Kayaknya ini deh jodoh aku, dia baik banget sama aku soalnya”
“Aduh, kalau enggak sekarang jadian, aku takut gak nikah sama dia”
“Eh dia ngechat duluan, kayaknya dia udah ditakdirkan sama aku”
—
Bertemu dengan seseorang, itu sama dengan bertemu dengan lampu lalu lintas.
Ada orang yang seperti lampu hijau, ketika kita bertemu dengannya, iman kita terus maju, tidak terhenti, karena kita tidak tertarik untuk berhenti padanya.
Ada orang yang seperti lampu kuning, ketika kita bertemu dengannya, iman kita kadang melambat sejenak, dan biasanya ada keraguan untuk lanjut atau berhenti.
Ada orang yang seperti lampu merah, ketika kita bertemu dengannya, iman kita terhenti, karena ada hal dalam dirinya yang membuat kita berhenti.
Banyak dari kita, yang akhirnya salah mengartikan lampu merah. Tatkala kita berada di lampu merah, kita kadang merasa nyaman, berhenti sejenak, bersantai-santai lebih dulu, sampai pada akhirnya, kita tidak mau beranjak pada lampu merah ini.
Orang-orang seperti ini, akan menghentikan keimanan kita dengan berbagai caranya yang kadang nampak indah di mata kita. Ada yang berawal dari senyum dengan kita, berawal dari sering berpapasan, berawal dari mulai chattingan, hingga akhirnya kita mulai mengendorkan iman kita. Kita jadi mulai sering memikirkan dia, sering merasa bertanggung jawab dengan dia, dan banyak hal lainnya.
Hati-hati, banyak dari kita keasyikan dan akhirnya berhenti di lampu merah. Sampai-sampai lupa, bahwa kita harus terus melaju, memacu iman kita. Sampai-sampai lupa, bahwa kita harus lanjut pada tujuan kita.
Karena sesungguhnya, ketika kita terus memacu diri kita dan iman kita, maka kita akan bisa tiba di sebuah tujuan akhir kita, yakni rumah.
Rumahlah, yang membuat kita nyaman, membuat kita tenang, membuat kita bisa beristirahat, membuat kita ingin selalu pulang kepadanya, membuat kita berhenti tanpa harus melanjutkan mencari. Dan rumah inilah yang kita kenal dengan jodoh yang baik.
Ya, kadang kita berjumpa dengan lampu merah. Tapi ingat, ketika kita bertemu manusia-manusia lampu merah, jangan keasyikan berhenti, karena itu hanya sementara, karena sesungguhnya ia akan menjadi lampu hijau, ia akan menjadi orang yang kita lupakan dan kita tinggalkan di belakang. Dan setiap orang, pasti akan bertemu dengan lampu merahnya.
Jadi, mau berhenti di lampu merah? Atau mau berhenti di rumah?