Hari itu tak ada yang berbeda, hanya burung yang bernyanyi sedikit senada. Paruh yang selaras menyanyikan lagu pencerah hari, dan akhirnya ada pertemuan yang tak bisa ku hindari.
Kau, ya muka masam yang menarik perhatianku, wajahmu meninggalkan jejak rasa ingin dan mataku terpaku. Hati memaksaku memungut jejak yang kau tinggalkan, berharap kita bisa saling berjabat dalam perkenalan.
Hari berganti bulan, dan menegurmu aku enggan.
Maaf bukan tak sudi, tetapi didekatmu ada rasa takut yang selalu menjadi-jadi. Mengulik rasa penasaran dalam hati, bahkan logika pun tak bisa mengerti.
Hari ini aku kira matahari semakin dekat, ternyata kau yang semakin memikat. Kau begitu terang seperti senja yang menyapa malam, hingga membuat mata ku semakin tenggelam. Rambut yang kini tertutup kain suci berlapis kehangatan, mengisyaratkan bahwa kini kau telah menjadi salah satu anugrah keindahan tuhan.
Logika yang selalu menahan hasrat, kini membuatku semakin tersesat. Berjuang Melawan rasa ingin, membiarkah rasa ini selalu tersapa oleh angin. Cinta? Bukan, karena ini sangat berbeda, mungkin rasa ini disebut mendamba.
Ya, mendambamu sejak dulu, dan hanya bisa mencuri pandang dengan rasa malu.
Baiklah sudah cukup, semua cerita itu sudah tertutup. Kini kita saling menyapa, dan sapamu selalu mengisi sebuah hampa. Terimakasih sudah hadir di setiap malam, dan biarlah kini aku mendambamu dalam diam.