Berberes dan Mengurangi
Photo by Matilda Wormwood
Belakangan ini saya sedang terobsesi dengan berberes rumah, berhubung ada banyak barang tidak terpakai yang bertumpuk di sudut-sudut rumah, terutama kalau melihat lemari pakaian. Ada banyak baju yang sebetulnya sudah tidak pernah dipakai tapi masih tergeletak dilemari karena rasanya masih sayang untuk dibuang. Terinsipirasi dari buku Marie Kondo yang berjudul "The Life-Changing Manga of Tidying Up: A Magical Story", saya mencoba memulai berberes rumah. Dalam buku tersebut, salah satu cara memilah barang adalah dengan menyentuh suatu barang, apabila ada perasaan bahagia yang muncul, itu berarti kita boleh menyimpan kembali barang tersebut, di sisi lain kalau barang tersebut tidak menimbulkan perasaan apa-apa, itu pertanda barang tersebut sebaiknya disingkirkan. Tindakan tersebut bisa menyisakan beberapa barang yang benar-benar penting dalam keseharian kita.
Di sisi lain kita melihat kebiasaan para bintang youtube (yang sekarang banyak sudah ditangkap polisi akibat tindak kriminal), menunjukkan pola yang bertentangan dari apa yang dibahas oleh Marie Kondo, mereka berusaha menunjukkan pola konsumsi yang berlebihan, dari mengoleksi banyak barang mewah, kendaraan mewah, dan lain sebagainya, menyisakan tanda tanya, kapan sebetulnya mereka menggunakan semua barang tersebut?
Beberapa tahun lalu beberapa artikel sempat membahas bagaimana gaya hidup minimalis yang dilakukan oleh Mark Zuckerberg, membuatnya menjadi seorang pemimpin yang efektif karena dapat mengurangi jumlah keputusan yang dilakukan, hal ini sangat wajar karena sebagai seorang CEO, dalam kesehariannya pasti banyak dihadapi dengan banyak waktu untuk membuat keputusan, bisa dibayangkan apabila untuk memilih baju saja sudah pusing, pasti energi yang tersisa untuk kegiatan lainnya jauh lebih sedikit.
Tapi dunia saat ini yang begitu melekat dengan media sosial, sepertinya dikuasai oleh para pesohor yang mengkampanyekan hal yang sebaliknya, kalau tidak memiliki barang X belum sukses, kalau belum makan di B belum gaul, kalau tidak mencapai Y maka belum bisa disebut berhasil, dan lain sebagainya. Gaya hidup konsumtif menjadi pedoman hidup banyak orang, menyisakan tanda tanya kemana ujungnya? karena sebagai manusia, sepertinya rasa cukup atau puas saat ini tidak pernah ada, tidak heran ada orang-orang yang berambisi menguasai seluruh dunia ini, karena apa yang mereka miliki tidak lagi bisa memuaskannya.
Bertentangan dengan gaya hidup konsumtif seperti yang disajikan oleh media saat ini, gaya hidup minimalis seperti mengajak kita merenungkan semuanya dengan lebih bijak, apakah dengan memiliki sedikit barang nilai kita sebagai manusia akan jauh berkurang? apakah dengan hanya memiliki benda yang biasa saja, akan mengurangi value kita di masyarakat? Menurut saya apabila itu terjadi sepertinya ada yang salah dengan lingkungan tempat kita berada, karena sesungguhnya nilai seorang manusia, tidak bisa diukur hanya sekedar dari benda yang dimilikinya, baik seberapa harga benda tersebut ataupun banyaknya benda yang dimiliki. Mungkin saatnya juga tiba kalau kita berada di lingkungan tersebut, kita bisa memutuskan untuk "Membuang", karena lingkungan yang tepat adalah pada saat kita bisa diterima bukan karena benda, melainkan nilai apa yang bisa kita bawa.
Kembali ke tindakan berberes yang saya lakukan, setelah selesai berberes dan menyisakan beberapa barang penting yang saya gunakan, satu hal yang saya rasakan adalah lega, bebas dan nyaman. Lega karena banyak ruang kosong, bebas dari pikiran-pikiran tidak penting dan nyaman karena saya bisa berfokus melakukan yang saya suka dengan apa yang saya miliki. Mungkin anda bisa juga berberes dan mengurangi hal-hal yang kurang penting dari hidup anda?
Selamat berberes!





















