THE GRADUATION – 9.9 - WON & MIN YOUNG
“When I look into your eyes, it’s like watching the night sky, or a beautiful sunrise. There’s so much they hold. And just like them old stars, I see that you've come so far, to be right where you are. How old is your soul? I won’t give up on us, even if the skies get rough. I’m giving you all my love. I’m still looking up. And when you’re needing your space to do some navigating, I’ll be here patiently waiting to see what you find.” –Jason Mraz, I Won’t Give Up
Lee Won Gun. Musim panas, 2009.
Lelaki itu memandang pantulan dirinya di depan cermin. Hari itu ia mengenakan setelan super rapi. Jas hitam dan dasi hitam, dengan kemeja putih dan celana panjang hitam. Hari itu adalah hari yang sangat istimewa baginya. Hari yang telah ia nantikan, terutama selama satu tahun belakangan. Hari kelulusannya.
Sekolah telah ramai ketika ia datang. Kedua sahabatnya telah berada disanadan menyambutnya. Mereka mengenakan toga di ruang ganti sebelum memasuki aula sekolah yang telah dipenuhi oleh teman-teman seangkatan mereka. Di tengah keramaian tersebut, ia menangkap sesosok wanita yang selalu dicarinya. Sesosok wanita yang selalu berhasil menangkap pandangan matanya, mencuri perhatiannya. Park Min Young. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna pinksalemdengan balutan blazer putih tulang. Rambut panjangnya digelung rapi di belakang kepala. Hari itu ia terlihat lebih cantik dari biasanya.
Melihat sosok wanita itu dari kejauhan membuat lelaki itu tersenyum. Hari itu akhirnya tiba. Hari dimana ia akan melepas status sebagai murid. Hari dimana ia dan wanita itu akan terbebas dari belenggu strata sosial sebagai guru dan murid.
Lelaki itu tak ingin menghabiskan waktunya untuk berbasa-basi ketika upacara kelulusan telah selesai. Segera setelah ia menanggalkan toganya, lelaki itu berpamitan kepada kedua sahabatnya. Alih-alih pergi dari sekolah itu, ia berjalan menuju ke taman kecil yang berada di bagian belakang sekolah. Entah mengapa, ia mempunyai firasat bahwa wanita yang dicarinya akan berada disana.
Dugaan lelaki itu tepat. Di sanalah ia mendapati wanita itu, tengah duduk sendirian di bangku taman. Entah apa yang dipikirkan olehnya sekarang. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, mengumpulkan keberaniannya. Ia telah menunggu selama satu tahun lebih untuk saat ini. Sebelum melangkah, ia berdoa supaya penantiannya berujung indah.
Park Min Young. Musim panas, 2008.
Satu musim telah berlalu, tetapi wanita itu tidak merasakan adanya tanda-tanda kemunduran dari lelaki itu. Setelah pengungkapan cintanya yang tiba-tiba pada musim semi lalu, wanita itu telah meminta lelaki itu untuk menghentikan dan menghapus perasaannya. Ia menganggap bahwa semua itu mustahil dan mereka tak akan pernah bisa bersama. Lelaki itu hanyalah seorang siswa Sekolah Menengah Atas, dan ia adalah guru sekolahnya. Namun semuanya sia-sia. Lelaki itu tak henti mengganggu pikirannya, meresahkan perasaannya, membuatnya selalu memikirkan dirinya, membuatnya seakan merasa gila.
Wanita itu tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghalangi lelaki itu. Gilanya, ada sebersit harapan dari lubuk hatinya yang paling dalam bahwa lelaki itu akan menepati janjinya. Bahwa lelaki itu akan selalu datang kepadanya, tak peduli sekuat apa ia mendorongnya pergi. Bahwa lelaki itu akan terus memperjuangkan perasaannya. Gilanya lagi, ia menikmati setiap perhatian yang diberikan oleh lelaki itu. Menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. Perasaan macam apa ini? Ia rasa lelaki itu telah berhasil membuatnya gila.
