Manusia, Iman, dan Tindakan
Karena kita manusia, iman dan tindakan menjadi hal yang akan terus muncul sebagai pilihan dalam hidup.
Belajar dari kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang berlari bolak-balik dari satu bukit ke bukit lainnya.
Bukan mengharap akan menemukan air di salah satu bukit, melainkan sebagai wujud tindakan yang didasari oleh kekuatan iman.
Secara logika, sudah barang tentu air sulit ditemukan di padang pasir yang tandus. Siti Hajar pun tahu betul fakta itu.
Jikalau ada, bukankah lebih efektif kalau mencari ke lokasi yang berbeda untuk memperbesar peluang? Dibandingkan 'hanya' berlari-lari kecil berulang kali dari titik A ke titik B saja. Tapi, Siti Hajar tetap mengambil pilihan itu.
Ditambah lagi, kondisi yang serba tidak ideal yaitu anak menangis kehausan, diri sendiri yang masih lemah pasca melahirkan, plus beban mental yang harus ditanggung seorang diri di tengah panas terik padang pasir. Namun, Siti Hajar tetap kukuh dengan iman dan tindakannya.
Alih-alih mengeluh, menangis meraung, menyalahkan dan meratapi nasib, Siti Hajar memilih berlari. Itulah bentuk usaha bumi yang dilakukannya.
Bukan mengharap akan menemukan air di salah satu bukit, tapi begitulah caranya merayu langit. Tujuan pengharapan dan keyakinannya tetap sama yaitu pada Allah Yang Maha Baik.
Kemudian air muncul dari sumber yang tidak disangka-sangka, dari hentakan kaki kecil si anak. Air muncul berlimpah ruah yang menjadi karunia hingga hari ini, yang kita pun bisa menikmatinya.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya,
Mengapa harus berlelah-lelah berlari?
Karena masa depan adalah rahasia mutlak milik langit.
Siti Hajar tidak akan pernah tahu kalau ternyata doanya terkabul dari sumber yang paling dekat dengan dirinya. Yang dia tahu dan yakini betul adalah Allah Maha Baik yang tidak akan meninggalkan hambaNya.
Dan iman itu dia wujudkan dalam bentuk tindakan.
Karena terbatasnya pengetahuan manusia tentang masa depan itulah letak keindahan iman dan pembuktiannya.
Bahwa manusia sejatinya bisa saja ragu dan takut dengan apapun yang dihadapinya, tetapi dengan iman, tidak akan ada khawatir maupun sedih hati berlebihan.
Maka, Siti Hajar memilih untuk berlari-lari kecil dari satu bukit ke bukit lainnya.
Dan usahanya itu diabadikan Allah menjadi salah satu bagian dari rangkaian utuh ibadah haji yaitu Sa'i.
Hikmah kisahnya pun terus mengalir menjadi pelajaran bagi umat-umat berikutnya, hingga hari ini. Lintas zaman dan dimensi.
Hikmah tentang kekuatan iman serta keluhuran sikap Siti Hajar menjadi contoh nyata bahwa iman tidak hanya diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi juga dibuktikan melalui amal perbuatan.
Belajar dari kisah Siti Hajar, masih pantaskah kita memilih berdiam diri karena rasa takut maupun ragu atas ketidakpastian masa depan?
Perkara hasil bukanlah bagian kita. Bagian kita adalah berusaha, berdoa, dan berserah dengan sebaik-baiknya sebagai seorang hamba.
Sumber: catatan pribadi tentang hikmah kisah Siti Hajar yang disampaikan oleh seorang guru serta dilengkapi refleksi pengalaman pribadi tentang hidup dan kehidupan.