Lamanya suatu hubungan dalam berpasangan tidak menjamin pasangan tersebut sudah merasa puas dan saling mengenal serta memahami satu sama lain.
Banyak juga pasangan yang sudah lama bersama namun merasa masih belum puas dengan interaksi antar pasangan.
Mungkin masih ada yang merasa belum dimengerti sepenuhnya oleh pasangannya sendiri, sering memendam rasa kesal terhadap pasangan, dan lain sebagainya..
Penyebab dari itu semua mungkin karena pasangan tersebut sebenarnya memiliki BAHASA CINTA yang berbeda, sehingga saat berinteraksi atau berkomunikasi penyampaiannya kurang nyambung satu sama lain.
Apa itu BAHASA CINTA?
Konsep BAHASA CINTA atau love language sendiri dikenalkan oleh Dr. Gary Chapman.
Gary mengungkapkan bahwa BAHASA CINTA atau love language adalah cara bagi seseorang untuk mengekspresikan rasa sayang kepada orang lain.
BAHASA CINTA sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi hubungan romantis saja, melainkan juga dapat diaplikasikan ke berbagai jenis hubungan lainnya seperti hubungan keluarga atau pertemanan.
BAHASA CINTA setiap orang bisa berbeda-beda.
Dr. Gary Chapman sendiri membagi BAHASA CINTA atau love language menjadi lima jenis.
Berikut merupakan lima jenis BAHASA CINTA menurut Dr. Gary Chapman:
1. Words of Affirmation
Bahasa cinta ini untuk orang-orang yang senang mendengar kalimat-kalimat positif seperti pujian, apresiasi, atau kalimat yang mengekspresikan rasa sayang.
Kalimat tersebut menjadi dasar keyakinan bahwa pasangan kita benar-benar mencintai diri kita.
Contoh kata-kata yang penuh kasih sayang dan menggambarkan apresiasi:
"I love you", "Terima kasih banyak ya sudah menjadi suami / istri yang baik selama ini", dan lain sebagainya.
Contoh kata-kata di atas merupakan kalimat yang paling ditunggu bagi kita yang memiliki BAHASA CINTA words of affirmation.
Dengan mendengar kata-kata tersebut, seseorang dapat merasa dihargai dan diapresiasi atas usaha mereka sehingga muncul rasa puas terhadap pasangan.
2. Quality Time
Quality time adalah BAHASA CINTA bagi orang-orang yang senang menikmati waktu bersama orang tercinta.
BAHASA CINTA satu ini fokus pada kualitas waktu yang dihabiskan bersama pasangan, seperti menghabiskan waktu tanpa gadget saat pergi bersama, meluangkan waktu makan siang bersama saat jam istirahat kerja dan lain sebagainya.
Komunikasi merupakan hal yang krusial bagi orang yang memiliki BAHASA CINTA quality time.
Orang-orang dengan BAHASA CINTA ini sangat menikmati ketika bisa menghabiskan waktu berdua, baik hanya sekedar mengobrol atau beraktivitas bersama.
Bukan masalah lama atau sebentar waktunya, tetapi masalah seberapa pasangan menghargai dan menikmati momen kebersamaan yang ada.
3. Receiving Gifts
BAHASA CINTA ini menunjukkan perhatian dan kasih sayang dengan hadiah. Hadiah yang dimaksud tidak perlu mahal, asal memiliki makna.
Contoh: membelikan makanan kesukaan pasangan, membelikan jaket saat memang dibutuhkan, dan lain sebagainya.
4. Acts of Service
Bagi mereka yang memiliki BAHASA CINTA ini, mengumbar kata-kata ekspresi rasa sayang menjadi tidak terlalu berarti.
Orang-orang dengan BAHASA CINTA acts of service lebih banyak mengekspresikan melalui tindakan dibandingkan hanya sekedar melalui kata-kata.
Yang terpenting adalah bagaimana mereka memperlakukan pasangan mereka, mulai dari hal kecil hingga hal besar.
Kata kunci dari BAHASA CINTA ini adalah memberikan pelayanan pada pasangan, seperti misalnya mengantar jemput pasangan untuk memastikan pasangan selamat sampai tujuan, membantu membenarkan barang yang rusak, menyiapkan kopi atau secangkir teh hangat di pagi hari, dan lain sebagainya.