‘Aku harus menghindarinya. Ah ya, benar! Aku harus menghindari Lee Won Gun!’ batin wanita itu. ‘Sekolah inikanluas, ditambah lagi aku tidak mengajar kelas tiga. Aku juga sudah tidak menjadi guru untuk pelajaran tambahannya lagi, kalaupun ia meminta aku akan menolaknya. Ya! Aku akan menghindarinya, dengan begini semuanya akan kembali normal.’ Wanita itu pun bertekad untuk sebisa mungkin menghindari lelaki itu. Meskipun sebenarnya ia sendiri tak yakin, sanggupkah ia bertahan menjauhkan diri dari lelaki itu?
Lee Won Gun. Musim gugur, 2008.
Lelaki itu merasakannya, wanita itu telah menghindarinya. Setidaknya selama satu musim belakangan, ia merasakan wanita itu menjauh darinya. Setiap kali mereka akan berpapasan di lorong sekolah, wanita itu akan mengajak bicara siapapun yang ada di dekatnya dan berpura-pura tidak melihat dirinya. Setiap kali ia datang ke ruang guru, wanita itu akan memasuki ruang kepala sekolah dan terlihat memiliki urusan yang penting dengan kepala sekolah. Wanita itu juga selalu datang ke sekolah setelah agak siang, sehingga kini mereka jarang sekali bertemu ketika perjalanan ke sekolah. Begitu pula ketika pulang, wanita itu selalu pulang sebelum jam pelajaran sekolah berakhir. Lelaki itu merasa kesal. Ia merindukan wanita itu.
‘Ini semua harus dihentikan!’ batin lelaki itu. Ia segera menuju ruang kepala sekolah.
Siang itu seusai jam pelajaran sekolah berakhir, lelaki itu tidak langsung pulang. Ia memasuki ruang kelas kosong di lantai satu. Ruang kelas itu berukuran lebih kecil dari ruang lainnya di sekolah itu, ruang kelas yang memang digunakan khusus untuk pelajaran tambahan. Sepanjang dua tahun kemarin, ia menghabiskan waktu disanaselama tiga kali seminggu, khusus untuk belajar matematika bersama Park Min Young, guru pelajaran tambahannya.
Lelaki itu memandang jam di tangannya. ‘Mengapa dia lama sekali?’ batinnya resah. Ia mengeluarkan sebuah gitar akustik dari tasnya. Perlahan, ia memetik gitar itu, hanya untuk membunuh waktu sambil menunggu orang yang ia nantikan. Lelaki itu menyenandungkan sebuah lagu. Ia terhenti ketika mendengar suara pintu terbuka. Sesosok wanita memasuki ruangan.
Lelaki itu tersenyum kepadanya. “Halo! Lama tak berjumpa,Ibu GuruPark!”
Park Min Young. Musim dingin, 2008.
Wanita itu melangkahkan kakinya dengan lesu. Hari itu jam pelajaran sekolah telah berakhir, tetapi gara-gara lelaki itu, ia memiliki pekerjaan tambahan. Setelah satu musim berjuang keras untuk menghindarinya, pada musim lalu lelaki itu justru melempar sebuah bom kepadanya. Lelaki itu meminta langsung kepada sekolah supaya ia menjadi guru pelajaran tambahannya. Entah jurus apa yang lelaki itu gunakan untuk merayu kepala sekolah, yang jelas ia kini terjebak pada pekerjaan yang sama seperti yang ia lakukan selama dua tahun sebelumnya, yaitu menjadi guru matematika pribadi Lee Won Gun. Namun kali ini situasinya berbeda. Ia tidak lagi sanggup melihat lelaki itu hanya sebagai muridnya. Ah, ia pasti sudah gila. Semua gara-gara lelaki itu. Kenapa ia harus berkata bahwa ia mencintainya?
