Tahun 2020 adalah tahun yang dipenuhi pergolakan pikiran. Di penghujung tahun ini aku ingin merefleksi pikiran-pikiranku. Apa saja fokus pikiran-pikiranku, gimana kontradiksi yang terjadi, gimana perubahannya, apa saja yang banyak mempengaruhiku di 2020.
1. Keresahanku terhadap sistem perkuliahan di Azhar
Di Desember 2019 aku mulai mengalami keresahan tentang pendidikan. Aku resah di sistem perkuliahan Azhar. Aku galau. Sistem perkuliahan s1 (khusus ilmu syar'i) Azhar cuma mencetak mesin penjawab soal. Azhar sangat miskin "assessment". Kemampuan mahasiswa cuma dinilai lewat ujian semester 1&2. Itupun cuma berbentuk hafalan. Tak ada melibatkan kemampuan critical sama sekali.
Aku resah sekali, karena kuliah di Azhar tak membentuk kompetensi sama sekali.
2- Arti pendidikan bagiku
Pertama, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Artinya, pendidikan haruslah usaha untuk memberdayakan potensi utama manusia yaitu akal.
Kedua, pendidikan harus fokus pada kemampuan inti akal manusia yaitu critical thinking. Karena critical thinking inilah yang membedakan manusia dengan hewan dan robot.
Ketiga, tantangan era industri 4.0 semakin memperjelas arti pendidikan bagi manusia. Manusia bukan bank penyimpanan informasi. Tapi, manusia diciptakan sebagai problem solver bagi permasalahan dunia.
Keempat, Ada empat utama fokus pendidikan:
1- Literasi. Di sini peran mata pelajaran bahasa dan sastra.
2- Kalkulasi/logika. Di sini peran mata pelajaran matematika. Agar seorang mampu berpikir logis dan sistematis.
3- Sains. Ini agar seorang memahami alam yang disekitarnya. Dengan Sains seorang terbantu dalam mengenali hakikat-hakikat dunia. Juga sains berkaitan erat dengan kemajuan peradaban manusia.
4- Karakter. Dalam program Mas Mentri Nadiem, beliau menyebut ini juga. Karena tiga sebelumnya takkan berguna tanpa karakter seperti kejujuran, toleransi, dll.
3- Tujuan Penciptaan manusia
Awal 2020 adalah quarter life crisis dalam hidupku. Aku hilang arah dan tujuan. Aku benar-benar mempertanyakan segala hal seperti, "apa tujuan kuliah?", "apa tujuan manusia berpendidikan?", "apa tujuan aku hidup?", "apa tujuan manusia diciptakan?"
Salah satu pertanyaan yang berhasil terjawab adalah tujuan penciptaan manusia.
Pertama, tujuan individu. Menjadi insan falsafi atau manusia filsuf. Menurutku manusia filsuf adalah model manusia paling ideal. Karena dia berhasil memanfaatkan anugrah terbesarnya sebagai manusia.
Kedua, tujuan vertikal. Yaitu menyembah dan mengesakan Tuhan.
Ketiga, tujuan horizintal. Yaitu memakmurkan bumi; nilai dan materi. Seandainya manusia cuma diciptakan untuk beribadah maka Tuhan tak perlu susah payah menurunkannya ke bumi. Karena manusia diciptakan untuk satu tujuan besar dan mulia yaitu khilafatul ardh
4- Apa yang bisa aku berikan untuk dunia?
Aku galau karena setelah aku paham tujuan penciptaan manusia adalah menyelesaikan permasalahan dunia, aku malah bingung menentukan kontribusiku untuk dunia. Masalah apa dunia apa yang bisa aku selesaikan. Apalagi aku merasa jurusan agama ku tak bisa menyesaikan masalah dunia.
Sampai, aku pengen lintas jurusan saja ketika S2 nanti. Karena aku merasa agama tak menyelesaikan masalah dunia sama sekali.
