Kenalin, nama gue Anindhita Kusuma Dyah Putri Soekowati. I go by my first name Anindhita. Gue mahasiswa Fakultas Kedokteran tersuper di Indonesia a.k.a FKUI di Depok. You can call me veteran, since gue lulus tahun 2014 kemarin and took a gap year dan alhamdulillah-nya secara KEBETULAN diterima disini. Gue lagi pengen banget nulis dan gue pengen berkontribusi lebih buat negara ini, but to change the world you gotta change yourself first right? Gue pengen ngubah mindset temen2 yang kebetulan baca ini bahwa taking a gap year in Indonesia is a bad thing. Infact, it is NOT. Yes, I still struggle disini, di FKUI yang model belajarnya mashaAllah adaptasinya :”). Yes, gue masih tetap bersikap kekanak-kanakan sometimes. Yes, by taking a gap year it doesn’t change much things. BUT, taking a gap year is one of the best decision I’ve ever made. Karena once again, the change you need to make starts from yourself. Gue pas baru lulus SMA, deep inside my heart, gue tau kalo mentally gue gasiap kuliah, baik secara akademis maupun non-akademis. Say what? anak aksel 2x yang gapunya kehidupan eksternal karena masalah-masalah that lingers pas gue SMA.... Gue emang lenje, gue akuin itu. Banyak kok anak aksel lainnya yang survive, kenapa gue gabisa? And I asked myself the same thing for the past one year. Gue pas SMA gajago komunikasi, sangat-sangat childish that it bothers my colleagues, sangat-sangat pendek pikiran, dan belum punya IDEALISME. Then, gue ambil gap year and to be honest it all starts with tears, much tears. Pernah sembab mata sampe kaya bengkak gitu? Gue pernah. Semua gara-gara gue ganerima keadaan. Dan yang kasihan bukan gue, tapi orang tua gue. They felt as much pain as I do (even more). Gue mulai gap year gue dengan travelling, lalu bimbel di BTA 45. Funny story, waktu gue mulai BTA 45, mereka ngadain yang namanya placement test. In that time, when I was at my lowest, gue udah pesimis kalo gue bakal dapet kelas A yang isinya pinter-pinter semua. Kalo gue dapet kelas A ngapain gue ngulang coba? but infact, I do got the class A, and starting from there, I regain my confidence. Awal-awal gue BTA 45, gue nyambi ngajar di Kumon tempat gue menimba ilmu for the past eight years, a great way to repay your sadness I got to say. Di Kumon, gue ketemu berbagai macam kepribadain dan kultur. Mulai dari murid gue yang umurnya around six years old kelas satu SD yang masih hidup dalam dunianya sendiri yang tampaknya sangat menyenangkan, murid yang memiliki penyakit autisme, murid kelas 3 SMP sekolah internasional yang udah serasa temen (eventhough he’s Indonesian, he doesn’t speak bahasa at all) sampe sering curhat ke gue dan bisa dicurhatin juga, sampe temen yang jadi murid (once) kelas 3 SMA. Disitu, right there, exactly there, gue merefleksikan diri. Mungkin lebay, tapi gue rasanya kaya ada di time machine, melihat gue dari pertama masuk Kumon, masih lugu dan sangat bahagia sampe pas udah mau lulus, udah galugu dan banyak masalah. How I never see life through other’s perspective and always putting my problem as other’s first priority. How selfish I was (and still am). Disitu, dibalik meja guru gue, gue tau, semua orang punya cerita yang harus diperjuangkan. And man.... cerita gue gabakal selesai cuman gara-gara gue gadapet kuliah tahun 2014 kan? So, I pray and I learn. Gap year mengajak gue gahanya untuk belajar materi SBMPTN, IUP medicine UGM dan SIMAK, tapi juga belajar hidup. Saat gue ambil gap year, I also happened to reconnect with a lot of my old and maybe forgotten friends, along with that, gue juga ketemu temen baru. Dengan diversity yang sangat luas, gue belajar, kalo setiap insan di bumi itu punya idealisme. Lepas dari kehidupan SMA, lo bakal ketemu banyak orang; orang yang rajin gilak hidupnya buat belajar doang, orang yang visioner, orang yang yolo tapi mau nyenengin orang tua, orang yang ingin jatuh cinta, orang yang akan buat lo jatuh cinta, orang yang make obat-obatan terlarang tapi baik banget sama lo, orang yang mengajak lo mengikuti liku hidupnya, orang yang mencari nafkah lewat kesenangannya (best thing evur), orang yang LGBT, orang yang agnostik or even atheist but ended up to be your best friend, dan banyak lainnya. Ketemu orang-orang ini, sumpah, menuntun gue untuk menemukan idealisme gue. More than that, your purpose and way to live. Karena, dalam pandangan gue, idealisme itu tempat lo bersandar ketika lo sedang teguncang. Idealisme itu penting, dan gue bersyukur gue sudah menemukan idealisme gue sebelum kuliah. It makes me the person I am now, not perfect, but know where to stand, and know how to stand tall. Balik lagi, selesai ngajar Kumon, gue pergi ke Jogja, les disana buat IUP international UGM (which gue gaketerima wkwk), dan....... disana gue jatuh cinta. Jatuh cinta? yes. Sama Jogja itu sendiri. It allows you to have a clean start and forget all the things behind. Saat itu, gue sangat butuh a clean start. Jogja adalah tempat terindah lah pokoknya, you should try to go there guys! It is rich of culture, people, and FOOD. Gue ketemu salah satu orang paling pekerja keras di Jogja yang sekarang jadi best friend gue. Di Jogja, bikin temen disana nggak susah. Kenapa? karena orang-orang yang berada di Jogja adalah orang yang super open minded dan willing to share, hal itu juga yang ngajarin gue untuk menerima orang lain apa adanya, bukan ada apanya. Because in the end, lo akan menemukan kelebihan-kelebihan orang lain saat lo mau melihat dia tanpa melihat embel-embel harta, universitas, darah, power. You’ll see it when you see them just the way they are, and that is what I’m trying to imply myself too. And all those things I gain saat gue ambil gap year membuat gue siap menghadapi kuliah. And it’s true, as I believe it is part of God’s plan. At the end of the year, Tuhan memberikan gue kesempatan untuk jadi bagian dari universitas yang gue bayangin aja nggak. Tuhan memberi gue kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi di tempat yang tepat pada saat yang tepat, saat gue siap. Harapan gue, gue menjadi orang yang tepat juga karena berada di kondisi yang tepat.
taking a gap year is not a bad thing at all, it actually is a great thing (at least buat gue). Buat kalian di luar sana yang lagi ambil gap year or thinking to take a gap year, don’t be shy. Jangan malu sama sekali! go ahead, take that giant step! Ngambil keputusan seperti ambil gap year (buat gue) adalah keputusan yang berat, but hey! Later in life, there will be a lot of other choices you have to make, why don’t you start now? Kalo lo masih ragu juga, diskusiin hal ini sama keluarga lo atau sama guru sekolah lo yang bisa lo percaya. Sungkan? nanya gue juga gapapa, contact me via email at [email protected], I would be glad to help! Pokoknya, Just be confident with who you are, just be happy, karena kebahagiaan adalah anugrah Tuhan paling indah. Tapi jangan lupa, pikirin semua keputusan lo dengan matang, pikirin juga konsekuensinya. Choices come with their consequences and you are the one who get to decide.