Bagian 4
Mataku belum bisa mengantuk, ku coba putuskan untuk membuka kembali laptopku. Kali ini bukan untuk mengerjakan tugas . Namun untuk mengetik-ngetik tak jelas. Sudah beberapa hari ini suasana hatiku tidak stabil. Semangatku sering hilang. Aku yang biasa ceria kini lebih banyak sering diam. Aku yang biasa banyak aktivitas kini lebih memilih mengurung diri di kamar. Berjam-jam tanpa ingin diganggu orang lain. Aku yang kini lebih suka untuk mematikan handphone dan menjauh dari media sosial. Terkadang aku butuh suasana lengang, untuk menjauh dari hiruk pikuk yang membuat lelah hati dan pikiran. Media sosial yang menurutku merupakan tempat ramai dengan segala kebisingannya. Lebih ramai dari macetnya jalanan kota saat jam berangkat sekolah dan jam pulang kantor. Aku merasa lelah dengan rutinitas yang itu-itu saja. Aku ingin sesuatu yang baru. Sesekali aku ingin keluar dari zona nyaman , berkenalan dengan orang baru,dan mendapat ilmu baru.
Sore ini di tengah guyuran hujan deras menyapu bersih jalanan depan rumah, volume radio ku putar keras-keras. Meski cuaca sedang tak bersahabat , aku mendengar cukup jelas tentang pengumuman event tahunan negeri ini. Komunitas menulis tersohor akan mengadakan writing camp. Acara yang diselenggarakan gratis, namun penyeleksiannya sangat ketat. Camp ini merupakan pelatihan menulis yang diadakan full selama sebulan di sebuah asrama dengan mentor para penulis hebat negeri ini. Kami akan diberikan materi dan coaching secara langsung dari mereka-mereka. Wah hebat betul rasanya. Kalau tahun kemarin asrama tempat writing camp berada di kota ini. Namun sayang, aku masih SMA sehingga belum bisa mengikutinya. Event ini hanya ditujukan untuk mahasiswa. Tahun ini aku sudah resmi menjadi mahasiswa dan rasanya sangat disayangkan kalau tidak mengikuti event ini. Menjadi penulis sudah lama kuidam-idamkan. Dan penulis merupakan salah satu profesi paling disegani di negeri ku ini. Sembari mengisi liburan akhir semester, aku pikir akan tepat jika bisa turut serta dalam camp ini. Betapa mengesankannya. Aku sudah terbayang banyak ilmu yang nantinya kudapat.
Dengan sepenuh hati kucoba utarakan ke Ibu. Meski aku tak yakin ibu akan memberi ijin. Sesuai perkiraan, ibu belum setuju kalau aku mengikuti camp ini, lokasinya yang berada di kota lain salah satu sebabnya. Ternyata tidak mudah untuk meyakinkan ibu. Total dua hari ini ku coba berbagai cara hingga cara yang paling menurutku amatlah kekanakan, yaitu menangis di hadapannya. Aku benar-benar seperti anak kecil yang minta diberi uang untuk membeli permen di toko sebelah. Sebenarnya aku malu tapi sudahlah malu itu kusingkirkan dulu. Ibu amatlah perasa, dan ibu pasti akan iba lalu mengijinkanku pergi. Minimal ikut seleksi dulu. Namun ternyata rencanaku gagal, ibu malah memberiku amanah yang lebih berat yaitu menjadi penanggung jawab depot milik ibu selama tiga hari ke depan, karena ibu akan keluar kota , ke rumah sanak saudara. Seleksi akan dimulai minggu depan sedangkan pendaftarannya tinggal empat hari lagi. Aku menghela nafas pelan.