Tapi, perenunganku memberikanku jawaban:
1- Ada yang namanya amal jama'i. Kita bekerja dalam pos masing-masing. Bidang-bidang yang kita tekuni akan saling membutuhkan satu sama selain. Seperti suatu saat yang bekerja di bidang kedokteran akan butuh rujukan agama. Saat itulah mereka yang fokus di bidang agama berkontribusi. Begitu sebaliknya.
2- Daripada fokus pada kontribusi apa lebih baik fokus membentuk diri, menambah kapasitas dan mencari sebanyak-banyaknya. Setelah itu, biarkan dunia yang menuntunmu di bidang apa kamu bisa berkontribusi. Karena, "cerek yang kosong tak memberikan apa-apa".
5- Apakah manusia masih membutuhkan agama?
Aku resah melihat kenyataan negara-negara mayoritas muslim terbelakang dan tertinggal. Sementara itu, barat yang bisa dikatakan "tak beragama" maju.
Aku bingung dengan narasi "kebangkitan islam". Kenapa harus ada embel-embel islam-nya? apakah kita sebutuh itu dengan islam untuk bangkit? toh, mereka yang maju sekarang bukan orang islam. Tak beragama malah.
Dengan embel-embel islam malah konflik semakin meruncing. Konflik-konflik ini yang membuang energi dan pikiran umat secara cuma-cuma.
Jadi, apakah manusia masih butuh agama? atau apa posisi agama bagi manusia?
6- Kritikku terhadap tradisi tahfiz di Indonesia
Tradisi tahfiz di Indo menurutku sudah mereduksi makna pendidikan. Orang berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya ke sekolah yang punya program hafalan quran yang banyak. Sekolah-sekolah berlomba pamer siswanya yang paling banyak hafalannya.
Tradisi tahfiz di indo cuma menciptakan atlet MTQ. Cuma mencetak mesin-mesin penghafal. Apa yang mau dibanggakan dari hafalan sekian juz tapi ga paham maknanya sama sekali??
Hafalan Quran tanpa memahami maknanya ga akan menghilangkan kebodohan. Kalau kebodohan tak hilang, maka jangan bermimpi umat akan maju.
Kita tak dituntut untuk menghafal quran. Kita cuma dituntut untuk membaca quran dengan benar (tajwid) dan memahami maknanya.
Mukjizat Al-Quran bukan pada hafalannya, tapi pada makna dan implikasinya. Al-Quran harus dipahami sebagai produk pemikiran. Bukan kitab magis yang cuma dilafazkan bisa menghilangkan penyakit.
Begitu perjalanan pikiranku secara ringkas di 2020. Sengaja aku menuliskannya agar menjadi bahan evaluasi bagiku. Juga agar aku bisa melihat bagaimana proses perjalanan "aku" sebagai manusia. Karena aku menganggap diriku adalah objek pembelajaran. Aku belajar banyak dari diriku. Dinamika hidup; galau, sedih, susah, jatuh, bangkit, senang dan bahagia, bagiku adalah satu kesatuan dari "aku" sebagai manusia.
Satu hal yang baru-baru ini aku pahami tentang hidup, "no feeling is final".
Tahun ini memang berat. Tapi, efek dari wabah ini memberikan waktu lebih luas untuk berpikir lebih dalam, berpikir sebebasnya tanpa cemas dikejar-kejar waktu.
Semoga tahun 2021 adalah lembaran pergolakan pemikiran baru. Karena pergolakan pikiran adalah tanda dari kemajuan akal manusia.
Thank you 2020 sudah membersamai diri ini dengan segala gejolak dan dinamikanya.
Welcome 2021. Aku penasaran, bagaimana aku akan menghabiskan tahun ini.
Aku pengen sharing dikit tentang materi penerjemahan tadi bersama ust. Hamim Thohir Musa, Lc
Beliau tamatan LIPIA, Jakarta. Karir penerjemahan beliau udah begitu luas dan profesional banget. Aku coba sebut seingatku:
- Pernah jadi penerjemah istana waktu zaman pak SBY
- Pernah jadi penerjemah mabes polri juga.
