Jawabanya di Ujung Langit
Ustadz Edgar Hamas dalam buku "Untuk Kalian Yang Rindu Perubahan" menjelaskan bahwa setiap permulaan adalah fase yang paling berat, terkhusus proses perubahan yang fundamental untuk masa depan. Banyak orang takut di fase ini, tentu dengan berbagai alasan.
Misalnya sudah berada di zona nyaman, merasa hidup baik-baik saja, tidak punya motivasi, dan alasan dunia lainya. Akhirnya hidup sekadar mengalir tanpa mau bersusah payah dalam berproses.
Memang proses memulai itu begitu sulit. Namun kalau kita sudah melewatinya, hati merasa lega dan hidup terasa lebih tenang.
Memang, pasca wisuda kemarin, hati menjadi sedikit tenang. Namun tak berselang lama, urusan-urusan baru mulai bermunculan menunggu untuk diselesaikan dan yang pasti, segala pertanyaan akan bayangan masa depan.
Ya namanya juga hidup. Urusan baru dan masalah akan datang silih berganti. Harus sedikit overthinking untuk menentukan langkah taktis kedepanya.
Petang kemarin, ku putuskan untuk melakukan pertemuan di salah satu kafe estetik dengan kumpulan buku bekas yang sangat menggoda mata.
Sembari menikmati senja, terselip kabar bahagia dari adik-adik binaan atas pencapaian mereka belakangan. Ada yang diterima S2, ada yang selesai dengan huru-hara sidang skripsi S1nya, dan ada yang baru diterima kerja menjadi guru. Alhamdulillah. Mereka semua memiliki permulaan yang berat untuk mempersiapkan pencapaian itu.
Sore itu aku lebih banyak mendengar dan mengapresiasi, sembari menyelipkan nasihat sederhana tentang kehidupan. Tentunya untuk diriku juga.
Kalau sudah selesai di satu fase kehidupan, kita harus segera beranjak untuk menyiapkan fase selanjutnya. Jangan lupa minta petunjuk Yang Maha Kuasa.
Di tempat berbeda tanpa sengaja aku bertemu dengan salah satu asatidz senior yang kebetulan sedang melalukan pertemuan rutin. Sembari menunggu hujan reda, aku berkesempatan berbincang banyak hal tentang kiprah Para Muassis dakwah dan serba-serbi kehidupan orang dewasa.
Dua hal yang menjadi keunggulan generasi muassis menurutku adalah bagaimana proses pembelajaran pekanan mereka di fase awal menekankan komitmen terhadap Tauhid yang dipadukan dengan penerapan rukun-rukun ukhuwah yang bertahap.
Sebagai tambahan konteks, generasi muassis memang memiliki waktu studi yang lumayan panjang dan jumlah kader yang bisa dihitung jari.
Pembahasan mengenai tauhid, syahadatain sampai pada aspek realisasi begitu dalam, tematik, dan dikemas sederhana dengan bagan rasmul bayan sebagai bekal aktivis dakwah kampus.
Untuk urusan ukhuwah dibentuk dengan kebiasaan kecil seperti menghadiri undangan, menjenguk orang sakit, munashoroh, sampai level expert seperti liqo/silaturahmi lintas kota.
Hematku, dari perpaduan dua hal itu yang memberikan kekuatan amal yang kontinyu dan resilien, di sisi lain tidak melupakan budaya mencari ilmu, meski itu hanya sekadar tafsir quran di umur yang sudah mencapai separuh abad.
Mendengar cerita poro-poro ini entah mengapa hal-hal yang ku risaukan sedikit terjawab dan semakin tenang untuk memantapkan langkah.
Di pertemuan itu juga, aku dikenalkan dengan satu kitab yang berjudul "Tanbihul Ghafilin" karya Abu Laits As-Samarqandi yang berarti "Peringatan bagi Orang-orang yang Lalai"
Kitab ini berisi nasihat-nasihat yang bertujuan menyadarkan manusia dari kelalaian terhadap tugas dan tujuan hidup sesungguhnya, serta mengarahkan kembali ke jalan takwa.
Bab Awal pun sudah membahas tentang hal yang penting dan Jleb sekali, yaitu perkara ikhlas. Dari aspek ikhlas beribadah, berdakwah, dan urusan dunia lainya.
Banyak manusia mampu menipu manusia lain dengan sifat munafiknya, tapi tidak dengan Allah yang mampu melihat isi hati kita semua.
Keikhlasan menjadi awalan penting dalam setiap aktivitas dan perencanaan hidup. Luruskan niat dan persiapkan dengan sebaik-baiknya. InsyaAllah segala bentuk tanya dan risau manusia akan mendapat jawaban dari Ujung Langit. Dan sekali lagi, Allah Maha Mengetahui segala isi hati manusia.
Mengutip perkataan dari KH. Hilmi Aminuddin :
"Dinamika adalah tuntutan Al-Quran dan sunnah. Kita harus memiliki vitalitas, dinamika, dan energi yang tinggi. Tentu kekuatan yang kita harapkan adalah kekuatan yang rabbani yang nahnu aqwiya birabbina (kita kuat bersama Rabb kita. Kita menjadi kuat karena kedekatan dengan Allah, karena ma'iyyatullah"
Semoga Allah mudahkan segala urusan kita.
Surakarta, 22 Agustus 2025. Ditulis dengan perasaan yang sangat heartwarming.