Saat langit biru serasa mendung yang menggulung.
Malam sebelumnya yang tak dihiasi mimpi, dan hanya ditemani kopi.
Gugup menggenap saat pagi menjelang.
Bercampur rasa. Antara tak ingin ada pagi, atau segeralah pergi pagi!
Bumi Isola seperti menampakkan gagahnya dibalik Kampus Siliwangi.
Hanya mimpi seorang anak remaja yang mampu mengalahkan gagahnya.
Bukan hal mudah, menapaki tangga universitas. Bahkan awal dipijaki pun, mimpi ini begitu meragukan.
Ragu akan keberlanjutan, kemampuan finansial di tengah hiruk pikuk metropolitan.
Jika yang di desa pergi ke kota dengan 'backing' sawah ladang dan kebun untuk anaknya, maka bapak dan ibu hanya menitipkan semangat pada anak gadisnya. Tak ada warisan, rumah, atau apapun yang kelak bisa digadaikan jika mereka dalam kesulitan.
Miskin di kota lebih miris daripada miskin di desa.
Tapi, apakah kita hanya akan dikendalikan oleh jiwa miskin kita?
Merasa tak layak menjadi pembuka gerbang kehidupan?
Tak perlu merendahkan diri di depan mimpi-mimpi.
Seperti kata Ikal di Laskar Pelangi, "orang-orang macam kita ni kalau tak punya mimpi pasti mati".
Berpenampilan terbaik dengan jas dan sepatu pinjaman seperti layaknya cerita dongeng cinderella.
Hari terbaik sekaligus hari paling menakutkan bagi dirinya.
Menguatkan tekad, memaparkan judul sampai simpulan di ruang ber-AC yang terasa 'panas'. Ditambah tanya jawab, sanggahan, juga cercaan.
Satu jam lima belas menit terlewati. Hanya sedikit masalah sakit hati. Tapi tak perlu ditanggapi, cukup dihadapi, lalu perbaiki.
Orang-orang keluar dengan berbinar haru. Ada pula yang menangis karna penguji.
Mimpinya yang dari dulu ingin ke UPI, yang begitu riangnya saat pertama kali kakak kelas SMA nya mengajak kesini, lantas ia bilang..
"Teh, nanti aku mau kuliah disini, sekarang fotoin dulu di depan gedung ini!"
Isola menyaksikan doanya, mungkin pintu langit-Nya sedang terbuka saat kepolosan doa remaja ini terucap.
Menyandang gelar sarjana adalah yang yang tak direncanakan. Dua kakaknya hanya sampai SMA lalu bekerja di pabrik. Dulu, ia bertekad tidak mau jadi buruh pabrik. Dari SD pun kalau ditanya cita-cita, jawabannya "Ingin jadi guru!"
Tapi melihat kondisi orang tuanya, ia mengubur mimpi-mimpinya.
Sampai kesempatan Beasiswa Bidikmisi menjadi perantara mimpinya.
Tepat pada hari ini, di tahun lalu, seorang remaja berganti dewasa.
Melewati kebimbangan luntang-lantung uang praktikum.
Melewati masa bimbingan tak berkesudahan.
Melewati tiga puluh kelurahan, mengelilingi jalan-jalan besar, sempit, sawah, pegunungan.
Tapi dibalik itu, Allah beri kado terbaik versi-Nya.
Merasakan janji Allah itu nyata, "Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan". Benar adanya. Ujian untuk meningkatkan level seseorang itu banyak macamnya. Dan tentu, Allah sedang menyiapkan kado yang beragam sesudahnya. Allah hanya ingin tahu, masihkah kita bersama-Nya, baik dalam lapang maupun sempit?
Semua beban terlepaskan untuk sementara. Semua kegelisahan hilang sementara.
Karna kelak, itu akan menjadi pertanggungjawabannya dihadapan Allah, juga masyarakat.
Beban dan gelisah akan terus ada membersamai 'step by step' kehidupan kita, tapi ada Allah Yang Maha Menentramkan.
Seorang guru akan membuat soal ujian beserta jawaban. Apalagi Allah sebagai Al-Mulk.
Tanggung jawab tersemat di pundak, langkah, tingkah, juga perilakunya.
Dulu dididik, lalu terdidik, kemudian mendidik.
Ini hanya seperempat dari banyaknya mimpi. Alhamdulillah, betapa Allah menyayangi kita dengan cara yang tak terduga.
Terimakasih atas momen bersejarahnya.
Terimakasih teruntuk 31 Oktober.
Penghujung Oktober yang penuh berkah.