5. Physical Touch
Sentuhan fisik merupakan bentuk afeksi dari orang-orang dengan BAHASA CINTA physical touch.
Orang-orang dengan BAHASA CINTA ini menunjukkan kepeduliannya terhadap pasangan dengan mengusap rambut, membelai dan menggenggam tangan, memeluk secara tulus, dan lain sebagainya.
Setiap orang tentunya memiliki BAHASA CINTA yang berbeda-beda.
Untuk itu, penting bagi kita mengetahui apa sebenarnya BAHASA CINTA atau love language diri kita maupun pasangan kita.
Tujuannya untuk memberikan rasa nyaman serta kepuasan dalam hubungan.
Rasa nyaman dan kepuasan dapat tercapai karena masing-masing pasangan sudah mengenali BAHASA CINTA yang dimiliki, sehingga dapat menyesuaikan penyampaian BAHASA CINTA-nya kepada pasangan.
Sebagai contoh, misalnya BAHASA CINTA yang kita miliki adalah quality time, sedangkan BAHASA CINTA pasangan adalah acts of service.
Pasangan kita mungkin sudah menunjukkan sayang dengan kerap menawarkan bantuan saat dibutuhkan, namun kita masih merasa tidak puas apabila ternyata hubungan yang dijalani merupakan hubungan jarak jauh sehingga sulit untuk memiliki waktu yang berkualitas bersama.
Hal seperti ini tentu dapat memicu konflik dan ketidakpuasan, yang pada akhirnya dapat memperburuk suatu hubungan.
Oleh karena itu, dengan mengenali BAHASA CINTA diri sendiri dan pasangan, harapannya kita dapat mengekspresikan cinta dan kasih sayang kepada pasangan dengan cara yang lebih tepat sasaran.
Selamat merawat suatu hubungan yang sudah ada dengan berusaha memahami BAHASA CINTA.
Ada bahasa cinta meski terlihat sangat dingin, namun sebenarnya diam-diam memperhatikan.
Meski sedang berjarak, namun saling terjaga.
Ada raga yang tak bisa disentuh, wajah yang tak bisa bertatap, kata yang tak bisa terucap. Namun ada doa-doa baik yang ditujukan.
Tapi jangan bersedih, kepemilikan segala yang ada di semesta ini sekiranya memang untuk tidak terus dimiliki. Ia akan perpulang. Ia akan kembali pada yang semestinya.
Pada kita yang kini tengah berjauhan, barangkali sudah sepatutnya mengirimi doa-doa baik teruntuk orang tersayang. Segala ketetapan yang Tuhan beri adalah baik adanya.
Atau barangkali pada kita yang sedang berjarak karena beda prinsip, beda tujuan, semoga segala rindu bermuara pada semestinya. Rindu mu akan sampai.
Mungkin, ada hal yang tidak terlalu disesali saat menjadi dewasa. Terutama dalam masalah romansa.
Topik apa lagi yang mudah diceritakan selain tentang percintaan? Yang tidak perlu pikir panjang, mungkin mencurahkan isi hati, atau tangan yang tergerak otomatis karena selalu ada cerita manusia yang berbeda dan tidak biasa.
Ketika menjadi dewasa, tidak ada rasa yang perlu ditutupi. Nyatakan saja. Toh, sudah terlalu jelas tanda-tandanya. Bedanya, akankah mereka berdua bersama? Bukannya karena tidak saling suka, sesederhana, karena timeline hidup yang tidak sama.
Miris bukan?
Padahal, tidak lagi ada yang perlu ditanya. Toh, apa yang diinginkan sudah ada pada dirinya. Apa yang dilakukan dan dipikirkan sudah tertuju pada orang yang sama.
Maka, semua kisah tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan akan selalu berputar-putar hingga pada satu ujungnya. Pernikahan.
Sebelum itu, rasanya sulit untuk menerka-nerka apa maksudnya, tetap terbatas akan pengorbanan maupun kasih sayang, bahkan sering dihantui rasa bersalah. Entah dari agama maupun norma sekitarnya.
Namun, rasa itu selalu menjadi misteri. Antara percaya dan tidak, apakah bisa merasakan sesuatu yang dikatakan “cinta”. Jika terlalu jauh, maka standar “suka”, pun, lebih dari cukup.
