dan terus bermunculan berita-berita hoax, sebagian orang menjadi kurang memperhatikan lebih baik kata-katanya sebelum ‘diucapkan’ ke laman maya, dan yang terpenting: orang-orang seakan kapabel untuk membentuk opini apa saja, mengambil peran apa saja, bahkan menyangkal informasi yang valid dan menyebarkan opini lain, padahal ia tidak paham betul apalagi ahli pada bidang tersebut.
Dengan informasi berlimpah di internet yang tinggal klak-klik untuk mengaksesnya, mengapa justru malah muncul banyak orang yang denial dan memilki pandangan keliru layaknya kutipan buku di atas, atau hal lain seperti bumi itu datar, atau bahwa vaksin berbahaya bagi kesehatan? Internet yang sekilas memberi pencerahan lebih baik, ternyata punya sisi buruk. Internet memberi jalan dan bahkan memperkuat kekurangan umat manusia. Nichols menganalogikan internet dengan Hukum Sturgeon:
"90 persen dari semua hal (di dunia maya), adalah sampah."
“Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok.” [1]
Jika melihat satu sisi tanpa menelaah lebih dalam, barangkali hampir semua orang akan menganggukkan kepalanya perlahan, menyetujui. Karena saking bebasnya bagi orang-orang untuk tweet, komentar, atau posting tentang apapun, kadang-kadang kita sampai dibuat gusar dan tidak nyaman terhadap keadaan demikian. Wajar, sebagian besar orang termasuk saya pun terkadang demikian, Bung Fiersa juga, hehe.
Kasarnya: “Kalo kaga tau ya diem, jangan banyak bacot.”
Di sisi lain, banyak juga yang mengkritisi dan tidak setuju dengan pandangan pertama. Karena bagaimanapun, opini pasti berbeda-beda dan dimiliki oleh setiap orang dan kebebasan menuangkannya dijamin hak asasi serta undang-undang. Dengan internet dan medsos, nilai-nilai demokrasi bisa lebih diterapkan karena masyarakat lebih mendapatkan haknya untuk didengar dan bersuara. Sehingga media publik tidak terbatas hanya ‘dimiliki’ terbatas oleh kalangan yang memiliki akses, namun milik bersama. Menyalahkan medsos dan internet sebagai biang kebodohan publik & melemahnya otoritas para pakar dianggap jauh dari kata relevan, bahkan dinilai sebagai sentimen elitis.
Sekarang, akses untuk meraih keterbacaan pada skala luas bukan hanya monopoli para ‘oligarki pengetahuan’. Seorang tukang ojek bisa. Seorang ibu rumah tangga bisa. Seorang pedagang sambel bisa. Caranya, mereka menciptakan media mereka sendiri, yaitu melalui akun di media sosial. Iklim yang lebih anti-hierarki seperti ini tak ayal berpengaruh juga ke media-media konvensional. Mereka tidak mau terikat pada cara pandang lawas yang hanya memberikan akses hak bersuara kepada segelintir orang. Walhasil, apa yang muncul di media sosial dan tulisan-tulisan yang nongol di media konvensional tak lagi tampak terlalu berbeda. Maka, muncullah apa yang disebut sebagai “orang tanpa latar keahlian tapi bisa bicara macam-macam". [2]
Esais, Iqbal Aji Daryono menganalogikan internet dan media sosial layaknya warung kopi. Disana, semua orang bisa mengobrolkan apapun dari gosip perselingkuhan tetangga, hingga masalah isu-isu politik. Semuanya bebas-bebas saja, karena toh tidak ada peraturan yang menyatakan “Mohon Pengunjung Tidak Berbicara di Luar Bidang Keahliannya".
Lantas, siapa yang paling didengarkan di warung kopi? Tentu saja orang yang paling pintar bicara. Seseorang yang memiliki kepintaran setinggi Monas, tapi kebanyakan diam, menghabiskan waktu dengan ngemil bakwan, dan sekalinya ngobrol sulit dipahami orang-orang, jangan protes jika suaranya kurang didengar.
