Buku Yang Menemukan Tempatnya
Beberapa waktu lalu aku berkunjung ke rumah teman lama. Kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Seperti umumnya pertemuan dua orang yang sudah berkeluarga, obrolan kami tidak jauh-jauh dari membahas keluarga, pekerjaan, teman-teman lama, dan berbagai kesibukan yang semakin bertambah seiring usia.
Saat kami sedang asyik mengobrol di ruang tamu, anaknya keluar dari kamar sambil membawa beberapa buku. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan. Sampai tanpa sengaja mataku menangkap logo penerbit tempatku bekerja. Aku menoleh sekali lagi. Di rak dekat televisi ternyata ada banyak buku anak dari penerbit yang sama. Aku mengenali hampir semuanya karena pernah terlibat dalam proses pembuatannya. Sebagian pernah aku edit dan beberapa di antaranya aku yang menulisnya.
Saat temanku sibuk bermain dengan anaknya, aku berdiri mendekat ke rak itu. Salah satu buku yang kutulis sudut sampulnya sedikit tertekuk, tanda cukup sering dibuka. Ada beberapa halaman yang terlihat kusut. Di salah satu halaman aktivitas, anak itu menuliskan jawabannya dengan pensil. Aku tersenyum melihatnya. Tentu saja ini bukan pertama kalinya aku melihat buku itu dalam bentuk cetak. Aku sudah melihatnya berkali-kali di kantor, di gudang, bahkan saat pertama kali buku itu selesai dicetak.
Tapi sore itu terasa berbeda. Saat itu anak temanku sedang duduk di lantai sambil membuka buku yang sama. Ia membuka halaman demi halaman tanpa tahu siapa yang menulisnya. Sesekali ia tertawa sendiri lalu memanggil ayahnya untuk menunjukkan sesuatu yang menarik baginya. Di salah satu aktivitas, ia berhenti cukup lama, mengambil pensil, lalu mulai menuliskan jawabannya. Beberapa menit kemudian, ia membalik halaman dan melanjutkan membaca. Temanku hanya menanggapi sambil lalu.
Aku tidak mengatakan apapun lalu melanjutkan obrolan kami. Temanku tidak tahu kalau beberapa buku di rak itu pernah melewati meja kerjaku. Kurasa, aku juga tidak merasa perlu memberitahunya. Temanku tahu aku bekerja di penerbitan buku. Tapi mungkin ia tidak pernah membayangkan bahwa sebagian buku di rak rumahnya pernah kutulis.
Beberapa bulan sebelumnya, saat rapat divisi, aku mengusulkan sebuah ide sederhana untuk seri buku yang sedang kutulis. Saat itu, seri buku tersebut sudah memasuki buku keempat. Aku mengusulkan agar anak-anak pembaca bisa ikut mengirimkan pertanyaan, yang nantinya beberapa pertanyaan terpilih akan dimasukkan ke dalam buku seri selanjutnya. Aku ingin pembaca merasa lebih dekat dengan buku yang mereka baca.
Saat itu aku tidak terlalu memikirkan hasilnya. Tapi, ternyata responnya jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Pertanyaan mulai berdatangan dari banyak anak. Dari sekian banyak pertanyaan yang masuk, ada satu yang masih kuingat sampai sekarang. Ada anak yang bertanya, "Kalau dinosaurus masih hidup sampai sekarang, apakah mereka juga harus sekolah?"
Aku tersenyum saat membacanya. Aku membayangkan anak itu sedang duduk di meja belajarnya sambil memegang pensil. Mungkin ia baru saja membaca buku tentang dinosaurus atau sedang membayangkan seekor T-rex membawa tas sekolah dan duduk di bangku paling belakang. Aku tidak pernah tahu siapa anak itu.
Yang lebih mengejutkan, ternyata banyak anak yang mengikuti seri buku itu sejak buku pertama. Mereka mengoleksi buku-bukunya dan tak sabar menunggu buku seri selanjutnya terbit. Sejujurnya, itu di luar bayanganku sebelumnya. Sebab, sebagian besar waktu kerjaku terlihat seperti rutinitas biasa. Duduk di depan komputer, menulis, mengedit, revisi, lalu menulis lagi. Sebagian besar prosesnya berlangsung sunyi. Tidak ada tepuk tangan, apalagi sorotan lampu. Yang ada hanya layar komputer, secangkir kopi, dan tenggat waktu yang semakin dekat.