Sampai, di satu titik, di satu moment, kepada seseorang laki-laki yang ia selalu memiliki ingatan pendek padanya. Tidak pernah “melihat” bahkan kadang tak sadar akan keberadaannya. Ia akhirnya merasakan hal yang berbeda.
Ia kemudian menertawakannya. Awalnya ini bercanda. Berawal dari permainan kata teman-teman yang memasang-masangkan dirinya dan laki-laki tersebut. Namun, lama-kelamaan rasa ini menjadi nyata.
Kesal rasanya. Tapi, apa mau dikata? Pernah merasa tidak suka ketika memiliki rasa suka? Ya. Begitulah kata² yang tepat.
Laki-laki ini sederhana. Tak banyak bicara. Namun, bahasa cinta mereka sama.
Mungkin, bahasa cinta tidak begitu terasa dampaknya. Tapi, layaknya kisah web series ala², sutradara tak kasat mata seperti menyatukan mereka. Atau memang karena rasa ingin dekat satu sama lain selalu ada.
Bisa jadi, hanya si perempuan yang merasa bahwa perhatian kecil tertuju padanya, beberapa pandangan tak sengaja terasa, dan cerita detil tentangnya terucap dengan mudah dari bibir yang bahkan tak sanggup ia tatap lama-lama.
Entah ada maksud si laki-laki untuk suka dan mendekati ataupun tidak. Pelaku utamanya adalah satu teman mereka yang memulai, lalu berakhir menjadi hiburan tongkorongan tiap kali ada kesempatan mereka bertatap muka.
Karena, membutuhkan energi lebih untuk mengelak skenario teman-teman yang telah dibuat sedemikian rupa. Si perempuan dan si laki² ini, berusaha menerima dengan lapang dada. Walaupun kebanyakan kata² tersebut di luar kamus mereka berdua. Spontanitas tidak menghalangi kekompakan teman² mereka. "Ceng²an" yang dilemparkan selalu mampu membuat si laki² salah tingkah dan juga membuat pipi si perempuan layaknya udang rebus.
"Za, za," si pelaku utama dari munculnya "ceng²an" ini sengaja membuat Maza menyimak kata² selanjutnya, "ini Sajad mau sama kamu, nih." Jelas. ini bukan pernyataan murni dari Sajad. Bahkan, Sajad terkejut akan apa yang Dita katakan barusan.
Maza yang baru saja ingin beranjakpun mengurungkan diri sekali lagi, tertarik akan apa jawaban Sajad selanjutnya, "Gue masih lama ..."
Maza paham apa yang dimaksud Sajad. Jangan tanya bagaimana tingkat kepahaman Dita.
"Tuh, tuh ... Gimana, Za? Lo mau nungguin Sajad, ngga?" Tanpa jeda sedetikpun. Sekarang, Dita persis seperti mak comblang profesional dadakan.
Maza dengan segudang pengalaman percintaannya dahulupun, spontan menjawab, "Yah ... Boleh, lah ... gue pertimbagin." Dengan nada setengah bercanda sambil melengos pergi.
Rasanya ingin menolak, namun khawatir kualat. Jodoh tidak ada yang tahu datang dari arah mana. Tapi, kalau mengiyakan, rasanya itu bukan sebuah pertanyaan murni, karena masih dibumbui hiburan dan ceng-ceng-an. Jadi, Maza rasa itu jawaban yang cukup bijak.
Walaupun yang menjadi biang keladinya adalah Dita, teman tongkrongan mereka yang lain juga tidak ingin kalah dalam memainkan peran "kompor" ini.
Pernah suatu ketika Sajad dipanggil Riko, salah satu anggota tongkrongan mereka.
“Jad, ini Maza suka sama lo!” Fitnah Riko. Yah, mungkin setengah fitnah. Karena, bisa jadi setengahnya benar.
Sajad membalas, “Kamu terlalu baik untukku, Za.”
Maza yang tidak mau kalah menimpali, “Ah, jawaban kayak gitu, biasanya jawaban penolakan, tuh. Iya, ngga, Ko?” Riko mengangguk kencang.
Maza puas. Ia lihat Sajad kalah telak dalam permainan ini.