- Pernah jadi penerjemah kedutaan Australia
- Pernah jadi penerjemah kedutaan Jerman juga
- Pernah jadi penerjemah Prof. Wahbah Az-Zuhaili di mahkamah pengadilan Indo.
- Pernah jadi penerjemah manual book Garuda Indonesia.
- Beliau juga sering jadi penerjemah di konferensi2 internasional. Salah satunya penerjemah untuk mantan menteri luar negri Alwi Shihab.
- Kalo terjemahan buku, dokumen, dan surat2 udah ga terhitung lagi kata beliau... Kwkw
- Beliau punya perusahaan terjemah sendiri namanya Pusat Penerjemah
Dunia terjemah profesional sendiri bisa dibagi jadi 3:
Pertama, Tulisan. Ini banyak bentuknya; dokumen, surat2, buku, surat kabar, dll.
Kedua, Lisan -langsung. Biasanya ini sering di konferensi2 internasional. Penerjemah menerjemahkan langsung apa yang dikatakan pembicara tanpa jeda. Para penerjemah di tempatkan di satu pos, kemudian suaranya akan sampai ke headset tiap2 peserta konferensi.
Kata beliau di samping bayaran nya mahal dan waktunya singkat sekitar 4 jam, tapi bagian ini sangat melelahkan. Karena penerjamah dipaksa terus mendengarkan, ngomong, fokus, tanpa jeda.
Dari beliau aku tahu gimana dunia profesional terjemah dan gimana tantangan2 yang sering dihadapi penerjemah. Di antara tantangannya:
- Deadline. Karena itu seorang penerjemah ga hanya baik saja, tapi harus cepat. Kata beliau seorang dikatakan penerjemah jika ia mampu menerjemahkan 20-30 lembar buku/hari.
- Unpaid. Ga dibayar dan dibayar ga selayaknya. Ini biasanya terjadi kalo baru-baru mulai. Atau ketemu klien y ga profesional (bisa jadi karena emng klien buruk atau karena kebetulan klien adalah kenalan penerjemah... kwkw)
- Bad client. Ustad Hamim cerita kalo dia pernah ngalamin ini waktu ada proyek sama salah satu negara teluk ( nama negaranya disensor). Beliau udah nerjemahin ratusan dokumen. Tapi waktu hasil terjemahan diserahin, klien ga mau bayar karena nemu satu kesalahan. Satu doang. Itupun bukan subtansial.
Penerjemah profesional seperti beliau gajinya bisa 50-100 jt sekali terjemah buku. Apalagi proyek terjemahnya dari pemerintahan dan kedutaan.
Terkait gaji penerjemah profesional, ada satu hal yang aku ingat dari beliau yaitu:
Gratisan bisa menzolimi orang.
Termasuk bidang profesional yang lain. Mungkin kita melihat pekerjaan seperti designer dengan pandangan remeh. Apalagi ketika mereka menawarkan harga yang menurut kita ga wajar.
"cuma duduk depan komputer doang sampe 10 jt!? "
Sebenarnya harga itu bukan hanya harga dia bergadang sampe subuh aja, tapi lebih-lebih harga itu untuk usahanya bertahun-tahun sampai dia berhasil jadi desaigner profesional.
Begitu juga penerjemah profesional. Jadi penerjemah itu ga gampang. Orang mungkin menganggap asal lulus kampus arab otomatis bisa jadi penerjemah. Mindset begini salah total.
Kalau semua lulusan kampus arab bisa jadi penerjmah, trus kenapa sampe sekarang penerjemah masih dikit?
Kata ust Hamim, sebelum jadi penerjemah profesional, beliau sempat kursus bahasa inggris. Beliau ngeluarin uang jutaan.
