Khawatir itu perihal 'kata orang'. Kalau lah diri ini tak banyak mendengar apa 'kata orang', tak akan ada risau yang menyelimuti setiap hati.
Seringkali, kita bukan mengkhawatirkan pribadi tapi karna iri atas orang lain. Tanpa kita sadari, hati berdesir. Terhipnotis ke dalam kehidupan orang lain. Membandingkan diri kita dengan orang lain. Lantas kita menjadi 'tokoh' pada pribadi orang tersebut. Menganalogikan bahkan mengandai-andaikan bagaimana rasanya kita seperti orang tersebut, yang menurut pandangan kita 'sempurna' segalanya.
Bukan perihal prestasi, tapi prestisius.
Bukan perihal takwa, tapi jumawa.
Khawatir ketar-ketir atas takdir. Mempertanyakan karir, pasangan, juga masa depan. Tanpa memikirkan sudah sejauh mana kita 'mempersiapkan' menujunya. Sudah seberusaha apa kita meraih cita dan cinta menujunya. Karna 'rizki' mempunyai bentuk yang beranekaragam. Tapi dengan kekhawatiran yang membelenggu, maka semua rizki-Nya adalah ambigu.
Kita terus terkungkung oleh beribu khawatir, karna kita terlalu fokus memikirkan 'kata orang'.
"Katanya sarjana, kok..."
"Gak jamin, sarjana juga susah tuh dapat kerja!"
"Loh kok jurusan A, tapi ngajar pelajaran B, gimana sih?"
Kalaulah semua pertanyaan itu menyulitkan kita, tapi belajarlah untuk ikhlas menjawab. Kita yang tahu potensi pada diri kita sendiri, dan tak perlu repot dengan 'keinginan' orang lain.
Karna hanya diri kita lah yang bisa menuntaskan 'kekhawatiran' itu.
Tuntaskan, bukan hilangkan. Khawatir akan hilang jika kita benar-benar menuntaskannya. Perlahan kita akan memasuki fase kekhawatiran demi kekhawatiran, dan tentu yakinlah kita akan bisa melewatinya.
Bukankah sekarang kita terus melangkah?
Kemarin khawatir tak bisa kuliah, akhirnya bisa.
Kemarin khawatir tak tahu judul skripsi, akhirnya bisa.
Kemarin khawatir bagaimana sidang, akhirnya bisa.
Karna khawatir itu hanya singgah sesaat. Hanya datang untuk menguji tahapan hidup kita. Pastikan itu dinamis, bukan statis.
Dan besok, 'si khawatir' akan datang mengujimu lagi. Siap-siap dan persiapkan. Bernegosiasi dengan Tuhan, dan mintalah di kuatkan. Pundak, hati, juga pikiran.
Tuhan yang mengirimkan ujian, maka hanya kepada-Nya lah kita meminta jawaban.
Selamat mendewasa dalam menyelesaikan 'khawatir' mu. :)