Internet dan media sosial pun persis demikian. Di medsos, kita sama-sama warga biasa yang bebas bicara apa saja. Mulai pamer makan apa dan dimana, malam tadi pakai skin care apa, hingga membicarakan pasal-pasal dalam RUU yang bermasalah, semua bisa. Membatasi hak bersuara hanya sebatas dalam bidang keahlian masing-masing, justru bisa menjadi represi terhadap hak bersuara dan hak asasi. Lalu, siapa yang paling didengarkan di media sosial? Tentu saja sama persis aturan mainnya dengan warung kopi: siapa saja yang paling pintar berbicara!
Jangan sampai dilupakan bahwa ada kata "sosial" pada istilah media sosial, sehingga mekanisme-mekanisme yang berjalan di sana pun berkarakter sosial. Saya rasa, penganalogian media sosial dengan warung kopi oleh Mas Iqbal tersebut adalah yang paling relevan sekaligus paling simpel.
Selain itu pangkal masalah lain adalah, yang pakar dan awam terkadang sulit menjalin komunikasi efektif dan sulit memahami satu sama lain. Karena mereka semua adalah manusia, yang rentan berbuat salah. Yang merasa pakar kadang terjerumus pada pola pikir yang terlalu ‘melangit’ dan bicara dengan bahasa yang susah dimengerti khalayak, sementara yang merasa awam terkadang bersikap masa bodo dan terlalu nyaman dengan pola pikir yang terlalu ‘membumi’. Juga, baik pakar maupun awam bisa terjebak dalam perangkap yang sama; hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar dan mengingkari fakta dari hal yang mereka tidak sukai. [3]
Agaknya diantara dua pandangan diatas yang saling kontradiktif, saya paling setuju dengan sudut pandang lain. Alih-alih menjadi ‘ekstrimis’ salah satu pandangan, saya pikir sudah waktunya kita harus lebih condong ke pandangan yang jernih dan moderat diantara keduanya. Karena yang paling baik, saya rasa adalah ketika semuanya tidak enggan untuk ngumpul, rehat, dan ngopi di warung kopi tersebut untuk sama-sama ‘duduk’ bareng, saling mengobrol & mendengarkan satu sama lain.
Yang merasa pakar maupun yang merasa awam harus sama-sama duduk dan belajar. Yang merasa pakar harus coba meninggalkan kebiasaannya makan ‘bakwan Scopus-nya’ sendirian dan pergi ikut ngobrol dengan yang lain, belajar cara untuk bisa berbicara dengan bahasa yang paling egaliter yang paling bisa dimengerti semua orang, maupun belajar cara agar sukses menarik massa dan disukai banyak orang sehingga cuitannya lebih didengarkan.
Yang merasa awam harus coba meninggalkan kebiasaannya terlalu banyak bicara di berbagai ruang dengan lebih banyak duduk dan banyak menyimak, belajar untuk bisa menyaring informasi yang valid dan kredibel, belajar untuk lebih banyak membaca serta mendengar sebelum berbicara agar kicauannya lebih berbobot.
Karena kemunduran peradaban takkan terjadi selama manusianya tetap merasa haus dan tidak pernah letih, untuk selalu belajar dan memperbaiki diri sendiri.
Bandung, 120420
[1]
Gramedia, "Gramedia Blog," Desember 2018. [Online]. Available: https://www.gramedia.com/blog/review-buku-matinya-kepakaran-tom-nicholscermin-perilaku-kita-di-dunia-maya/#gref.
[2]
I. A. Daryono, "Detik," detikcom, 1 Oktober 2019. [Online]. Available: https://news.detik.com/kolom/d-4729455/omong-kosong-matinya-kepakaran. [Accessed 12 April 2020].
[3]
A. Abidin, "Kompasiana," Kompas, 10 September 2019. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/azwariainkendari4045/5d7795470d82301d0d535422/konflik-relasi-pakar-awam-ulasan-interpretatif-atas-matinya-kepakaran-oleh-tom-nichols-bagian-satu?page=all. [Accessed 12 April 2020].















