Aku pengen sharing dikit tentang materi penerjemahan tadi bersama ust. Hamim Thohir Musa, Lc
Beliau tamatan LIPIA, Jakarta. Karir penerjemahan beliau udah begitu luas dan profesional banget. Aku coba sebut seingatku:
- Pernah jadi penerjemah istana waktu zaman pak SBY
- Pernah jadi penerjemah mabes polri juga.
- Pernah jadi penerjemah kedutaan Australia
- Pernah jadi penerjemah kedutaan Jerman juga
- Pernah jadi penerjemah Prof. Wahbah Az-Zuhaili di mahkamah pengadilan Indo.
- Pernah jadi penerjemah manual book Garuda Indonesia.
- Beliau juga sering jadi penerjemah di konferensi2 internasional. Salah satunya penerjemah untuk mantan menteri luar negri Alwi Shihab.
- Kalo terjemahan buku, dokumen, dan surat2 udah ga terhitung lagi kata beliau... Kwkw
- Beliau punya perusahaan terjemah sendiri namanya Pusat Penerjemah
Dunia terjemah profesional sendiri bisa dibagi jadi 3:
Pertama, Tulisan. Ini banyak bentuknya; dokumen, surat2, buku, surat kabar, dll.
Kedua, Lisan -langsung. Biasanya ini sering di konferensi2 internasional. Penerjemah menerjemahkan langsung apa yang dikatakan pembicara tanpa jeda. Para penerjemah di tempatkan di satu pos, kemudian suaranya akan sampai ke headset tiap2 peserta konferensi.
Kata beliau di samping bayaran nya mahal dan waktunya singkat sekitar 4 jam, tapi bagian ini sangat melelahkan. Karena penerjamah dipaksa terus mendengarkan, ngomong, fokus, tanpa jeda.
Dari beliau aku tahu gimana dunia profesional terjemah dan gimana tantangan2 yang sering dihadapi penerjemah. Di antara tantangannya:
- Deadline. Karena itu seorang penerjemah ga hanya baik saja, tapi harus cepat. Kata beliau seorang dikatakan penerjemah jika ia mampu menerjemahkan 20-30 lembar buku/hari.
- Unpaid. Ga dibayar dan dibayar ga selayaknya. Ini biasanya terjadi kalo baru-baru mulai. Atau ketemu klien y ga profesional (bisa jadi karena emng klien buruk atau karena kebetulan klien adalah kenalan penerjemah... kwkw)
- Bad client. Ustad Hamim cerita kalo dia pernah ngalamin ini waktu ada proyek sama salah satu negara teluk ( nama negaranya disensor). Beliau udah nerjemahin ratusan dokumen. Tapi waktu hasil terjemahan diserahin, klien ga mau bayar karena nemu satu kesalahan. Satu doang. Itupun bukan subtansial.
Penerjemah profesional seperti beliau gajinya bisa 50-100 jt sekali terjemah buku. Apalagi proyek terjemahnya dari pemerintahan dan kedutaan.
Terkait gaji penerjemah profesional, ada satu hal yang aku ingat dari beliau yaitu:
Gratisan bisa menzolimi orang.
Termasuk bidang profesional yang lain. Mungkin kita melihat pekerjaan seperti designer dengan pandangan remeh. Apalagi ketika mereka menawarkan harga yang menurut kita ga wajar.
"cuma duduk depan komputer doang sampe 10 jt!? "
Sebenarnya harga itu bukan hanya harga dia bergadang sampe subuh aja, tapi lebih-lebih harga itu untuk usahanya bertahun-tahun sampai dia berhasil jadi desaigner profesional.
Begitu juga penerjemah profesional. Jadi penerjemah itu ga gampang. Orang mungkin menganggap asal lulus kampus arab otomatis bisa jadi penerjemah. Mindset begini salah total.
Kalau semua lulusan kampus arab bisa jadi penerjmah, trus kenapa sampe sekarang penerjemah masih dikit?
Kata ust Hamim, sebelum jadi penerjemah profesional, beliau sempat kursus bahasa inggris. Beliau ngeluarin uang jutaan.
Di samping uang, juga waktu. Bayangkan aja gimana capek dan pusingnya nerjemahin 30 lembar sehari. Itu belum masuk tahap penelitian/analisa buku, identifikasi sumber, tahap penyuntingan, dll.