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkanku pada diriku sendiri saat masih menjadi pembaca. Saat kuliah, aku pernah membaca novel karya Dee Lestari untuk pertama kalinya. Aku menyukai cara ia bercerita. Beberapa bagian cerita di novel masih kuingat sampai sekarang, meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Aku tahu nama penulisnya dan mengenali gaya tulisannya. Kalau aku melihat buku baru dengan namanya di sampul, aku akan langsung menyadarinya.
Tapi, aku sadar kalau ada lebih banyak buku yang pernah kubaca, tanpa pernah mengetahui siapa yang menulisnya. Aku masih bisa mengingat beberapa cerita dari novel Dee Lestari. Tapi, aku tidak bisa mengingat siapa penulis buku pelajaran matematika dan fisika yang kubaca hampir setiap hari saat SMA. Padahal waktu yang kuhabiskan bersama buku pelajaran itu jauh lebih lama.
Semakin lama bekerja di dunia buku anak, semakin sering aku mengamati hal yang sama. Saat membeli buku, sebagian besar orang tua pertama kali akan memperhatikan judulnya dan sampulnya. Mereka membaca sinopsisnya, lalu memperhatikan isi buku dan manfaatnya untuk anak mereka. Jarang sekali ada yang bertanya siapa penulisnya. Sebagian besar hanya ingin tahu apakah bukunya cocok untuk anak mereka.
Beberapa kali aku membaca ulasan pembeli di marketplace. Sebagian besar membahas isi bukunya, ada yang menulis bahwa anaknya suka, serta ada yang menulis bahwa anaknya minta dibelikan seri berikutnya. Salah satu ulasan yang masih kuingat sampai sekarang ditulis oleh seorang ibu. Ia menulis bahwa anaknya minta dibacakan buku yang sama hampir setiap malam selama seminggu. Aku tidak mengenal ibu dan anaknya. Tapi, membaca ulasan singkat seperti itu selalu terasa menyenangkan. Hampir tidak ada yang membahas siapa penulisnya.
Tentu saja tidak semua buku berakhir seperti yang kuharapkan. Beberapa tahun lalu aku pernah membuat sebuah buku yang sangat kupercaya. Judulnya Dinomatika. Ide buku itu murni dariku. Aku mengonsepnya dan menulisnya sendiri. Menurutku, konsepnya menarik dan berbeda dari kebanyakan buku sejenis yang dijual di pasaran. Buku itu menggabungkan cerita dan aktivitas matematika dalam satu alur petualangan. Tokoh-tokohnya dinosaurus. Anak-anak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga harus menyelesaikan tantangan matematika untuk melanjutkan petualangannya.
Aku menghabiskan hampir dua minggu untuk mengerjakannya. Saat itu aku benar-benar yakin kalau buku Dinomatika akan disukai banyak anak. Aku membayangkan seri dinomatika akan berkembang menjadi banyak judul. Tapi, ternyata tidak. Penjualannya biasa saja, jauh dari yang kuharapkan. Aku beberapa kali membuka laporan penjualannya. Angka penjualannya tidak pernah benar-benar bergerak ke arah yang kuharapkan. Setiap kali melihatnya, aku masih berharap bulan berikutnya akan lebih baik. Tapi harapan itu perlahan mengecil dengan sendirinya. Lama-kelamaan aku berhenti mengeceknya sesering dulu.
Lucunya, saat itu aku sudah membayangkan seri-seri berikutnya. Aku bahkan sudah membuat beberapa catatan ide untuk petualangan berikutnya. Ada file konsepnya yang masih tersimpan di komputerku sampai sekarang. Tapi, tidak satu pun yang akhirnya kutulis.
Aku pernah berpikir, mungkin idenya tidak sebagus yang kubayangkan. Mungkin konsepnya terlalu aneh. Mungkin anak-anak tidak menyukainya. Atau mungkin aku memang terlalu percaya diri saat menulisnya. Sampai aku menulis cerita ini, buku Dinomatika masih menjadi salah satu buku yang paling sering kuingat karena aku membuatnya dengan sungguh-sungguh. Dulu aku selalu menganggap keberhasilan seorang penulis diukur dari seberapa banyak orang mengenal namanya. Tapi, Setelah bertahun-tahun bekerja di dunia buku, aku tidak terlalu yakin lagi.
Sore itu, aku pulang tanpa pernah bercerita pada temanku, bahwa beberapa buku koleksi anaknya ditulis olehku. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus mengingat rak buku itu. Sudut sampul yang tertekuk, coretan pensil di beberapa halaman, dan buku-buku yang terlihat sering dibuka. Saat itu, aku merasa buku-buku itu sudah menemukan tempatnya. Meskipun, di sudut ruangan. Meskipun, dibalik debu yang bertanggar. Di suatu tempat yang tidak pernah kubayangkan dalam-dalam.