Mengapresiasi Usia Puisi Acep Zamzam Noor: Sebuah Tinjauan Musikalisasi Puisi “Di Halaman 55” karya Acep Zamzam Noor oleh Nuansa
Di zaman modern seperti sekarang, tentunya cara apresiasi dalam bidang kesenian semakin berkembang. Kebudayaan lokal yang populer dalam bidang kesenian semakin merambat di masyarakat. Masyarakat Indonesia yang mempunyai banyak sekali kekayaan budaya sehingga untuk mengapresiasi kesenian lokal terdapat berbagai macam cara. Terutama dalam bidang musik, antusias masyarakat terhadap musik sudah tidak memandang lagi genre musiknya. Namun dalam bidang sastra, seperti puisi, antusias masyarakat terhadap puisi di lingkungan masyarakat mungkin kurang bergelora. Hal ini disebabkan oleh beberap faktor, diantaranya pengetahuan masyarakat tentang puisi dan cara puisi di apresiasi di masyarakat.
Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Sejarah puisi di Indonesia dimulai dari angkatan Balai Pustaka pada tahun 1920. Telah banyak sekali karya-karya puisi dari para penyair Indonesia yang menjadi sejarah sastra Indonesia. Bahkan hingga zaman sekarang yang memasuki era milenial, tidak hanya sastrawan yang bisa membuat puisi yang baik, semua kalangan juga bisa membuat karya sastra puisi yang baik dengan mengikuti berbagai event lomba puisi di Indonesia.
Di dalam perkembangannya, apresiasi mengenai puisi di masyarakat semakin menjadi-jadi. Puisi yang ditampilkan dengan cara dibacakan seperti biasa, mungkin kurang menarik minat masyarakat untuk mengapresiasi. Bentuk lain dari apresiasi puisi dengan cara dideklamasikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia deklamasi memiliki pengertian penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya. Deklamasi puisi termasuk sebuah seni yang menggunakan karya sastra (puisi) sebagai medianya dan diapresiasi dengan cara dibacakan dengan gestur dan mimik untuk mengungkapkan perasaan yang terdapat dalam sebuah puisi.
Selain dideklamasikan, puisi bisa diapresiasi dengan cara dimusikalisasi. Masyarakat lebih dominan tertarik mengapresiasi musikalisasi puisi dibandingkan dengan sekadar membaca puisi saja. Masyarakat bisa mengapresiasi musikalisasi puisi melewati media audiovisual. Musikalisasi puisi merupakan bentuk ekspesi yang memadukan unsur musik dan puisi menjadi sebuah laguyang enak didengar. Musikalisasi puisi merupakan salah satu bentuk alih wahana dari puisi menjadi sebuah musik.
Membahas musikalisasi puisi, ada salah satu musikalisasi puisi yang membuat saya tertarik untuk mendengarnya lagi dan lagi. Musikalisasi puisi ini dibawakan oleh grup Nuansa yang berasal dari SMAN 1 Ciamis yang membawakan puisi “Di Halaman 55” karya Acep Zamzam Noor. Faktor yang membuat musikalisasi ini enak didengar adalah pemenggalan unit ide yang pas dan dipadukan dengan instrumen musik yang digunakan. Penggalan suku kata dari setiap kalimatnya sudah betul dan pas dengan musiknya. Instrumen musik yang digunakan dalam musikalisasi ini diantaranya, gitar, keyboard, drumset, barchime dan dua orang vokalis. Terdapat penekanan pada larik “Di bilangan tahun ini ...” dan pada larik “Di angka rawan ini …” yang membuat pesan dari puisi semakin tersirat. Berikut adalah penggalan puisi “Di Halaman 55” dalam musikalisasi puisi Nuansa. Tanda garis miring (/) menandai lama jeda puisi yang dinyanyikan oleh Nuansa.
