A Letter to My Perpetrator
Teruntuk engkau, di mana pun kau berada,
Aku bingung mau mulai dari mana, kepalaku berkecamuk tidak mampu menyusun benak pikiranku menjadi rangkaian kata. Karena sesungguhnya, banyak yang ingin kusampaikan padamu, Ta. Tentang segenap amarah dan kecewaku terhadap apa yang kaulakukan padaku. Tapi aku tahu, aku harus bisa menceritakan kembali kejadian itu. Untukku, untuk korban-korban dan pelaku-pelaku pelecehan seksual lainnya, juga untukmu, Ta.
Begini aku mengingatmu : Mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Komputer. Di tahun kejadian itu, aku berusia 19 tahun dan kau dua puluh satu. Kau tidak lebih tinggi dariku. Senyummu centil, kulitmu cokelat, dan rambutmu ikal tapi kau ingkari. Aku ingat betul, Ibuku sering bertanya-tanya, kenapa rambutmu di-rebonding? Apa kau malu rambutmu keriting?
Kita dipertemukan suatu kepanitiaan di kampus kita,. Sebagaimana aku cocok dengan hampir semua teman-teman di kepanitiaan kita, aku pun merasa cocok ngobrol denganmu. Kita menyenangi banyak hal yang sama : Musisi yang sama, genre yang sama, juga hobi yang sama.
Selesai kepanitiaan, kita tidak berhenti saling bicara. Pertemanan kita pun tidak dibatasi kolom percakapan aplikasi LINE. Kau nyata, kau teman nonton konserku. Aku selalu senang pergi konser denganmu.
Kau tahu kenapa? Karena kau melindungiku tanpa kuminta. Kau selalu berdiri di belakangku –bahkan di malam itu. Kau menjagaku supaya aku tidak terinjak atau tehimpit. Supaya aku bisa menikmati konser-konser yang kita hadiri tanpa khawatir.
Aku sampai bilang pada Ibuku, kalau aku nonton konser, aku akan pergi bersamamu. Aku meyakinkannya kalau pergi denganmu itu aman dan menyenangkan. Kalau beliau tidak perlu khawatir karena kau baik dan peduli. Kalau denganmu, tubuhku akan terjaga, dan aku tidak akan dilecehkan siapa-siapa. Begitulah, Ta, karena bersamamu, Ibuku berani melepas anak perempuannya. Beliau pun percaya padamu sebagaimana aku memercayaimu, Ta. Kepercayaan yang kini kami sesalkan.
Banyak konser yang kita nikmati bersama. Kali pertama dan kedua menyenangkan, yang selanjutnya jadi bumerang.
Ta, mungkin bagimu hari itu berlalu seperti hari-hari lainnya. Malam minggu lain yang kau lalui bersama orang asing untuk mengisi kekosongan dan kesepianmu. Maka, kau tak mengingatnya. Tapi ada di dalam diriku yang benar-benar yakin bahwa kau merekam kejadian itu, beserta rinci-rinciannya, sama baiknya denganku –bahkan lebih baik.
Dalam memoriku, hari itu berlalu kurang-lebih seperti ini :
“Nin, ada konser di Citos. Deket rumah lo. Nonton ga?” Ujarmu melalui pesan di LINE.
“Beneran? Coba gue cek.” Jawabku.
“Iya, ulang tahun radio. Ada Stars and Rabbit-nya. Nanti malem.”
“Yaudah ayuk, PR gue udah selesai ini.”
Aku ingat kita merencanakannya begitu saja. Tidak seperti pertemuan-pertemuan lainnya yang kita rancang jauh-jauh hari. Mau ke konser apa minggu ini? Gue pake baju item ya. Ketemu di mana? Eh gue gabisa kalo tanggal segitu, konser yang ini aja gimana?
Tapi hari itu aku langsung menyetujui tawaranmu. Aku tidak berpikir dua kali. Sorenya, aku mandi dan segera mengenakan baju yang nyaman. Baju nyaman, ya, Ta. Baju yang biasa saja. Baju yang aku yakini, orang-orang berakal tidak akan nafsu melihatnya.
Aku masih ingat jelas aku pakai baju apa. Aku mengenakan kaos raglan berwarna pink-biru, dengan tulisan sekenanya di tengah. Kupadukan baju itu dengan celana dan kerudung segi empat dengan warna senada.