Wanita itu baru akan membuka pintu ruang kelas ketika ia mendengar suara petikan gitar. Alih-alih membuka pintu, wanita itu tetap berdiri diam di balik pintu. Ia tahu pasti lelaki itu akan menghentikan permainannya ketika ia membuka pintu. Kali itu, ia hanya ingin menikmati permainan gitar dan suara merdu lelaki itu, walau hanya untuk sesaat. Petikan gitar dan suara yang ia tahu sanggup menghipnotisnya.
Lagi-lagi, seolah sanggup membaca pikirannya, lelaki itu memainkan salah satu lagu kesukaannya. Dalam sekejap, ia terhanyut.
Tiba-tiba suara musik itu terhenti. Wanita itu masih terpaku di tempatnya ketika ia mendengar suara lelaki dari dalam ruangan berseru, “Ibu GuruPark, cepat masuk. Kau tidak lelah dari tadi berdiri disana?”
Wanita itu tertegun. ‘Bagaimana bocah itu bisa tahu kalau aku sedang ada di sini?’ sambil menggerutu dalam batin ia membuka pintu perlahan dan memasuki ruangan.
Lelaki itu tersenyum kepadanya, manis sekali. “Duduklah. Mendengarkan laguku akan lebih nyaman kalau sambil dudukkan,”
Wanita itu diam saja. Ia merasa malu tertangkap basah begitu. Dia berusaha tidak membuat suara ketika duduk di hadapan lelaki itu. Setelah ia duduk, lelaki itu kembali memetik gitarnya. “Hari ini aku tidak ingin belajar, aku bosan,”
Wanita itu melotot. “Tidak boleh! Waktu ujianmu semakin dekat, Lee Won Gun!”
“Justru itu, aku rasa aku butuh refreshing sejenak. Kau ingin melihat muridmu ini depresi?”
Wanita itu terdiam sejenak. “Baiklah, terserah maumu. Kalau begitu aku pulang,”
“Tunggu! Aku tidak berkata bahwa kita tidak ada jam tambahan hari inikan. Kita tetap di sini, aku hanya tak ingin belajar. Kau duduk di situ saja menemaniku bermain gitar,”
Wanita itu mencibir. “Aku tidak mau! Enak saja kau mengatur-aturku.”
“Kalau begitu aku akan lapor pada kepala sekolah kalau kau membolos,” ancam lelaki itu. Ia menyengir jahil. Cengiran yang bahkan membuatnya terlihat lebih tampan.
“Apa?! Ah, benar-benar kau ini!”
“Sudahlah,Ibu Guru Park, duduk saja di situ dan nikmati musikku, seperti yang kau lakukan di taman kampusmu dulu.” Lagi-lagi lelaki itu menyinggung soal pertemuan pertama mereka, ketika wanita itu tak tahu bahwa ia adalah siswa SMA. Ketika ia terhanyut dalam permainan musik lelaki itu untuk pertama kalinya. “Kenapa? Apa kau takut akan terpesona olehku? Apa kau takut aku akan membuatmu jatuh cinta?” goda lelaki itu. “Tenang saja, karena aku memang akan melakukannya.”
Raut wajah lelaki itu tiba-tiba berubah serius. “Jangan khawatir,Ibu GuruPark. Kalau kau lelah berlari dariku, maka datang saja kepadaku. Jika kau tidak memiliki kekuatan ataupun keberanian untuk datang kepadaku, tetap saja berada di tempatmu, aku yang akan datang kepadamu.”
Mendengar kata-kata lelaki itu membuat jantung wanita itu berdesir. Ia tak percaya mendengar kata-kata itu terucap dari bocah seperti Lee Won Gun. Namun gilanya, ia mempercayai kata-kata bocah itu.
Lee Won Gun. Musim semi, 2009.
Lelaki itu merasa sudah terlalu lama ia berdiri diam disana, mengamati wanita itu menangis sendirian dari jauh. Ia melangkah mendekati wanita itu.
“Aku sudah bilangkanaku tidak suka melihatmu menangis,” ujar lelaki itu sambil menyodorkan sapu tangannya. Wanita itu menerimanya dengan ragu-ragu. “Kau terlihat lebih cantik kalau tersenyum. Ah, tidak, kau terlihat paling cantik kalau sedang marah padaku.”