Di samping uang, juga waktu. Bayangkan aja gimana capek dan pusingnya nerjemahin 30 lembar sehari. Itu belum masuk tahap penelitian/analisa buku, identifikasi sumber, tahap penyuntingan, dll.
Nah, bayangkan kalo kita bayar profesional ga selayaknya. Atau kita minta gratisan (termasuk dengan alasan teman dekat misalnya). Ga kebayang gimana kita menzolimi si profesional tadi. Uangnya habis, waktunya terkuras, apalagi dia punya keluarga yang harus dinafkahi...
(Serius, teman yang minta gratisan mulu bukan teman namanya!)
Beliau sempat ditanya sejak kapan beliau berlatih terjemah. Beliau jawab sejak smp. Beliau dari smp baca Quran selalu liat artinya. Itu yang membuat skill terjemah beliau terlatih.
O iya, persis seperti beliau, sejak masuk SMP, aku mulai ngafal Quran pake arti. Sampai lima belas juz hafalanku. Karena memang ngafal pakai arti sangat membantu proses menghafal. Apalagi ayatnya adalah ayat cerita. Kalo kita paham ceritanya, kita bisa tahu apa ayat selanjutnya kalau di tengah ayat ternyata lupa.
Sebenarnya, dari gaya ngafal ini aku banyak dapat banyak manfaat. Kosa kata bahasa Arabku makin banyak. Aku gampang paham kaedah nahwu-sharaf. Aku bisa merangkai kalimat yang bagus ketika menerjemahkan kalimat berbahasa arab.
Makanya, aku sarankan bagi yang mau ngafal quran, trus paham bahasa arab walau dikit (waktu SMP kualitas bahasa arabku masih jauh), mulailah ngafal pake arti. Serius! Lebih gampang!
Selain ngafal quran pake arti, beliau juga terbiasa baca 3 buku sehari. Berarti paling dikit bacaan beliau 300 halaman per hari.
Jadi, sebenarnya di balik profesionalitas seorang dan juga bayaran yang tinggi, ada tetes keringat yang mengiringi. Ada usaha lebih yang mungkin tak dilakukan kebanyakan orang.
Pokoknya, hari ini aku beruntung hadir sharing session bersama beliau. Udah lama aku ga nemu orang yang bisa membakar lagi semangat-semangat yang sempat layu...
Gimana sebenarnya mempunyai anak? apakah melahirkan anak adalah sebuah kebaikan? atau malah kejahatan?
Karena menurutku ketika seorang melahirkan anak, berarti dia menjerumuskan seorang dalam kesulitan dan kejahatan dunia. Padahal mereka tak meminta dilahirkan ke dunia. Seandainya benih-benih itu bisa ditanya apakah mereka mau dilahirkan, aku yakin mereka kan jawab dengan lantang agar tak usah saja dilahirkan.
Terus ku pikirkan rasanya makin kejam saja. Kenapa manusia dituntut dengan banyak hal, padahal seandainya mereka bisa memilih, aku yakin mereka lebih milih untuk tak diciptakan.
Mengapa rasanya terlahir ke dunia bagiku kini adalah sebuah musibah??
Melihat bayi lahir, yang muncul bukan kesenangan yang membuncah. Tapi malah kesedihan dan penyesalan.
"Sungguh malang nasibmu harus terlahir ke dunia ini" batinku.
Ingin rasanya ku hujat orang tuanya, mengapa kalian harus melahirkannya.?? takkah kalian merasa iba dengannya??
Aku paham kenapa Abu bakar berandai kalau saja ia hanya reremputan atau pohon yang beroyang. Bukan manusia.
Lupakan apa itu pendidikan anak atau parenting.
Ada hal yang lebih patut jadi pertanyaan,
Apakah melahirkan anak adalah kebaikan atau kejahatan?
"Dalam proses organizing kegiatan lo, jangan taruh komitmen lu pada ‘waktu’, tapi taruh komitmen lu pada ‘kegiatan’... " Kata Glenn Ardi di Artikel Zenius.net.
