Sejauh Ini, Aku Masih Ada
Aku selalu merasa hidupku bukan tentang tiba-tiba menjadi kuat… tapi tentang belajar bertahan dari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kuberitahu siapa-siapa.
Aku dibesarkan oleh perjalanan panjang, bukan perjalanan yang megah, tapi langkah-langkah sederhana yang diam-diam membentukku menjadi seseorang yang berbeda.
Ada masa ketika aku harus jauh dari rumah selama bertahun-tahun. Pesantren menjadi langit yang menutupi seluruh masa mudaku. Di sana aku belajar bahwa rindu bisa menjadi guru yang keras, bahwa air mata bisa menjadi teman yang setia, dan bahwa kedewasaan bukan datang dari usia… tapi dari malam-malam ketika aku harus memilih antara menyerah atau kembali bangun meski hatiku lelah.
Aku pernah tumbuh dengan rasa malu yang kuat. Rasa malu yang membuatku hati-hati, menunduk, menjaga diri, dan menjaga pandangan. Aku belajar bahwa seorang perempuan harus membawa dirinya seperti amanah; dijaga, dipelihara, tidak dirusak. Kadang aku merasa berbeda, tapi berbeda itu justru yang menjaga aku tetap utuh.
Perjalanan kuliahku juga bukan perjalanan yang mulus. Aku pernah berjalan kaki saat tak ada pilihan lain, pernah menunggu angkot terlalu lama, pernah naik kereta dengan mata yang hampir tertutup kantuk. Sampai semester enam, aku tetap melangkah seperti itu dengan segala keterbatasanku, tapi juga dengan keyakinan bahwa Allaah tidak akan meninggalkan langkah yang diniatkan baik.
Saat PPL dan skripsi menumpuk, rasanya aku seperti berlari dalam hujan: kuyup, lelah, tapi tetap maju karena aku tahu ada doa orang tuaku yang ikut berjalan bersamaku. Semester tujuh menjadi saksi bagaimana Allaah memudahkan jalan yang dulu kubayangkan penuh batu. Ada hari ketika aku hampir tumbang, tapi justru di situ aku melihat betapa lembutnya pertolongan Allaah.
Aku ditempatkan di Cigudeg untuk Kampus Mengajar dan di sana aku belajar hal baru; bahwa anak-anak bisa menguatkan orang dewasa, bahwa senyum mereka bisa menghapus lelah, dan bahwa memberi tidak pernah membuatmu kehilangan apa pun. Justru di sana hatiku terasa pulang.
Namun setelah lulus, aku justru merasakan sepi yang lain. Teman-teman tidak lagi sedekat dulu, cerita tidak lagi mudah dibagikan. Ada ruang kosong yang tiba-tiba tumbuh, ruang yang mungkin Allaah siapkan untuk seseorang yang tepat, atau untuk aku mengisi diriku sendiri dulu. Aku tidak tahu. Aku hanya berjalan.
Dan sampai hari ini… aku menatap diriku pelan.
Aku yang dulu kecil, pemalu, pendiam, yang sering merasa tidak punya apa-apa, ternyata mampu melewati semuanya. Aku yang dulu takut gagal… ternyata bisa menjadi sarjana.
Aku yang dulu sering menangis diam-diam… ternyata masih diizinkan berdiri setegak ini.
Perjalanan ini tidak pernah sempurna. Aku pun tidak.
Tapi aku tahu satu hal yang pasti; Aku adalah hasil dari semua doa yang tidak pernah terdengar, semua luka yang tidak pernah kuceritakan, dan semua keberanian yang kupilih di saat aku sendiri tidak yakin bisa.
Masih percaya bahwa sesuatu yang indah sedang menunggu di depan sana.
Bukan karena aku hebat. Tapi karena Allaah tidak pernah salah menuntun langkah seorang hamba yang terus berusaha.