Prinsip yang Maza dapatkan baru-baru ini adalah: Ketika dibully atau dijadikan bahan ceng-ceng-an. Daripada energi dialokasikan untuk mengelak-yang sudah pasti akan kalah karena melawan sejuta anak tongkrongan lebih baik ikut menjadikan dirinya sendiri juga objek.
Seseorang tidak akan menderita jika ia tidak menganggap diri nya menderita.
Pengalaman “dipasang-pasangkan” secara paksa ini bukan kali pertamanya dirasakan Maza dan Sajad. Yah, Sajad dengan “pasangan”nya dulu, begitu pula dengan Maza. Namun, kali ini rasanya seperti terlalu memungkinkan untuk mereka bersama. Bisa jadi, hanya satu musuhnya: waktu masing-masing yang berbeda.
Mungkin, rasa yang Maza rasakan pun tidak seyakin itu. Karena, jika diukur dari segi agama-parameter utama Maza dalam memandang kaum adam-Sajad mungkin tidak begitu kaku dalam pelaksanaan agamanya. Kadang, terkesan agak longgar, bahkan terlalu longgar.
Tapi, Maza “berkaca”, ia juga masih tidak begitu baik. Kalau boleh ia nilai sendiri, kepemahaman agama mereka berdua masih dalam satu server yang sama.
Yang membuatnya kadang tidak habis pikir akan “ulah” Sajad: Terlalu peka dan memiliki cara sendiri agar Maza selalu terlindungi. Baik secara fisik maupun kata-kata. Kepakaannya pun tidak berlebihan yang menjadikannya mudah terbawa perasaan alias baperan dan posesif
Mereka tahu bahwa permainan pasang-pasangan ini tidak hanya peran dari teman-teman mereka saja. Kadang, Maza dengan sadar sengaja memasang-masangkan mereka. Tapi, Sajad selalu berhasil mendapatkan saat yang tepat untuk menerima, menolak halus, kadang menolak secara spontan, tetapi teman-temannya tahu bahwa sebenarnya ia menerima, bahkan Sajad pernah membalasnya dengan kata-kata puitis yang sanggup membuat Maza meleleh. Walaupun, Maza tahu itu hanya untuk hiburan di depan teman-temannya. Tapi, ia kadang mempercayai bahwa kata² itu juga tulus dari hati Sajad.
Maza tidak tahu atau tidak berniat ingin tahu akan kebenaran "permainan" yang di awali Dita. Sampai, apa yang menggerakkan Dita hingga idenya kali ini pun jatuh untuk bertanya pada Sajad, “Coy, menurut lu, Maza potensial untuk lu sukain, ngga?”
“Potensial.” jawab Sajad jujur. Tanpa embel². Rasanya itu adalah jawaban yang ingin ia keluarkan dari dadanya.
Tidak berhenti di situ, Dita langsung menanyakan Maza di tempat yang sama, di depan Sajad pula.
Awkward moment tidak dapat dihindari ketika Maza menjawab dengan jawaban jujur yang sama. Detak jantung dan frekuensi pernapasan Maza pun berlomba-lomba mendapatkan gelar "siapa cepat". Tubuhnya mulai merasakan sensasi tidak nyaman namun lubuk hatinya merasakan kehangatan yang selalu Maza sukai. Merasa disayangi dan dicintai.
Hormon endorfin mengalir di pembuluh darah mereka berdua. Sebuah pernyataan sederhana yang memberi tanda bahwa candaan dan hiburan ini memiliki arti lebih dari sekedar “ceng-cengan” belaka.
Entah siapa yang memiliki rasa “itu” pertama, tapi,mereka berdua tahu bahwa rasa itu terbalaskan.
Bagaimana tidak? Siapa perempuan yang sanggup menahan perasaan ketika selalu diperlakukan istimewa? Mulai dari mengingat apa yang disukai Maza, hafal di luar kepala apa keseharian yang Maza, sampai berhasil membuat Maza menceritakan kisah kelamnya. Semua sukses Sajad lakukan dalam kurun waktu yang tidak lama.
Belum lagi ketika bahasa cinta mereka berbicara. Tiba-tiba Sajad berada di dekatnya. Menyenggol Maza dengan benda apapun di sekelilingnya. Bahkan menutupi muka Maza dengan jaket Sajad sendiri. Aroma tubuh bercampur parfum khas Sajad, sukses memasuki memori limbik Maza.
