Say seringkali bahkan masih suka sedih kalau ingat ayah saya meninggal di bulan ini. Seolah tidak adil karena beliau pergi saat saya belum berkeluarga. Ada paradigma yang melingkupi pikiran saya bahwa tidak ada Ayah akan membuat saya kebingungan menerima lelaki yang datang melamar.
Apa dia bertanggung jawab?
Apa dia baik dan bisa tahan emosi? Apa dia akan jadi ayah yang baik?
Rupanya saya masih beruntung, ketika melihat seorang lelaki yang sejak SMA kehilangan sosok Ayah karena menikah lagi dengan perempuan lain dan tidak diketahui tempat tinggalnya. Hidupnya sempat limbung, tidak betah di rumah. Marah pasti. Bahkan untuk bertemu pun janjian di luar rumah.
Dan itu semua membuat karakternya jadi kurang tegas, tidak percaya diri dan tanpa arah juga kurang pengakuan. Meskipun dari luar tidak terlihat tapi jika ada masalah karakter ini muncul dan mendominasi.
Sosok Ayah hadir sebagai pelengkap sosok ibu. Ayah saya adalah orang yang bebas, dia mencourage anak-anaknya untuk jadi apapun yang dimaui bahkan berdiskusi tentang pilihan-pilihan yang bisa kami (anak-anaknya) ambil meskipun pulang seminggu sekali tapi kehadirannya ada.
Saat itu, saya berhenti kesal saya hentikan paradigma sebelumnya. Saya beruntung, adik lelaki saya beruntung meskipun Ayah meninggal saat dia masuk SMA, dia punya kami (kakak-kakaknya) sebagai tempat bertanya.
Lalu saya berfikir ketika adik lelaki saya sekarang jadi tulang punggung keluarga pengganti Ayah, adiknya dia biayai sekolah, ibunya dia percayai sebagai tempat do'a makbul dan saya yang kemarin dia dampingi untuk bertemu dengan lelaki yang ingin mengenal keluarga saya.
Dalam hati saya bangga, didikan Ayah saya menjadikannya kuat dan pd meskipun kadarnya sih belum tahu seberapa ini bisa teruji lewat waktu. Karena pernah suatu hari dia (adik saya) pulang dengan luka berdarah di keningnya, ayah saya tidak langsung menuduhnya berkelahi hanya bertanya “kenapa?” dan dengan singkat dijawab “disangka ngambil pacar orang” lalu kemudian ayah tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak sedang Ibu saya yang panik (wajar lah ibu²) atau saat dua adik saya mimpi basah (mulai bwger,wew), buat kita para kakak cewe kan iyuuh banget ngomong ginian tapi untung ada papa, dengan sembunyi² diterangkan semuanya.
lagi saya beruntung punya ayah seperti papa
Itulah kenapa, Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Sosok lelaki pertama yang dicintai anak perempuan dan yang memberikan rasa aman bahwa Ayahnya pelindungnya.
Dan ayah ngga pelit pujian, dia selalu bilang “hebat nih anak papa” meskipun saya cuma sekedar nge-MC acara rohis. Dan ga pelit juga berargumen ketika saya memutuskan pake jilbab dan kerudung panjang. Ngobrol dengan beliau selalu menenangkan dan kadang menyebalkan. 😁 partner argumen abadi.
I really miss him. Indeed.
Saat ini saya berdo'a untuk yang kehilangan sosok Ayah juga, karena perceraian atau kematian. Semoga kita kuat dan terus dibimbing Allah untuk jadi pribadi yang hebat dan membanggakan.
Rasul meskipun kehilangan Ayah tapi tak pernah kehilangan sosoknya, ada paman dan kakeknya yang senantiasa mendidiknya…
Saat ini saya berjanji tidak akan marah lagi karena kepergiannya, justru beliau menitipkan saya pada Allah yang lebih lebih segalanya.
Maaf ya ..ya Allah. Hamba hanya manusia yang sering lupa. Lapangkanlah kubur ayahku, terangilah kuburnya dan pertemukan lah kami di surga. Aamiin.