Dalam hidup terkadang ada permasalahan yang tidak terselesaikan melalui diri kita, meskipun apa yang terjadi telah merugikan lahir dan batin kita dan itu berdampak pula kepada cara kita memandang kehidupan.
Sekelumit rasa kecewa yang seolah tidak tuntas kini menemukan jawabannya, bahwa tidak ada keburukan yang tidak dibalas meskipun itu hanya sebesar biji sawi. Pun tidak ada kebaikan yang tidak dibalas, meskipun kebaikan itu hanya sebesar biji sawi pula.
Itulah bukti akan Maha Adil dan Maha Sempurna Allah. Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya sedikitpun. Tidak ada sesuatu hal yang terluput dari-Nya.
Maka, dari jalan kehidupan inilah aku menyadari, bahwa apa-apa yang belum terselesaikan di masa lalu, pada hakikatnya akan menemukan penyelesaiannya sendiri, meskipun kesudahan itu terjadi melalui wasilah orang lain.
Ya, karena tidak bisa dimungkiri setiap jiwa yang bermasalah dengan sesama manusia, akan tetap melahirkan masalah mau sesempurna apapun ia berusaha memoles dirinya. Selama polesan itu hanyalah topeng, maka kebaikan yang coba ditunjukkan hanyalah sebuah kedustaan.
Ketika niat kita berbuat baik hanya sebatas agar dipandang baik oleh sesama manusia, maka itu tidaklah cukup. Kita perlu merendahkan diri kita dengan sejujur-jujurnya di hadapan Allah, taubatan nasuha dan meminta penghalalan kepada orang yang pernah kita zalimi. Jangankan memoles diri agar dipandang baik, taubat kepada Allah pun tidak cukup jika itu menyangkut hak sesama manusia.
Dari perjalanan ini aku menjadi lebih tenang, bahwa kezaliman yang seakan tidak terbalas itu sebenarnya pasti akan mendapat balasan yang setimpal, melalui keagungan-Nya. Mungkin sebagai pihak yang dirugikan kita tidak mengetahui balasan tersebut, tapi keadilan Allah pasti akan terlaksana.
Bukan alasan mendendam, namun guncangan kehidupan dari orang yang dipercaya atau dari orang yang dipandang shalih itu bisa mengguncang iman dan melemahkannya. Terkadang sebagai orang yang merasa kecil dan tidak berdaya, kita sering kali meragukan balasan atas apa yang terjadi pada diri kita, karena sering kali secara zhahir orang yang berbuat kezaliman justru terlihat semakin diberikan kenikmatan duniawi. Padahal balasan itu adalah janji Allah dan Dia pasti akan menepati janji-Nya.
Sebuah koreksi besar untuk diriku pribadi, bahwa bukanlah fokus kita untuk mengetahui apakah mereka dibalas atau tidak, fokus kita seharusnya adalah yakin akan keadilan-Nya. Fokus kita seharusnya adalah terus melesat di dalam perjalanan iman dan taqwa. Fokus kita seharusnya adalah bagaimana memperbaiki tauhid kita yang mulai porak-poranda. Fokus kita seharusnya adalah berusaha meminta tolong keselamatan atas hati kita.
Sungguh, tidak ada kezaliman yang terluput dari keadilan-Nya, sebagaimana janji-Nya yang tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berbuat baik.
Bukan urusan kita terkait kapan, di mana dan dengan cara apa kezaliman itu dibalas, karena Dia berkehendak sesuai dengan Hikmah dan Keagungan-Nya.
Tugas kita adalah terus berserah diri, memperbaiki diri, mendekat terus kepada-Nya. Keselamatan agama kita lebih utama, karena kebanyakan orang yang berbuat zalim itu tidak hanya melakukan kepada satu orang, melainkan hal itu sudah menjadi tabiat dan semakin dia seolah didiamkan oleh Allah, maka itulah balasan dari tipu dayanya selama ini, yakni hatinya dibuat merasa aman dari hukuman Allah.
Tidak perlu risau oleh balasan atas keburukan mereka, yang perlu kita risaukan adalah diri kita sendiri. Apakah ujian yang mengguncang tersebut membuat kita berbalik arah ataukah iman kita tetap teguh dan tak goyah.
Semoga Allah memberikan hati yang Istiqomah di atas jalan iman dan taqwa, seberat apapun ujian yang menerpa. Aamiin Allahumma aamiin.
Selasa, 16-04-2024 | 14.37
Semoga ketenangan ini bisa terus ada.