Al-Isyq (Mabuk Cinta)
Salah seorang syaikh dari kalangan orang arif menyatakan “Sungguh, aku diberi cobaan berupa zina dengan seseorang lebih aku sukai dibandingkan diberi cobaan berupa kasmaran. Kasmaran akan membuat hatiku beribadah kepada seseorang yang dicintai sehingga kecintaan tersebut melalaikan aku dari berdzikir kepada Allah”.
Kasmaran atau jatuh cinta adalah hal yang manusiawi. Bahkan kebanyakan diantara kita menjadikan ketertarikan terhadap lawan jenis sebagai indikator untuk menilai kecenderungan seseorang apakah normal atau tidak. Saya pula meyakini bahwa mencintai adalah salah satu fitrah manusia. Mencintai adalah kemampuan yang Allah titipkan dan harus dijaga sedemikian rupa agar tetap dalam koridor keislaman.
Namun rupanya mengendalikan rasa cinta adalah hal yang amat penting. Cinta yang terlalu dalam dan melalaikan salah salah bisa menjadikan kita sebagi golongan orang-orang yang kufur. Jika mengutip pernyataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ halaman 475-476 bahwa kasmaran dikategorikan ke dalam kekufuran jika pelakunya menjadikan apa yang di cintainya sebagai tandingan bagi Allah.
Efek dari hal ini pun tidak main-main ternyata. Beliau menyebutkan di halaman 479 bahwa bencana-bencana di dunia dan akhirat lebih cepat menimpa orang yang kasmaran daripada cepatnya kobaran api pada ranting yang kering. Sebab semakin hati itu dekat dengan cinta semu dan saat hubungan keduanya semakin kuat, dia pun semakin jauh dari Allah.
Astagfirullah wa atuubu ilaih..
Bagimana kasmaran yang menyebabkan kekufuran itu? Berikut tanda tanda kasmaran yang termasuk perbuatan syirik dan kekufuran menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah adalah pelakunya mengutamakan keridhaan orang yang dicintainya di atas keridhaan Rabbnya. Jika terjadi pertentangan antara hak orang yang dicintainya dengan hak Rabbnya maka ia mengutamakan hak dan ridha orang yang dicintainya dibandingkan hak dan ridha Allah. Ia memberikan miliknya yang paling berharga kepada orang yang dicintainya, sedangkan ia memberikan miliknya yang paling buruk kepada Allah, itupun kalau mau memberikannya. Ia berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan seluruh waktunya untuk mendapatkan ridha orang yang dicintai, menaatinya, serta mendekatkan diri kepadanya, sedangkan sisa waktunya diberikan kepada Rabbnya, itu pun kalau ia menaati-Nya.
Na’udzubillah..
Teringat perkataan Ustadz Evie Effendie “lebih baik menghindari fitnah daripada mengikuti hasrat meskipun itu fitrah”.
Mudah-mudahan Allah selalu nomer satu..













