Berpura hati mati.....
Mengebiri rindu dipagi hari.....
Membenamkan jemu akan derita hati....
Berharap udara pagi menyegarkan apa yang ada dalam diri....
Pagi..... Berilah sejumput senyum untuk hatiku
seen from Russia
seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Russia
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from Switzerland
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from Thailand

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Romania
seen from Switzerland
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
Berpura hati mati.....
Mengebiri rindu dipagi hari.....
Membenamkan jemu akan derita hati....
Berharap udara pagi menyegarkan apa yang ada dalam diri....
Pagi..... Berilah sejumput senyum untuk hatiku
Hari ini hatiku sedang sendu.... Sendu karena Rindu... Rindu yang sangat menggebu.... Rinduku tentunya sama kamu....
aku rinnnduuuu .....bagaimana dengan kau?
K(m)enapa?
Sepertinya kita sedang terkurung Rasa Takut, menoleh kelangit tanpa berpikir panjang. Hanya pujian dan angan angan kosong yang ditawarkan. Sedang kita kelaparan dalam kesengsaraan. Berjalan tapi tak menginjak bumi, bernapas tapi tak diberi ruang. Mungkin peduli adalah hal yang bodoh untuk dipertontonkan, atau hak asasi adalah daging busuk yang diperjual belikan. Bebas bukanlah suatu tontonan yang harus diperjual belikan, tapi sebuah rasa yang harus dipertanggung jawabkan. Kepedulian akan menjadi nasi basi yang selalu ditawarkan.
Sepertinya senja tak dapat kita nikmati lagi. Berujung malam kelam dan berganti pagi yang mencekam. Untaian kata sudah tak lagi indah ditelinga meski mata membaca tapi hati terkunci mati. Terlelap sepi karena jeruji kesombongan dan kekkuatan. Takut adalah rasa yang dipertaruhkan pada setiap kata. Iba adalah rasa yang harus diperjuangkan demi kebebasan. TAk peduli akan sang mentari yang menerangi negeri ini. memberi terik tapi tak memberi naungan. Membakar jiwa dalam kesempitan. Membunuh setiap kata dalam tontonan.
Sepertinya genderang perang sudah dibunyikan. Mengais sampah sampah yang berserakan dijalanan. Memenjarakan kearifan dan keadilan. Kuat adalah kata yang selalu didendangkan, meski tak bernada tapi mencekik jiwa dalam pembelaan. Berbungkus beludru yang harum baunya, tapi bertulangkan belati yang siap menghadang. Membunuh setiap kata yang terbaca, mengubur setiap langkah yang terlihat.
Meski sakit tapi kita masih bisa berjalan, meski luka tapi kita masih bernapas meski hancur tapi kita masih bisa mendengkur.
“ tak akan ada karya tanpa kata, tak akan ada iraman tanpa nada, tak ada akan ada sastra tanpa kita”
HUJAN ITU INDAH Chapter 2
Waktu tak terasa sudah hari minggu, seperti biasa minggu pagi hari pencerahanku. Aku biasa mengikuti kajian di masjid Raya TSM bersama ibuku tercinta. bu .ibu aku sudah siap bu panggilku pada ibu, mmmmm sekarang hari minggu ya Jawab ibuku seolah lupa karna memang usia dan mungkin sepeninggalan ayah, karena kebiasaan Almarhum ayahku kalau hari minggu suka mengajaknya ke pasar sebelum berkeliling mencari kajian kajian Islam. iya ibuku sayang jawabku lirih sambil kupeluk hangat , mmmmm hari ini ibu libur dulu ya pintanya,ibu sepertinya pingin istirahat tambahnya sambil tersenyum dan duduk dikursi ruang tamu, ibu sakit? tanyaku sedikit cemas, nggak putra ibu gak sakit hanya pingin istirahat saja, nanti kalau sudah selesai tolong ceritakan pada ibu kajiannya ya tegasnya sambil menghiburku bahwa ibuku baik baik saja. ohhh Alhamdulillah atuh kalau ibu sehat, istirahat saja nanti kalau putra sudah pulang di ceritain kajiannya tambahku Sambil Bergegas pergi Assalamualikumucapku pada ibu Waalikum salam Jawabnya. Akupun berlalu ditemani motor tuaku, sepanjang jalan memang masih lenggang maklum am 8 pagi hari imggu bandung, biasanya ramainya di Car free Days dago jadi jalan tak terlalu ramai. Sampailah aku di masjid tujuanku kulihat di X Banner Jodoh Psti Bertemu Utsd. Hanan Attaki.lc, aku hanya tersenyum..maklum aku masih jomblo kebetulan sekali hehe, gumamku dalam hati. Dua jam berlalu tak terasa saking seriusnya aku memperhatikan detail dari tausyah utsd hanan attaki. lc yang tidak membosankan dan kebetulan tema nya tentang jodoh. Aku bergegas untuk pulang menemani ibuku yang sendirian dirumah, ternyata diluar hujan cukup besar, akhirnya kuurungkan untuk pulang karna jarak antara mesjid dan parkiran cukup untuk membasahi baju koko putihku, baiknya aku tunggu dulu disini sambil duduk di halaman depan masjid. assalamualikum terdengar seorang cewek salam kepadaku, waalikum salam ku jawab sambil kutolehkan kearah dating nya suara kulihat seorang cewek berhijab hitam dengan terusan