“Lee Won Gun,” wanita itu berucap pelan sambil menatap lelaki yang duduk di sampingnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Park Min Young yang aku tahu tidak akan menangis hanya karena dicampakkan oleh lelaki,”
“Tahu apa kau tentangku?!”
“Aku tahu segalanya. Aku mengenalmu dengan baik, mungkin lebih daripada kau mengenal dirimu sendiri.” Tersirat kesenduan dalam nada bicara lelaki itu. “Alih-alih menangis, kau akan meminum bergelas-gelas bir dan menumpahkan keresahanmu pada orang asing yang kau temui dan kau akui sebagai pacar barumu kepada mantan yang telah mencampakkanmu. Alih-alih mengatakan perasaanmu yang sebenarnya, kau akan pergi untuk mencari tempat sepi lalu menangis sendirian. Kau tegas dalam mengajar, tapi kau sangat menyayangi murid-muridmu dan kau memahami mereka dengan baik. Kau terlihat tegar dan kuat di luar, tapi sebenarnya kau juga wanita biasa yang rapuh dan sensitif. Tanpa kau sadari, kau sanggup menebarkan aura positif dimanapun kau berada, karena itulah murid-muridmu pun menyayangimu.”
“Pffft… dasar kau sok tahu!” namun diam-diam wanita itu merasa tersanjung dalam hatinya. Lelaki itu benar. Ia mengenalnya dengan sangat baik.
“Ya, aku memang sok tahu. Tapi satu yang aku tahu, aku tidak suka melihatmu menangis, apalagi karena pria lain.”
Wanita itu terkejut, “Kata siapa aku menangis karena pria lain?”
“Aku melihat semuanya. Aku melihat kau berbicara dengan pria itu. Lalu dia pergi, lalu kau menangis.”
Wanita itu terdiam. Pria tadi adalah pria yang dijodohkan kepadanya oleh kedua orang tuanya. Sepertinya lelaki itu berpikir bahwa ia dicampakkan lagi. Namun lelaki itu rupanya salah mengerti. Ia tidak dicampakkan. Justru wanita itulah yang memilih untuk mengakhiri segalanya, karena ia sadar, bukan pria itu yang ia inginkan dalam hidupnya. Ia menginginkan laki-laki lain. Lelaki yang tidak mungkin ia raih saat ini karena status guru-murid yang mengikat mereka. Lelaki yang saat ini duduk disampingnya. Ia tak ingin mengakui perasaannya, ia takut mengatakan perasaannya. Semua itu membuatnya gila. Itulah yang membuatnya menangis saat itu. “Lebih baik kau pergi, Lee Won Gun.”
“Katakan bahwa kau mencintai orang lain. Katakan bahwa kau akan menikahinya, bahwa itu yang benar-benar kau inginkan. Katakan semua itu, sehingga aku bisa pergi dengan tenang darimu. Tidak, aku tidak akan tenang, tapi setidaknya aku mengerti bagaimana perasaanmu sebenarnya.”
Wanita itu terperanjat. “Tapi aku memang benar-benar tidak sedang jatuh cinta pada orang lain, Lee Won Gun. Ada apa denganmu sebenarnya?”
“Kalau begitu katakan bahwa kau tidak menyukaiku. Katakan bahwa kau membenciku dan tidak menginginkanku. Katakan semua itu jika kau memang ingin aku pergi jauh darimu. Selama ini aku sudah mengatakan perasaanmu kepadamu. Kau pun tahu bagaimana perasaanku. Tapi lihat apa yang kau lakukan? Kau tidak berkata iya, tapi juga tidak berkata tidak. Apa kau tahu betapa bingungnya aku selama ini?”
‘Aku juga bingung dengan diriku sendiri, Lee Won Gun.’ Wanita itu merasa terpojok. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Kau ini kenapa, Lee Won Gun? Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil?”