Ketika teman tongkrongan mereka menonton bersama, entah kenapa mereka selalu bersebelahan. Yang semakin membuat Maza kagum adalah Sajad tidak pernah menyentuhnya walaupun bahasa cinta mereka sama. Sentuhan.
Kadang, secara tidak sengaja, mereka bersentuhan langsung. Seperti saat Maza pernah secara tidak sengaja menabrak dada bidang Sajad. Ingin rasanya Maza mengecam dirinya sendiri, tetapi malu mengakui bahwa hal tersebut bisa jadi sesuatu yang ia syukuri.
Atau, saat mereka tidak sengaja berada di posisi depan dan belakang saat berjalan menyusuri gelapnya malam paska acara bersama anak tongkrongan, Sajad selalu meminta Maza mengulurkan benda yang ada dalam jangkauannya. Entah tas, payung, agar Sajad tetap bisa melindungi dan menggenggam Maza, walaupun secara tidak langsung. Bagi Sajad, kulit Maza terlalu berharga apabila tersentuh olehnya.
Memang, rasanya selalu ada magnet di dekat Maza, sehingga apa yang kebanyakan Sajad lakukan saat berkumpul dengan anak tongkrongan adalah: menggoda Maza, mengisenginya, mengobrol ngalor ngidur bersamanya, meminjam HPnya, hingga bisa mengkorek-korek isinya.
Maza pun tidak mau kalah, sadar tidak sadar, Sajad adalah orang yang selalu ia cari pertama, Maza selalu kagum pada perhatian-perhatian kecil yang diberikan Sajad padanya. Di saat teman-teman yang lain tidak menyadarinya.
Maza juga selalu merasa Sajad menyayangi dan melindunginya. Sesederhana ketika mereka menyusuri jalan dan ada kendaraan yang kan lewat-bahkan jaraknya tidak terlalu dekat-Sajad refleks menarik tas selempang Maza, mencegah agar Maza baik-baik saja.
Maza kembali mengonfirmasi rasa yang ada padanya. Karena, ia berhasil merasakan cemburu. Cemburu yang sederhana. Ketika Sajad dekat dengan Dita di suatu kondisi. Tidak. Tidak setiap saat kecemburuan itu muncul. Entah kenapa saat itu suasananya mendukung untuk melahirkan rasa cemburu yang berharga dari diri Maza.
Pertanyaannya, mau sampai kapan? Walaupun masih belia, orang tua Maza sudah memiliki banyak calon untuk disadingkan dengannya di pelaminan. Namun, Maza tidak terlalu tertarik dengan tawaran orang tuanya. Sedangkan Sajad? Ia merasa belum bisa bertanggung jawab penuh sebagai kepala keluarga.
Walaupun mereka sudah tahu, ketika orang tua Maza sudah sampai pada titik nadir menyegerakan pernikahan dan Sajad masih belum bisa mengambil langkah yang jauh, mereka tidak akan lagi bisa saling berbagi rasa.
Walaupun mereka juga sudah tahu, hubungan mereka yang berada dalam “komedi putar” ini lama-kelamaan akan mencelakai diri sendiri dan pasangan mereka.
Memori yang terlalu melekat antara Maza dan Sajad bisa jadi akan mengalahkan memori yang seharusnya dibangun bersama pasangan masing-masing kelak.
Pasangan mereka akan merasa tersakiti apabila memori lama itu masih muncul. Apalagi jika sampai mempengaruhi dan berdampak besar kepada kehidupan mereka sendiri.
“Andaikan kita ditemukan di waktu yang tepat, mungkin kita bisa bersama sekarang.”
(Sumber gambar https://unsplash.com/@angelokarabo053)
Cinta adalah kebutuhan dasar dari setiap orang yang ada di dunia. Perasaan cinta akan ditampung dalam wadah bernama tangki cinta. Tidak ada ukuran yang pasti untuk menjelaskan seberapa besarnya tangki cinta. Satu individu memiliki tangki cinta yang berbeda dengan individu yang lain.