maroon berkacamata, aku tersenyum kupikir paling pemudi rohis yang biasa menawarkan untuk hibah sesuatu ke rumah yatim, mas putra apa kabar? tanyanya, ohhh Alhamdulillah sehat jawabku sambil kikuk dan berpikir siapa, lupa ya ..? tanyanya lagi, "aku intan, temennya reni yang waktu itu hujan hujanan" tambah intan, "ohhhh atsgfirullah maaf aku gak begitu merhatinn, abis kemarin pake helm sich" jawabku keheranan koq beda sekarang terlihat lebih dari kemarin dalam hatiku, "sendirian ?"tanyaku memanjangkan obrolan,"ih nggak mas sama abi" jawabnya, "ikut kajian rutin juga" tambahnya, "oh iyah neng mumpung ada waktu lumayanlah tambah tambah ilmu, maklum aku bukan orang pesantrenan" tambahku, " hihi sama atuh mas aku juga bukan orang pesantren, tapi kan tetep talabul ilmi itu wajib" jawabnya sambil memalingkan wajahnya ke arah hujan yang semakin deras, "mas putra sendirian" tanyanya lagi sambil duduk tak jauh dariku, "oh iyan neng, biasanya sama ibu, cuma kebetulan ibunya pingin libur dulu" jawabku sambil tertunduk malu tak kuat melihat wajahnya. "Ohhhh ayahnya?" Tanyanya penasaran, " oh aya sudah almarhun neng" jawàbku tertunduk lesu ingat ayahku, " oh maaf gak ada maksud" jawabnya sedikit menyesal, "hehe gak apa apa neng, ayahku meninggal sewaktu aku masih di tinggkat dua neng, beliau tertabrak mobil dan mobilnya sampai sekarang gak mau tanggung jawab" jawavku sedikit sedih teringat waktu kejadian ayah ku jadi korban tabrak lari, "innalilahi.... " Imbuhnya, "jaman sekarang memang samakin gak karuan ya a eh mas" tambahnya lagi, "iya neng" jawabku singkat sambil melihat jam di hpku, Tiba tiba terdengar suara serak lelaki memanggil nama intan, "intaaannn " panggilnya, "ya abi" jawab intan sambil menoleh kearah datang suara, "maaf nungguin lama ya" tegas lelaki itu yang ternyata ayahnya intan, "hehe gak apa apa abi, lagian kebetulan intan ketemu temen" jawab intan tersenyum sambil melihat kearahku, "ohhh pantesan biasanya suka krang kring teleponin abi" candanya sambil tersenyum, "kenalin dong ke abi" tambahnya sambil tersenyum memeluk intan terlihat sangat akrab diantara mereka, "hehe ini putra ayah temen dini" ucapnya sambil mengenalkannya padaku, "mas putra ini abi intan" tambahnya lagi, "oh ya asaalamu'alikum pak" jawabku singkat sedikit kikuk, "teman kuliah intan ya?"tanya abinya intan, "oh bukan bi kebetulan kenal saja" potong intan, "mmmmm kan abi tanya ke putra bukan ke intan" candanya abi sambil tersenyum, aku hanya tertunduk malu dan tersenyum melihat tingkah intan yang sedikit manja dan terlihat beda setelah ada abinya, "ikut kajian juga nak" tanya abi, "iyah abi aa putra ikut kajian rutin tiap hari minggu" potong intan lagi sambil tersenyum memegang tangan abinya, "hahahaha " abi hanya tersenyum seolah senang melihat anaknya terlihat ceria, "tumben ceria banget" canda abinya sambil melihat ke intan yang terlihat manja, " ihhhh abi gak ach biasa aja" jawab intan sedikit kikuj dan menundukan wajahnya malu, aku hanya tersenyum sambil melihat hujan yang mulai reda, "mmmm maaf abi, neng saya harus pulang" tegasku, "ohhh mau pulang ya" tanya abi, " iya pak, mau nemenin ibu maklum ini hari libur jadi waktunya bantu bantu pak" jawabku panjang mencari alasan supaya bisa pamitan pulang, " mmmmm saya pikir memang janjian mo kerumah kita" tambah abi sambil tersenyum melihat kearah intan, "ohhh maaf " aku kikuk, "Insya Allah lain waktu pak" jawabku singkat , "ihhh abi nggak janjian, kita ketemu disini " jawab intan, " mmmmm ya udah janjian aja, kapan mau kerumah" imbuh abi sambil melihat ke arahku, "mmmm ya Insya Allah pak" jawabku kikuk, " ih ya uda ada nomer wa nya kan? Tanya abi memperpanjang pertanyaan, "oh belum bi " kata intan memotong pertanyaan abinya, " oyah maaf saya lupa" jawabku sambil mengeluarkan hpku, setelah kita saling tukaran nomer wa, sayapun pamitan karna hujan memang sudah reda sama sekali. Sepanjang jalan hati ini terasa lapang, tersenyum sendiri mengingat apa yang terjadi barusan, aku hanya berpikir apakah.... Apakah...... Gumammu sambil tersenyum sendiri diatas motor tuaku. Iklan Lagi achhh....
Kucoba tuk menafakuri diri
Membaca semua memori yang ada
Kilas balik pada semua yang kuingat
Tentang semua yang kulakukan
Ternyata aku adalah salah satu pendosa
Hitamku mungkin sudaH legammmm
Tak ada titik putih yang menempel
Semua hitam kelam....
Tapi aku teringat akan rasulMu
Taubatlah se taubat taubatnya
Karna Allah maha pengampun
Karna Allah maha segalanya
Karna taubatku tak menunggu ajalku...
Jadi siapakah lelaki mu itu.... Kau puja tapi kau kecewa.... Kau Benci tapi Kau Rindui.... Kau Acuhkan tapi kau Sayangi......
Aku?...mmmmm