Nah, bayangkan kalo kita bayar profesional ga selayaknya. Atau kita minta gratisan (termasuk dengan alasan teman dekat misalnya). Ga kebayang gimana kita menzolimi si profesional tadi. Uangnya habis, waktunya terkuras, apalagi dia punya keluarga yang harus dinafkahi...
(Serius, teman yang minta gratisan mulu bukan teman namanya!)
Beliau sempat ditanya sejak kapan beliau berlatih terjemah. Beliau jawab sejak smp. Beliau dari smp baca Quran selalu liat artinya. Itu yang membuat skill terjemah beliau terlatih.
O iya, persis seperti beliau, sejak masuk SMP, aku mulai ngafal Quran pake arti. Sampai lima belas juz hafalanku. Karena memang ngafal pakai arti sangat membantu proses menghafal. Apalagi ayatnya adalah ayat cerita. Kalo kita paham ceritanya, kita bisa tahu apa ayat selanjutnya kalau di tengah ayat ternyata lupa.
Sebenarnya, dari gaya ngafal ini aku banyak dapat banyak manfaat. Kosa kata bahasa Arabku makin banyak. Aku gampang paham kaedah nahwu-sharaf. Aku bisa merangkai kalimat yang bagus ketika menerjemahkan kalimat berbahasa arab.
Makanya, aku sarankan bagi yang mau ngafal quran, trus paham bahasa arab walau dikit (waktu SMP kualitas bahasa arabku masih jauh), mulailah ngafal pake arti. Serius! Lebih gampang!
Selain ngafal quran pake arti, beliau juga terbiasa baca 3 buku sehari. Berarti paling dikit bacaan beliau 300 halaman per hari.
Jadi, sebenarnya di balik profesionalitas seorang dan juga bayaran yang tinggi, ada tetes keringat yang mengiringi. Ada usaha lebih yang mungkin tak dilakukan kebanyakan orang.
Pokoknya, hari ini aku beruntung hadir sharing session bersama beliau. Udah lama aku ga nemu orang yang bisa membakar lagi semangat-semangat yang sempat layu...
Gimana sebenarnya mempunyai anak? apakah melahirkan anak adalah sebuah kebaikan? atau malah kejahatan?
Karena menurutku ketika seorang melahirkan anak, berarti dia menjerumuskan seorang dalam kesulitan dan kejahatan dunia. Padahal mereka tak meminta dilahirkan ke dunia. Seandainya benih-benih itu bisa ditanya apakah mereka mau dilahirkan, aku yakin mereka kan jawab dengan lantang agar tak usah saja dilahirkan.
Terus ku pikirkan rasanya makin kejam saja. Kenapa manusia dituntut dengan banyak hal, padahal seandainya mereka bisa memilih, aku yakin mereka lebih milih untuk tak diciptakan.
Mengapa rasanya terlahir ke dunia bagiku kini adalah sebuah musibah??
Melihat bayi lahir, yang muncul bukan kesenangan yang membuncah. Tapi malah kesedihan dan penyesalan.
"Sungguh malang nasibmu harus terlahir ke dunia ini" batinku.
Ingin rasanya ku hujat orang tuanya, mengapa kalian harus melahirkannya.?? takkah kalian merasa iba dengannya??
Aku paham kenapa Abu bakar berandai kalau saja ia hanya reremputan atau pohon yang beroyang. Bukan manusia.
Lupakan apa itu pendidikan anak atau parenting.
Ada hal yang lebih patut jadi pertanyaan,
Apakah melahirkan anak adalah kebaikan atau kejahatan?
Sebagai muslim kita percaya dan yakin bahwa kita di dunia ini seperti musafir. Dunia bagi kita hanya tempat singgah dan berteduh sementara di tengah perjalanan panjang menuju tujuan akhir yaitu akhirat.
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” [Surat Al-Insyiqaq 6]
Maka, seyogyanya dalam setiap visi dan misi hidup kita selalu dihiasi dengan nilai2 spiritual.
Ketika sebuah organisasi, komunitas atau perusahaan mampu merancang program semakin jauh kedepan maka pertanda kelompok tersebut semakin bermutu.
Begitu juga manusia. Semakin cerdas seorang maka semakin jauh visi dan tujuan hidupnya.
Sebaliknya, semakin pendek tujuan hidupnya maka semakin menandakan kebodohannya. Lihat saja binatang. Yang mereka cari hanya apa y di depan mereka. Tak punya visi dan tujuan hidup yang jauh.
