(Mencoba) Pencitraan
Hai. Welcome back to my channel *efek mba suhay*. Or my writing? Or my post? Whatever. Peringatan : Tulisan ini panjang.
Ceritanya kemarin habis baca blognya Amih Monda. Siapakah Amih Monda? Aku juga belum tau sesungguhnya si mba siapa. Wajahnya mirip Dian Nitami. Plis jangan tanya Dian Nitami siapa ya. Artis vampire lah pokonya awet muda banget beliau. Nah Amih Monda ini Amihnya (baca: Maminya) Auro. Auro adalah salah satu gadis cilik pejuang raredisorder (kalau salah mohon koreksinya).
Asal main ke explore aja sih aku, terus muncullah foto Auro dengan selang di hidungnya. Ingat Adam yang di video klip Ran - Melawan Dunia? Nah si Auro ini juga pakai selang di hidung yang aku baru tau nama alatnya NGTube (belum googling kepanjangannya apa). Muncullah pertanyaan, 'Ini si adek sakit apa ya? Sama kaya Adam kah?'. Si Auro ini cute banget ngga kaya anak kecil sakit--di foto. Apalagi waktu lepas NGTubenya.. Sebenernya punya waktu aja buat nyekroll ig si Amih ini sampai bawah, cuma trauma udah beberapa kali nyekroll akun orang sampai bawah--saking lamanya, yg niat istirahatin layar sebentar, terus aku kunci, aku hidupin lagi, aku lupa balik ke home ig lagi, -- searchnya ilang deh -___- akhirnya memutuskan membuka blog Amih aja.
Postingan Amih baru sedikit, tapi selesai baca semua postingan kemudian postingannya bersambung dan buat penasaran yang deg degan. Bukan penasaran biasa. Di situ Amih bercerita panjang dari diagnosa awal waktu Auro habis lahiran, perjuangan Amih dan Poppa tawaf rumah sakit di Jakarta, rujuk dokter sana, ke dokter yang lain lagi. Sampai akhirnya dapat lah nama diagnosanya apa aja. Iya. Apa aja. Ngga cuma satu.
Baca blognya Amih berasa baca artikel sains tentang penyakit-penyakit gitu. Salah satu diagnosa Auro adalah Microsefali--kebalikannya hidrosefali-- yang mana adik aku si Mufid juga dapat diagnosa itu. Banyak pesan moralnya juga. Perjuangan yang banyak orang bilang kalau Amih ini kuat sekali, Amih jawab 'bukannya memang seharusnya orang tua mengupayakan yang terbaik untuk anaknya?'
Udah deh itu inget sama Umi mendadak. Btw intinya ga pengen ceritain si blog Amih hehehe.
Jadi gini, setelah menikah aku merasa banyak banyak sekali yang akan dipertanggung jawabkan termasuk tulisan tulisan di tumblr ini. Aku merasa terbebani mendadak yang mengakibatkan aku ngga bisa lagi nulis macam romantis yang dulu dulu aku enjoy banget nulis-posting-nulis-posting. Mau cerita keproduktifan tapi nyatanya ngga produktif amat. Padahal bahan untuk cerita banyaaak banget di tumblr huhu.
Kenapa pula ya, padahal Mas Bojo ngga melarang untuk tetap nulis. Aku kira setelah menikah akan banyak tulisan yang berubah punya value gitu semua muanya, padahal yang namanya mau membludakkan isi pikiran kan belum tentu semua ada value tapi manfaat intinya adalah kepala jadi agak legaan sedikit, atau perasaan juga kali ya.
Kalau sakit hati duh banyak deh yang bisa ditumplek blek, atau kalau lagi masalah. Nah ini sudah punya Mas Bojo, mengalami lah yang namanya --aku juga ga tau-- biasa aja. Literally yang biasanya. Bener-bener biasa aja. Pas bahagia, nulis bahagia kan susah ya. Hehehe. Pas sedih atau pas marah takut jatuhnya ngeluh, yang nanti menceritakan aib, alasan ini yang buat aku jadi makin hati-hati mau nulis di tumblr.
Padahal ngga mesti gitu, kan? Padahal bisa aja sharing bahagia kalau ternyata masih ada percikan kembang api di dunia ini yang indah. Padahal bisa aja sharing kalau ngga semua hal yang wajarnya biasa aja buat orang, bisa jadi ngga biasa ke satu orang yang lain. Semua hal bisa menjadikan kita belajar empati. Atau hanya sekedar nulis celotehan pikiran pribadi yang di awal bisa diberi peringatan: ini menurutku lho ya, menurutku. (Tadinya mau capslock tapi gajadi).
Nah hubungan nulis di tumblr sama blog Amih adalaaaah, di blog Amih itu aku nyaman aja bacanya. Ya kaya lagi diceritain gitu. Padahal kenal juga ngga. Kaya tulisan itu ya mencerminkan Amih. Like Amih ibu muda yang ya dia mau buat blog buat cerita, ya dia cerita aja.
Baca blog Amih membuat aku sadar, kenapa sih kaya nyari alasan buat ngga nulis di tumblr lagi? Kenapa harus kaya orang-orang yang nulisnya langsung encourage orang sekitar gitu. Toh belum tentu juga sekitarku mau peduliin kan ya -,-.
Setahun setengah ini buat aku belajar aku ngga mau terlalu pencitraan lagi. Aku mau cerita lagi. Karena cerita di sini menandakan aku sedang bertumbuh. Bukan detailnya, tapi momennya, atau idenya. Pencitraan tetap perlu karena itu branding. Ahahaha.
Cuma pesanku ke aku satu: tetap menulis Fi, cerita. Jangan terbebani sama pikiran orang, mendakilah perlahan. Katanya mau naik gunung, kan?
Selalu salut sama perempuan yang udah menikah tetap menulis dan bertumbuh sesuai cara mereka sendiri. Terima kasih telah memotivasi dan mengembalikan keinginan menulis yang berantakan di dalam kepala.
Btw lagi, kayaknya judulnya mungkin ga terlalu nyambung. Sekian.
















