Pertanyaan yang Selalu Berulang.
Menyusuri jalan di ramadan hari kedua. Tidak banyak yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bedanya mungkin di sepanjang jalan yang aku lewati, warung-warung menutup tendanya dengan penutup seadanya. Atau bisa jadi jalanan terihat cukup lengang karena orang-orang lebih memilih memenjarakan raganya daripada harus berbuat dosa.
Kubawa motor melaju, sengaja kupelankan demi menikmati jalanan yang sudah aku hafal. Tiap-tiap aku berhenti di lampu lalu lintas, ada saja yang mengeluh karena panas. Aku tersenyum pada diriku, apakah aku juga kerap mengeluhkan sesuatu yang tidak pantas?
Menikmati ramadan kesekian di perantauan. Selalu ada pertanyaan dari ibu di ujung telepon menjelang petang juga fajar. "Buka apa mbak? Sahur apa? Sehat to?". Dulu setiap mendengarnya selalu ingin menitikan air mata. Sekarang? Lebih-lebih campur aduk rasanya.
Pertanyaan demi pertanyaan memang selalu berulang hadir di kepalaku yang berantakan. Tidak hanya pada ramadan memang. Namun entah mengapa, pada ramadan aku seolah diinterogasi dengan lebih kejam. Oleh diriku, untuk diriku. Sudah memaksimalkan ramadan dengan sebaik apa hingga kesempatan yang kesekian?
Dua puluh empat kali itu harusnya cukup untuk terus menjadi baik. Namun nyatanya diri justru kerap lupa. Menyambut setiap pergantian waktu dengan seadanya, padahal Tuhan sudah menyediakan dengan sebaik-baiknya. Diri ini jika diperlakukan sama, apakah tidak ingin murka rasanya?
Namun Tuhan berbeda. Ada hal-hal yang jauh dari jangkauan kita, yang tidak bisa kita terka. Mengenai balasan apa yang akan kita dapatkan atas apa yang kita lakukan.