Maka, seorang muslim haruslah visioner. Orientasinya harus paling jauh. Dan yang paling jauh adalah akhirat.
Nah, kalau saya lebih suka mengkategorikan goal-goal berdasarkan hal paling fundamental; yaitu esensi penciptaan manusia. Dari sini kemudian seorang manusia bertolak merancang goal-goal hidupnya.
Pertama: Beribadah kepada Allah (visi veritikal)
Islam dalam konsep ibadahnya mengenal bahwa ibadah adalah segala sesuatu y dipersembahkan untuk mengundang cinta Allah. Makanya, ibadah dalam islam tidak terbatas ritual mahdoh saja.
Di dalam hadisnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda
إنما الأعمال بنيات وإنما لكل امرء ما نوى
“sesungguhnya amalan itu tergantung niat, dan tifak ada bagi seorang kecuali apa yang ia niatkan.”
Mengerjakan kewajiban syariat adalah ibadah.
Menjauhi yang dilarang syariat adalah ibadah.
Mengikuti sunnah nabi adalah ibadah.
Melakukan hal yang mubah dengan niat beribadah adalah ibadah.
Mencari nafkah untuk keluarga adalah ibadah.
Bahkan melakukan seks dengan istri adalah ibadah.
Seorang muslim bisa menjadikan setiap helaan nafas dan langkah kakinya adalah ibadah yang kemudian menjadi pemberat timbangan di akhirat nanti.
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Surat Al-An'am 162]
Kedua: memakmurkan bumi materi dan nilai (visi horizontal)
Kalau dalam bahasa self-development ini disebut dengan kebutuhan pasar. Tapi, kalau saya lebih suka menyebutnya sebagai visi keumatan.
Di tahap ini seorang muslim harus memikirkan apa yang bisa mereka berikan untuk manusia dan bumi. Karena mereka sadar manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Mereka diciptakan untuk bumi.
Ketiga: meningkatkan kualitas diri (visi individual)
Inilah yang nanti menjadi fokus dari goal-goal pribadi. Karena untuk bisa memberi kita harus memiliki. Karena teko kosong tak bisa memberikan apa-apa. Investasi untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum investasi untuk org lain. Karena dalam tugas memakmurkan bumi, manusia adalah aktor utama dalam tugas ini. Karena manusia juga bagian dari bumi maka rusaknya manusia berarti rusaknya bumi. Allah di dalam firmanNya menyebut org kafir sebagai perusak di muka bumi:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Surat An-Nur 55]
Misalnya, ketika kamu tak sadarkan diri dan tiba-tiba di kirim ke Jepang tanpa tujuan apapun. Sampai di bandara kamu bingung mau ngapain. Kamu benar-benar ga tahu tujuan Anda di negara itu. Kamu sebagai apa? kamu akan kemana? kamu pun mulai beraksi. Random. Masih tanpa tujuan. Kamu mulai keluar bandara, nyoba nanya-nanya ke orang sekitar, cari tempat untuk bermalam setidaknya untuk hari ini. Nyari makanan. Sementara itu kamu masih ga tahu tujuanmu. Pokoknya terus bekerja asal bisa hidup.
Misal kedua, kamu berangkat ke Jepang menggunakan pesawat. Dari awal kamu ke sana dengan tujuan untuk belajar di salah satu kampus terbaik Jepang. Setiba di bandara, kamu tahu harus kemana. Kamu harus cari transportasi umum yang bisa ngantarin kamu ke hotel. Dari hotel besoknya kamu udah tahu harus mengurus administrasi kampus. Setelah itu baru kamu bisa masuk kelas setiap pagi.
Yang pertama adalah keadaan ketika manusia ga tahu tujuan hidupnya. Mereka ga tahu apa tujuan mereka dan kemana mereka akan berlabuh. Mereka cenderung berbuat secara acak. Ga punya rencana. Mengikuti siklus kehidupan tanpa makna.
Yang kedua adalah keadaan ketika manusia tahu tujuan hidupnya.
Mereka tahu apa tujuan mereka dan kemana mereka akan berlabuh.
Mereka punya rencana, planning, dan rancangan hidup bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Semua itu karena mereka tahu tujuan mereka.
Hanya orang-orang yang memiliki prinsip benar dan kokohlah yang akan dapat membuat perubahan ke arah yang lebih baik dalam setiap sistem dari dimensi kehidupan