Lalu bagaimana caranya mengisi tangki cinta? Gary Chapman seorang konselor pernikahan mengajarkan tentang bahasa cinta, yaitu cara seseorang mengekspresikan perasaan cintanya kepada orang lain. Sebagaimana tangki cinta, bahasa cinta setiap orang juga berbeda. Secara umum, terdapat lima bahasa cinta yang sering digunakan oleh manusia, ke lima bahasa tersebut meliputi
Pujian dan kata-kata yang positif
Waktu yang berkualitas
Pemberian Hadiah
Menerima bantuan
Sentuhan fisik
Seseorang biasanya memiliki satu hingga dua bahasa cinta dalam hidupnya. Kemampuan memahami bahasa cinta sangatlah penting. Saat kita tidak mampu mengerti bahasa cinta yang diinginkan seseorang atau bahkan yang kita inginkan, maka tangki cinta tidak akan terisi maksimal. Padahal cinta adalah kebutuhan dasar bagi setiap orang.
Bahasa cinta ibarat isinya, sementara tangki cinta adalah wadahnya. Setiap orang punya wadah yang kapasitasnya berbeda, selain itu mereka ingin mengisi wadah ini dengan sesuatu yang berbeda pula. Ada yang wadahnya ingin diisi dengan hadiah, ada yang wadahnya hanya diisi dengan kalimat penyemangat ada juga yang ingin wadahnya berisi waktu yang berkualitas.
Pertanyaannya, isi apa yang diinginkannya seseorang dari kita?
Cara termudah untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan terlebih dahulu mengetahui apa yang kita inginkan dari diri kita. Isi apa yang kamu inginkan untuk memenuhi tangki cinta mu ?
Ibaratnya kamu punya sebuah gelas yang sangat ingin sekali kamu isi. Tapi kamu tidak tahu ingin mengisinya dengan apa, sehingga kamu memutuskan meminta bantuan orang lain untuk mengisi gelasmu.
Orang A datang dan mengisinya dengan teh hangat, namun kamu merasa tidak menyukai teh hangat. Itu membuatmu semakin gerah saat cuaca seedang panas-panasnya. Padahal menurutnya, teh hangat bisa meredakan kekhawatiran mu. Kamu kecewa dan akhirnyamemilih menyalahkan orang tersebut.
Setelah itu datang orang B yang mengisi gelasmu dengan susu dingin. Sekali lagi kamu merasa jengkel, memang cairan itu dingin, tapi minum susu di siang hari bukanlah hal yang pantas bagimu. Sekali lagi kamu merasa tersakiti dan memilih pergi.
Nah kalau sudah seperti itu, jangankan mengisi gelas miliki orang lain, yang ada justru memecahkan gelas mereka. Itulah pentingnya mengetahui isi apa yang kamu inginkan untuk gelasmu.
Seseorang yang sudah memahami dengan apa gelasnya harus diisi akan berusaha mengisinya sendiri tanpa memohon orang lain untuk memenuhinya.
Seandainya dia menginginkan jus jeruk, maka dengan segenap usahanya dia akan berusaha mencari jeruk kemudian memerasnya dan mengisikan ke dalam gelasnya atau entah bagaimana dia akan berusaha mendapatkan jus jeruk dengan kekuatannya sendiri.
Saat orang lain datang dan memberinya jus jeruk, dia akan sangat bersyukur karena ada yang membantu mengisi gelasnya. Sementara saat orang lain yang datang ternyata tidak memberikan jus jeruk seperti yang diinginkannya, maka dia tidak akan kecewa karena dirinya sendiri sudah memiliki jus jeruk dari kerja kerasnya.
Orang yang paham bahasa cinta dirinya sendiri, akan lebih mudah untuk memenuhi tangki cinta mereka. Tangki cinta yang dipenuhi oleh usaha mencintai diri sendiri dapat melatih seseorang untuk tidak menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain. Selain itu, kebahagiaan yang mereka miliki tidak mudah hilang karena pengaruh lingkungan di sekitarnya.
Nah sampai disini, kira-kira sudah tahu belum apa sih yang mau kamu tuangkan ke dalam gelasmu? Sudah cukup beranikah kamu memperjuangkannya?