Malam itu, sehabis maghrib aku berangkat diantar tukang ojek. Aku tiba sebelum dirimu.
“Oke Nin gue udah deket.”
Lalu kita bertemu. Aku tidak begitu ingat malam itu kau pakai baju apa. Namun aku ingat, kau baru saja potong rambut dan malam itu kau memakai topi. Mungkin memang kausengajakan, supaya jadi tabir akan segala yang meradang di wajahmu.
Konser itu lebih ramai dari konser-konser yang pernah kita hadiri bersama sebelumnya. Namun percayakah kau, kalau aku tidak takut? Karena aku bersamamu. Kau. Kau yang selalu berdiri di belakangku, melindungiku. Menyediakanku perimeter supaya aku tak tersentuh.
Percayakah kau, kalau dahulu aku begitu memercayaimu?
Di malam itu, manusia tumpah bak air bah yang membanjiri lorong panjang pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Begitu ramai, hingga sulit bagi kita untuk menembus manusia-manusia lain yang hambur di sana. Begitu ingar-bingar, sulit bagi kita mendengar bahkan suara dalam kepala. Namun malam itu, kita begitu giat menembus lautan manusia, sampai kita terjebak di tengah-tengahnya. Demikianlah celakaku tercipta.
Tepat kala band yang kita tunggu naik ke atas panggung, aku merasakan panas tubuhmu lebih jelas. Kau telah mendekat dan kau terlalu dekat. Kau meniadakan perimeter yang sebelumnya kau buat untukku; membuatku gentar dan seketika merasa kalah.
Mungkin kau tak menyadarinya, menanggapi tanda bahaya, aku melangkah menjauhimu. Namun, kau tangkas dan tak memberiku celah. Kau kembali dan semakin mendekat. Kau buat aku terperangkap sampai aku tak mampu lagi bergerak.
Pada titik itu, diiringi dengan lantunan lagu band kesayangan kita, dari balik celanamu, kau lancarkan niat jahatmu.
Kau menusuk-tusukkan kelaminmu ke celanaku.
Aku betul-betul ingat. Ketika aku menuliskannya kembali, saat ini, ingatan itu terkenang tajam dan menyakitkan.
Hingga saat ini, itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan kelamin kaummu. Pertemuan yang jauh dari kata enak. Traumatik. Kala itu, jantungku mau copot dan seketika seluruh tubuhku ngilu. Di dadaku, bom telah meledak di balik tulang-tulang igaku, Ta. Aku begitu ingin minta tolong, namun aku terlalu segan untuk bersuara. Aku jadi sangsi dan urung. Aku segan padamu, Ta! Bayangkanlah…… S-E-G-A-N!
Maka, di momen yang harusnya lima tahun kemudian kita rindukan, aku kesepian di tengah keramaian. Tidak ada kawan. Hanya ada kau; lawan. Tanpa pertolongan, tanpa bantuan.
Malam itu, kau hilang akal dan aku habis akal. Aku tak tahu apa yang kaurasa, tapi yang jelas engkau memaksa. Hilang akalmu disertai jemawa yang tak dapat kautangguhkan. Kauanggap aku mau dan kaupaksa aku menurut. Habis akalku membuatku tak mampu memukulmu mundur. Jadi kau melancarkan segenap berahimu binatangmu, hingga aku membeku kaku. Kalau aku jadi beku, bukan salahku, Ta. Namun, memang begitu biologis manusia ketika dihadapkan dengan situasi yang mengancam : Fight, flight, freeze, fawn, and flop.
Tapi setidaknya, malam itu aku telah berusaha menghindarimu semampuku. Aku berusaha menjauhkan diriku darimu. Aku mendorongmu dengan punggungku. Tapi, kau malah melekatkan seluruh dadamu ke punggungku. Kemudian, semakin giat menyelesaikan niat jahatmu. Kau, yang tak berdaulat atas aku, memaksakan yang tak kumau.
Ah, Ta… Padahal malam itu benar-benar ramai. Bisa-bisanya kau begitu berani. Barangkali kau memang sudah mengukur. Bahwa justru pada suasana yang seperti itu, tidak akan ada orang yang menyadari; mereka riah dalam gemuruhnya sendiri.