Ya, karena yang jadi tujuan adalah tercapainya kegiatan, bukan waktu yang dihabiskan.
Contohnya aku sendiri.
Dalam membuat jadwal membaca muqorror, aku fokus pada target halaman yang harus aku baca per hari, per minggu atau per bulan. Bukan waktu atau berapa jam yang dihabiskan.
Tapi, terkadang untuk menentukan target membaca per hari, terlebih dahulu aku menghitung (tracking) durasi membaca. Karena dengan ini aku bisa tahu berapa halaman aku sanggup membaca dalam sehari.
Misal:
Hasil tracking kecepatan membaca: 10 halaman/jam.
Target bacaan per hari: 30 halaman/hari.
Jadi, ±3 jam sehari waktu yang harus disediakan.
Dengan ini aku bisa menyesuaikan waktu belajar dengan agenda-agenda lain.
Mengetahui kecepatan membaca perlu agar nantinya kita bisa mengukur berapa lama waktu yang kita bisa sisihkan dalam sehari untuk membaca.
Kecuali kalau itu kegiatan membaca di luar kuliah. Seperti membaca buku-buku populer.
Kalau ini, aku lebih suka untuk menentukan target durasi membaca per hari daripada halaman yang dibaca.
Karena aku suka genre pemikiran, maka ketika membaca buku aku perlu banyak berpikir dan merenung. Yang jadi tujuanku adalah kepuasan pikiran, bukan banyak halaman yang sudah aku tamatkan.
Kalau membuat target halaman, aku cenderung merasa tertuntut cepat-cepat membaca. Tapi, kalau dengan target durasi, aku tak perlu memikirkan sedikit atau banyak halaman yang sudah ku baca. Yang penting adalah selama durasi itu aku terkurung dalam aktivitas membaca. Aku merasa bebas dalam berpikir tanpa merasa dituntut apapun.
Satu tips yang sangat penting dalam kegiatan belajar/membaca yaitu blocking time.
Tentukan waktu tertentu kamu harus fokus membaca. Fokus di sini maksudnya jauh dari distraksi hp, orang-orang, dan kegiatan lain. Dalam rentang waktu itu kamu bertekad takkan beralih ke kegiatan lain kecuali setelah waktu yang ditentukan habis.
Ini penting sekali untuk efesiensi dan kualitas.
Penting untuk efesiensi karena banyak orang yang buat target membaca hari ini misalnya 20 halaman, tapi kegiatan membacanya sambil main hp, ngobrol sama orang, dan kegiatan yang distraksi lainnya. Akibatnya, 20 halaman tadi ga kelar-kelar. Atau malah memakan waktu yang terlalu banyak alias buang-buang waktu.
Kemudian penting untuk kualitas, karena orang yang menyelesaikan satu kegiatan straight & focus pasti hasilnya berbeda dengan orang yang ngerjain satu kegiatan sambil ngerjain hal-hal lain, seperti main hp dan ngobrol. Apalagi ini adalah kegiatan membaca yang menurutku adalah kegiatan "me and my mind time" banget. Bagiku, ketika membaca berarti aku sedang berada dalam ruang privat khusus bersama sang penulis. Saling memahami, berdebat, bertanya, dan mengkritisi bersamanya.
Filsuf rasionalis seperti Spinoza menganggap bahwa takdir Tuhan adalah hukum alam. Munusia digerakkan Tuhan bukan seperti dalang menggerakkan wayang. Tapi, Tuhan menggerakkannya dengan hukum alam.
Oleh sebab itu dikatakan bahwa manusia dan juga makhkuk lain tak punya kebebasan, karena ia terperangkap kuasa Tuhan yang bernama hukum alam. Walaupun kita teriak bahwa manusia punya kebebasan, tapi bagi Spinoza kebebasan itu hanyalah kebebasan dalam ketidakbebasan.