Di halaman/ ini/ akan kumulai lagi/
Menghitung kata/ dan menyaringnya/
Di ruang kosong ini/ akan kuulangi lagi/
Menyusun bunyi/ dan memainkannya//
Di bilangan/ tahun ini/ akan kumulai lagi/
Menjumlah usia/ dan mengendapkannya/
Di angka rawan ini/ akan kuulangi lagi/
Menyerap waktu/ dan/ memaknainya//
Faktor perasaan dan suasana dalam musikalisasi puisi “Di Halaman 55” yang dibawakan oleh Nuansa juga mempengaruhi keluwesan para apresiator. Perasaan dan suasana yang diciptakan dalam musikalisasi ini adalah begitu sendu, seolah-olah aku lirik sedang menikmati masa senjanya. Ditambah dengan iringan musik yang bertempo adagio yang terkesan lambat namun terasa lebih cepat, membuat musikalisasi ini semakin enak didengarkan. Di bagian awal musikalisasi, terdapat iringan barchime yang menandai bahwa lagu akan segera dinyanyikan. Gemerincing barchime di awal musikalisasi pun menambah suasana tenang dan semakin sendu. Dalam jeda antara bait kesatu dan bait kedua, vokalis bersenandung Haaaa,,,huuuu,, yang membuat suasana menjadi lebih tenang, karena pembawaannya yang benar-benar dihayati.
Dalam puisi “Di Halaman 55” terdapat makna yang tersirat. Makna dalam puisi merupakan arti atau maksud yang ada dalam setiap larik puisi. Pada larik pertama, diksi halaman mempunyai arti usia dari aku lirik. Di bait pertama puisi “Di Halaman 55” memiliki makna aku lirik akan menulis dan memainkan musik di usianya. Dalam bait kedua larik pertama “Di bilangan tahun ini akan kumulai lagi”, penyair mempertegas lagi maksud dari usia aku lirik yang dinayatakan dalam frasa Di bilangan tahun ini. Pada larik kedua, penyair cenderung menyiratkan makna untuk menikmati usia senja serta mengintrospeksi diri selama hidup. Ini dinyatakan dalam bait kedua pada larik kedua “menjumlah usia dan mengendapkannya” dan larik keempat “Menyerap waktu dan memaknainya”.
Dilihat dari hasil analisis makna puisi “Di Halaman 55”, puisi ini mempunyai makna yang sendu. Nuansa membawakan puisi “Di Halaman 55” dengan musik yang sesuai dengan makna puisinya. Iringan musik yang terkesan melow mampu membuat musikalisasi ini lebih hidup. Nuansa membawakan puisi ini dengan tenang dan mampu menghayati setiap larik dalam puisi tersebut.
Musikalisi puisi “Di Halaman 55” yang dibawakan oleh Nuansa cenderung menggunakan genre pop jazz. Alunan musik terdengar universal dan terdapat sensasi jazz yang mengiringi musikalisasi tersebut, selaras dengan makna dari puisinya menambah kenikmatan untuk mengapresiasi puisi itu. Selain itu, alat pemukul drumnya menggunakan heritage brush atau jazz brush yang biasanya digunakan untuk mengiringi musik-musik jazz. Maka dari itu, genre pop jazz cocok digunakan dalam musikalisi puisi ini.
Simpulan dari pembahasan di atas, musikalisasi puisi Nuansa yang membawakan puisi “Di Halaman 55” bisa dibilang berhasil. Ketepatan dan kesesuaian pada pemenggalan larik dan musik lumayan sempurna. Penghayatan yang dibawakan oleh Nuansa selaras dengan perasaan dan suasana antara puisi yang dibawakan dan musik yang mengiringinya, sehingga membuat para pendengar ingin mendengarnya berulang kali. Makna dari puisi tersebut sangat sendu dan tenang, sesuai dengan genre musik dari musikalisasi puisi tersebut yang menggunakan genre pop jazz. Genre yang digunakan sangat cocok dilihat dari instrumen yang digunakan, tempo yang dimainkan, dan makna puisi yang tersirat mendukung musikalisasi puisi “Di Halaman 55” ini berhasil disenandungkan. (Sofiayasmin)