Seandainya malam itu aku menolak ajakanmu ya, Ta. Mungkin kita masih berteman. Atau mungkin, hal itu pasti terjadi –tunggu waktu sampai kau lakukan niat burukmu. Seandainya pula aku bisa membaca kecenderungan tabiat burukmu itu dari dulu, mungkin aku sudah menjaga diri dengan lebih baik. Namun aku naif dan terlalu percaya, Ta. Termasuk, ketika kau bercanda cabul, yang senantiasa aku hindari pembicaraannya.
Ta. Waktu itu, apa sih yang ada di kepalamu?? Di mana malumu? Itu tempat umum, loh, Ta. Apa kamu nggak takut? Apa tidak terbesit sedikit pun di kepalamu bahwa yang kau lakukan begitu imoral dan tak pantas; tak terbesit di kepalamu untuk berhenti? Apakah kau tak terpikir bagaimana perasaanku; rasanya jadi aku?
Tapi memang rasanya kau tak peduli. Kau tak mau tahu apa yang ada di dada dan kepalaku. Kau cuma peduli bagaimana menyelesaikan nafsumu. Kau tak peduli aku bingung, takut dan sungkan padamu. Kau tak bertanya padaku apakah aku mau. Kau tak izin padaku, dan kau tak pernah minta persetujuanku.
Mungkin memang kau telah atau kelak akan menjadi laki-laki semacam itu, yang menyetubuhi perempuannya dari belakang seperti binatang. Sehingga, kau tak perlu bertemu muka dan tak merasa perlu bertanya : Apakah perempuanmu mau atau tidak, apakah ia merasa sakit atau tidak, apakah ia nyaman atau tidak, apakah ia merasa enak atau tidak. Kau mungkin tidak akan pernah mau tahu. Pokoknya, yang penting adalah soal dirimu dan enakmu. Karena mungkin bagimu, kejantanan bentuknya seperti itu : Narsis dan egois.
Aku nggak berusaha menghitung dosamu, Ta. Tapi aku mau menegaskan bahwa kamu telah benar-benar berdosa.
Pahamilah, Ta, tindakan jahatmu, itu lahir dari dalam dirimu sendiri. Aku nggak punya salah di situ. Aku, sebagai korban, nggak akan terima dan akan memperjuangkan kalau ada yang bilang aku punya peran dalam setidaknya 22 menit 51 detik pelecehan seksualmu terhadapku.
Tentang malam itu, tentu kau tahu. Namun, percayalah, Ta, ada hal-hal yang tak kautahu.
Dan aku akan memberi tahumu.
Kau tak tahu kalau sepanjang sebulan aku menuliskan surat ini, dadaku sesak dan aku kerap meneteskan air mata tiba-tiba. Kau tak tahu, jika bercerita tentangmu (dan kisah ini), aku membuncah dan suaraku kemudian tersekat. Kau tak tahu, setelah lima tahun kejadian itu berlalu, menepekurkan kisah ini selalu membuatku mual.
Kau pun tak tahu, kalau di malam itu, ketika pulang kepalaku benar-benar pening dan aku benar-benar panik. Kau juga tak tahu, di pagi hari setelahnya, aku menangis menderu-deru penuh derita. Ah… kau jelas tak tahu perasaan ibuku ketika aku cerita tentang yang kaulakukan, karena aku pun tak tahu. Yang aku tahu, Ibuku tak mau orang tahu, karena beliau takut malu.
Kau tak tahu, bagaimana aku sulit tidur dan mengurung diri akibat yang kaulakukan. Bagaimana aku berhenti mencintai temaramnya malam. Bagaimana aku takut pergi konser lagi karenamu. Bagaimana aku berhenti bergaul karena aku begitu terluka, Ta. Luka yang engkau tanam, tapi tak perlu engkau pikul. Luka yang engkau bebankan padaku sendirian.
Ada pula hal-hal lain yang tentangmu aku ketahui, tapi kau tak tahu, Ta. Aku tahu kau pun sempat gundah ketika hari itu berlalu. Karena kau terus menghubungiku, meski seminggu sekali, selama tiga minggu berturut-turut. Kau akan mengirimkan pesan yang isinya hanya, “Nin”. Pesan-pesan yang membuat isi perutku bergejolak.