Tanda diri masih harus terus belajar.. membarengi ilmu dengan akhlak, sebab keduanya bagai burung yang memiliki dua sayap, hilang satu maka takkan mampu dia berkepak tegap. Selayaknya hud-hud, berendah dirilah dalam menyampaikan pesan-pesan kebenaran. --Ukhtukum Avilia Fillah
“Ahlu Sunnah,” Ujar Ustadz Muhammad Nuzul Zikry Hafizhahullah, “harus banyak belajar ngomong, yang tidak asbun, asal bunyi saja.” Beliau menutupnya dengan tersenyum.
Betapa, jauh-jauh hari Rasulullah ﷺ telah mengajarkannya kepada kita, dialah sebaik-baik uswah, setinggi-tingginya qudwah. Yang siapa mampu mengelaknya, jika pujian itu adalah pujian yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam firman-Nya, dalam surat al-Ahzab ayat 21 “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Adalah, saat itu beliau ﷺ menunjuk Dihyah ibn Khalifah al-Kalbi membawa secarik kertas berisi surat yang ditujukan kepada sang Kaisar Romawi, Heraklius. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn Abbas kisah dari Abu Sufyan ibn Harb --saat masih kafir-- bahwa sebelumnya dia pernah bertemu dengan Heraklius dan menjawab beberapa pertanyaan mengenai Rasulullah ﷺ.
Sebuah pertanyaan panjang yang kesemuanya mencakup tentang kebenaran ‘apa’ yang dibawa oleh Baginda ﷺ . Dan inilah keajaibannya, bahwa dalam menjawab seluruh pertanyaan Heraklius kepada Abu Sufyan ibn Harb, --kendatipun dia adalah musuh Rasulullah-- ia menjawabnya dengan jujur tanpa berdusta sedikitpun. Padahal pada saat itu Abu Sufyan masih kafir dan memusuhi Baginda ﷺ.
Hingga termaktublah dalam kalimat Heraklius, “..dia memerintahkan kepada kalian untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, melaksanakan shalat, bersikap jujur dan menjaga kehormatan. Maka apabila itu benar, dia akan segera menguasai tempat dimana kakiku berpijak sekarang.”
“Dan aku yakin,” Dada Heraklius bergemuruh riuh, “..dia akan datang. Tapi aku tidak menyangka dia datang diantara kalian. Seandainya aku yakin bisa menjumpainya, pasti aku akan menemuinya. Dan seandainya aku berada didekatnya, aku benar-benar akan membasuh kakinya.”
Itulah ucapan dari musuh-musuhnya, betapa Rasulullah ﷺ memiliki tempat khusus di benak orang-orang yang menyelisihinya. Bahkan kepada mereka, Rasulullah ﷺ tidak menyebut dalam suratnya, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya, kepada Kafir Romawi”, melainkan “..kepada Heraklius, Kaisar Romawi.”
Maka sekarang, apabila kita masih ketus dan keras terhadap mereka yang tidak sefaham dalam masalah yang diperbolehkan terdapat perbedaan, kemanakah kita bertauladan? Jika kepada musuhnya saja, Nabi Muhammad ﷺ menggunakan bahasa-bahasa yang santun lagi bertutur lembut, apalagi jika beliau ﷺ berlaku pada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum? Kepada saudara seiman dan terlebih keluarganya?
Inilah bahasa cinta paling mulia, yang di turun-temurunkan lewat pewaris para Nabi. Yang kemuliaannya tak akan habis menyinari. Wahai hati, melembutlah.. bukan ilmu itu yang membuatmu sempit, melainkan kekerasan jiwamu. Tanda diri masih harus terus belajar, membarengi ilmu dengan akhlak, sebab keduanya bagai burung yang memiliki dua sayap, hilang satu maka takkan mampu dia berkepak tegap. Selayaknya hud-hud, berendah dirilah dalam menyampaikan pesan-pesan kebenaran.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. Lalu Syaikh Muhammad Al amin Asy Syinqithi mengatakan, “Berendah diri yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu’.” Dan dalam surat yang lain Allah berfirman, “Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mampu mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.”. Begitu tergambarkan keutamaan akhlak yang beliau sampaikan, sebagaimana “Rasulullah ﷺ menjadikan tutur kata yang baik sebagai pengganti sedekah”, Ibnu Qayyim menjelaskan, “..bagi mereka yang tidak mampu bersedekah.”
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus-shalihaat. Saksikanlah, bahwa ini bahasa cinta yang paling mulia.