Seperti halnya benih apel dan jeruk. Benih apel bebas memanfaatkan seluruh potensinya sebagai apel, tapi bagaimanapun itu, dia takkan bisa menjadi benda lain, jeruk misalnya. Begitu juga dengan jeruk, ia takkan bisa menjadi apel bagaimanapun usahanya. Itulah yang dimaksud dengan bebas dalam ketidakbebasan.
Menurut Imanuel Kant (w. 1804 M) - seorang filsuf yang dikatakan berhasil membuat sintesis antara 2 aliran filsafat yang saling beseberangan: rasionalisme dan empirisme- berpendapat bahwa kebebasan manusia adalah ketika ia berhasil mengikuti hukum moral universal dan keluar dari hukum alam yang menjerat unsur materi manusia. Baginya bebas berarti taat, mengikuti nilai-nilai moral dan agama.
Oleh karena itu, binatang bisa dikatakan makhluk yang tak bebas. Karena unsur materinya terperangkap oleh hukum alam. Binatang cuma melakukan apa yang dituntut hukum alam darinya: makan, minum, berkembang biak, dst.
Berbeda dengan manusia yang bisa memilih untuk melakukan alternatif lain selain apa yang dituntut alam darinya.
Disinilah letak menariknya, sering kita persepsikan bahwa kebebasan adalah melakukan segala yang kita inginkan. Bebas bagi kebanyakan orang berarti tak mematuhi aturan, merusak alam, menyakiti makhluk lain, dan mencela kelompok lain. Padahal yang seperti itu bukan kebebasan, malah itu adalah keterbelengguan. Ketika manusia hanya mengikuti egonya dan tak mengindahkan nilai moral maka saat itulah ia menjadi budak alam.
Aku benar-benar bingung, apa posisi agama bagi manusia dan bumi. Toh, kalau mengisi perut lapar, menghilangkan haus, mendapatkan tempat tinggal, hidup makmur, tanpa agama pun orang bisa mendapatkannya. Orang-orang maju di barat itu buktinya.
Bahkan sebaliknya, mereka yang masih sibuk membangga-banggakan masa lalunya, bergumam tak tahu diri bahwa agamanyalah satu-satunya solusi yang dibutuhkan manusia, mereka-mereka inilah yang kini jalan-jalanya penuh dengan orang melarat, tak punya tempat tinggal, berpenyakit dan penuh pertikaian.
Jadi, apa sebenarnya posisi agama bagi manusia dan bumi?
Apa manusia butuh dengan agama?
Aku jemu dengan pertikaian orang tentang agama yang tidak membuat mereka yang kelaparan kenyang dan orang-orang melarat makmur. Malah hanya menambah perselisihan dan pertumpahan darah.
Berlalunya hari ini menyadarkanku, luka luka lama yang dulu kucoba untuk kututup sepertinya mulai terasa kembali. Mungkin karena aku yang tak bijak dan meninggalkan luka itu begitu saja karna dirasa sudah tak sakit lagi. Hari ini aku kembali harus mengerti, mengerti bahwa aku memang terlahir untuk sendiri. Tapi bukan berarti aku tak berjodoh, bukan itu kawanku. Hanya saja diriku yang ini hari ini merasa begitu sendiri. Panas dingin yang kurasakan sedari pagi, ditambah lagi flu yang entah mengapa menyapa di malam hari membuatku lemah hari ini. Dan tak ada yang peduli. Sang punggung sibuk menjaga rusuk, punggung dan rusuk sibuk menjaga jari sementara aku lupa apa peranku disini. Mungkin hanya usus buntu yang sampai saat ini dibuang-pun tak berarti. Aku ingin cepat pergi karna rasanya telingaku sudah tak sanggup lagi. Mendengar mereka memanggil namaku tanpa mempedulikanku. Itu sangat sakit. Sakit karena dilakukan oleh orang2 yang seharusnya mengerti dan mencoba memahami.