“Aku memang hanya seorang anak kecil,Ibu GuruPark. Tapi setidaknya orang yang kau sebut sebagai anak kecil ini tidak takut untuk jujur kepada perasaannya sendiri. Orang yang kau anggap anak kecil ini tidak takut untuk mengatakan apa yang ia rasakan, dan memperjuangkan perasaannya. Tidak seperti seseorang yang mengaku dewasa yang aku kenal, tetapi terlalu pengecut untuk menjadi jujur kepada dirinya sendiri.”
Lelaki itu melangkah pergi, meninggalkan wanita itu dengan perasaan kacau balau.
“‘Cause even the stars they burn, some even fall to the earth. We’ve got a lot to learn. God knows we’re worth it. No, I won’t give up. I don’t wanna be someone who walks away so easily. I’m here to stay and make the difference that I can make. Our differences they do a lot to teach us how to use the tools and gifts we got. We got a lot at stake, and in the end, you’re still my friend, at least we did intend for us to work, we didn’t break, we didn't burn. We had to learn how to bend without the world caving in. I had to learn what I’ve got, and what I’m not, and who I am.” –Jason Mraz, I Won’t Give Up
Park Min Young. Musim panas, 2009.
Wanita itu sedikit terkejut ketika sesosok lelaki datang ke tempat itu. Lelaki itu berjalan mendekatinya dengan setelan jas rapi. Hari itu ia terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Jantung wanita itu berdesir. Ia tersenyum kepada lelaki itu.
“Selamat atas kelulusanmu, Lee Won Gun.”
Lelaki itu tersenyum. “Terima kasih,Ibu GuruPark. Ah, aku rasa, aku tidak bisa memanggilmu begitu lagi sekarang, kau sudah bukan guruku lagi. Terima kasih, Park Min Young,”
Mendengar lelaki itu menyebut namanya seperti itu, sesuatu seperti melompat di dalam dadanya. Ia menjadi salah tingkah. Harus segera diakhiri. “Baiklah. Bersenang-senanglah dengan teman-temanmu ya, aku pergi dulu.” Lagi-lagi, wanita itu berusaha pergi dari lelaki itu, mengingkari perasaannya sendiri.
Lelaki itu meraih lengan wanita itu. Ia membalikkan badan wanita itu. “Aku sekarang sudah bukan muridmu lagi. Mulai sekarang, lihatlah aku sebagai seorang pria.” Ujarnya tegas. Ia mencium bibir wanita itu, pelan dan dalam. Wanita itu berusaha mendorong badan lelaki itu, namun ia tak berdaya ketika lelaki itu menahannya kuat. Ciuman lelaki itu begitu hangat, membuatnya terhanyut. Wanita itu akhirnya menyerah. Pertahanannya telah runtuh. Ia membalas ciuman lelaki itu. Mereka berciuman, lama dan dalam.
Ciuman itu terhenti ketika wanita itu menyentuh wajah Lee Won Gun dan mendorongnya perlahan. “Lee Won Gun…, aku…, aku akan menunggumu. Aku telah mencoba untuk mendorongmu jauh dariku, mencoba untuk melepaskanmu, tetapi kau selalu datang untukku, menarikku, tidak melepaskanku. Aku telah menunggu selama ini, dan aku pikir aku bisa menunggu lebih lama lagi, karena aku tahu kau akan datang untukku. Aku rasa…, aku jatuh cinta padamu.”
Lelaki itu tersenyum. Ia mencium bibir wanita itu, kali ini tanpa perlawanan.
Akhirnya, wanita itu telah menyeberangi lautan yang tak mungkin ia seberangi.
Dua puluh enam tahun Park Min Young telah jatuh cinta kepada depalan belas tahun Lee Won Gun.
“I won’t give up on us. No, I’m not giving up. God knows I’m tough enough. I am tough, I am loved. We’ve got a lot to learn. We’re alive, we are loved. God knows we’re worth it. And we’re worth it. I won’t give up on us, even if the skies get rough. I’m giving you all my love. I’m still looking up.” –Jason Mraz, I Won’t Give Up