Aku pun tahu, kau tak tahan aku tak membalasmu. Sampai akhirnya kau mengirimkan direct message melalui Instagramku di awalan November tahun itu.
Ta, ketika aku menerima pesan itu, tiba-tiba keputusanku bulat untuk memblokirmu. Kenapa ya, tidak dari awal saja aku lakukan itu? Aku nggak kuat menanggung beban luka batin karenamu, kemudian harus kautambah dengan pesan-pesan darimu yang membuatku berpilu.
Yang aku tak tahu : Aku tak tahu bagaimana perasaanmu kala itu. Ada dalam diriku yang tak enak hati padamu, juga kasihan, karena aku kira kau merasa bersalah. Tapi kurasa aku salah. Karena aku tahu, di hari-hari kehidupanmu berikutnya, kau lupa dan tak peduli tentang aku dan apa yang sudah kaulakukan. Barangkali kaukira pelecehan itu biasa saja, dan aku terima-terima saja.
Yang jelas… belakangan aku ketahui, Ta, –yang jelas-jelas kau tak tahu kalau aku tahu– bahwa kau memang pernah membicarakan aku dan tubuhku, pada temanmu yang juga temanku. Bukan hanya aku, namun juga tubuh teman-temanku. Maka dapat aku simpulkan, bahwa yang kaulakukan padaku sudah kaurencanakan. Setidaknya, sudah kaukhayalkan. Mungkin saja, aku bukan satu-satunya korban. Kenyataan itu, membuatku semakin mual dan kembali habis akal.
Perlu kau tahu, Ta, bahwa aku semakin kuat. Meskipun aku tetap luka –karena, siapa yang tak terluka karena hal demikian?– aku semakin mampu mengolah perasaan dan membangun kekuatan. Bahwa, bertahun-tahun kemudian pasca kejadian di konser itu, seorang laboran menyentuh-sentuh pinggangku dan aku tak segan melaporkan apa yang dia lakukan. Bahwa, kini aku berani bercerita tentangmu dan kelakuanmu.
Kau harus tahu, Ta, kalau aku tidak takut padamu. Seandainya kau menemuiku sekarang, aku akan membela hakku dan memperjuangkan apa yang telah kauhinakan atas aku.
Ta, kira-kira, apa ya perasaan Ibumu, ketika tahu anaknya sembarangan dengan kelaminnya? Apa ya yang ada di kepala Bapakmu, jika tahu anaknya tumbuh tidak seperti yang diinginkannya? Karena aku yakin Bapakmu baik, dan kau dididik untuk jadi laki-laki yang baik. Kira-kira, apa yang akan kau rasa kalau anakmu kelak melakukan hal serupa? Apa kau akan malu dan pilu —lumrahnya orang, atau kau justru merasa jantan dan bangga?
Surat ini aku lepas di hari terakhirku berusia 23 tahun. Melepas kisah ini adalah upaya pendewasaanku untuk melepas salah satu luka paling menggerogoti, yang sudah aku simpan selama ini sendiri. Melepas kisah ini adalah satu harapanku untuk damai dengan diriku sendiri. Melepas kisah ini adalah caraku memberi tahu teman-temanku yang sama seperti aku, bahwa perasaan mereka sahih dan mereka tak sendiri.
Terlepas dari mengapa dan bagaimana aku melepasnya, Ta, aku harap surat ini sampai padamu. Kuharap kau paham bagaimana rasanya jadi korban. Bagaimana kisah kita dari sudut pandang aku.
Kelak, jika kau sudah membacanya, akan timbul berbagai perasaan di dadamu yang tak pernah kaurasakan sebelumnya. Kau akan mengingkari ini dan kau akan menghardikku. Kau akan membela diri dan kau bebas melakukan itu. Namun ingatlah satu hal, Ta, bahwa kisah ini benar dan kau tak dapat memungkiri itu.
NB: 5 tahun yang lalu, aku masih takut dan malu untuk mengungkapkan kisah ini. Maka aku hanya mampu bercerita seperti ini, dari sudut pandang ketiga dan menahan-tahan isi cerita. Namun hari ini, dengan segenap keberanian, aku menceritakan kembali apa yang terjadi secara utuh dengan tuntas.