Wacana
Rencana via chat seperti ini...
A : "Bro, kapan kita bisa kumpul?"
B : "Ahad weh"
C : "Urang ngikut weh"
D : "Setuju, sok jadikeun!"
A : "Okay! Fix ahad! "
Ketika hari ahad...
A : "Pada dimana lur?"
B : "Urang telat euy"
C : "Eh, urang gak jadi hadir, ada agenda ternyata"
D : (gak ada kabar)
A : "Pada dimana kaseeeep :( :( :("
Pernah punya kejadian kek gitu? Atau mirip-mirip kasusnya kek gitu? Saya yakin semuanya pernah mengalami. Dan kiranya apa yang kita rasakan jika orang yang akan kita temui telat, gak jadi dateng, dan alasan-alasan lainnya? Terkadang kesel, tapi coba ambil hikmahnya itu yg paling penting.
Ketika kita meminta waktu orang lain, adalah sebuah pilihan yang berat ketika orang itu bersedia meluangkan waktunya saat ia punya kesempatan melakukan hal penting lainnya. Menuntaskan amanah yang tengah dipegang, atau kesempatan untuk menambah kapasitas dirinya lewat kegiatan-kegiatan positif lain. Lalu, dengan seenaknya kita malah 'menggampangkan' pengorbanannya.
Ngaretlah. Gak bisa hadir karena hal yang mendadak. Lalu kita telat ngabarin atau parahnya gak ada kabar sama sekali pas hari H. Lantas kita berdalih dengan berbagai alasan dan berharap orang tersebut tidak berprasangka macam-macam.
Emang sih sebagai muslim kita disuruh husnudzon ama saudara sendiri. Tapi selalu minta dimaklumi bisa bikin kita bermental 'korban' di mana kita kehilangan kendali atas diri kita. Padahal Allah memberitahu bahwa Ia membenci kezhaliman dan menyuruh kita memudahkan urusan orang lain.
Rasulullah saw juga dengan gamblang mencontohkan untuk aktif ngasih penjelasan (bukan alasan) agar orang lain gak suuzhon. Maka di samping berusaha amanah, jangan pernah menggampangkan urusan 'konfirmasi' ini. Minimal berkabar itu saja.
Indrafitriyana, Sumedang











