Menjalani hidup dengan memedam rasa? Bagaimana tuh rasanya? Apa kayak minum Lee Mineral, ada manis-manisnya gitu hehe.. Mungkin yang udah pernah ngerasain auto pengen teriak ngejawab yaa hihi… Sabar… Sabar… Yuk kita kembali menyimak kisah Ayra! Cekitdot! ^_^
Ayra pun melanjutkan kehidupannya seperti biasa. Namun, tidak benar-benar seperti biasa karena kali ini ada yang berbeda pada dirinya tepatnya pada ruang hatinya. Kini ruang hati itu sudah terisi oleh satu nama yang hanya diungkapkan ketika ia sedang singgah di atas sajadah. Tiada satu pun orang yang tau. Bahkan rangkaian kata di diarynya pun sekongkol --pelit untuk menunjukkan siapakah sosok yang selalu diceritakan dalam tulisannya. Yang membacanya tidak akan paham. Dan Ayra tidak ingin siapa pun dapat membacanya termasuk membaca isi hatinya, “siapakah orang yang sedang tertaut ---beruntung—berada dihati gadis seorang Ayra”. Eh sebentar! Apakah menurut kalian, orang yang merasakan dicintai oleh seseorang adalah ‘sebuah keberuntungan’? Lebih baik yang mana? mencintai atau dicintai? Aku yakin kamu pasti akan berpikir soal pertanyaan ini wkwk.
“Ra, seperti apa sih cewek yang baik untuk pasangannya?” Ratih menatap serius wajah Ayra.
Seketika Ayra tersedak mendengar pertanyaan itu. Dia cepat-cepat mengambil gelas didekatnya. Meneguk cepat air didalamnya. Dia terkejut. Pertanyaan ini sungguh sangat menohok dan juga membuatnya harus berpikir keras. Ambaikan dulu perasaannya.
Setelah tenang, baru ia dapat menjawab,
“Yaa… Menurut aku, untuk posisi itu adalah mereka yang bisa setia dan tulus mencintai pasangan dengan apa adanya selama masih tidak keluar batas standarisasi hukum agama sih. Hehe” Ayra menoleh kikuk. Lantas menyeringai.
“Uhh…. Jawabannya agak rumit buat dipahamin yaa!” Ratih menggaruk kepala yang tidak gatal.
“hehe” Ayra menghentikan kegiatannya. Ia sedang menulis sambil menikmati sedapnya snack jajanan anak-anak. Tapi, kali ini dia pun memberi posisi duduk yang nyaman agar lebih enak dipandang oleh Ratih yang sepertinya sedang memintanya menjadi “konselor dadakan”.
“Yaa maksudnya itu perempuan yang punya kesetiaan dan cinta yang baik, murni, nggak dibuat-buat, dan nggak ngelanggar syariat islam juga.”
“kalau gitu kan, pacaran melanggar syariat islam! Gimana dong?” Ratih menyernyitkan dahi. Tatapannya semakin serius.
“Yaa sih… Banyak ulama yang memberi penafsiran tentang ‘jangan mendekati zina dan itu tandanya hal-hal yang buat dekat ke zina juga dilarang. Pacaran juga sebetulnya nggak ada dalam syariat islam.”
“Emm… Kalau cuma chattan doang itu gimana?”
“Yaa asal pembicaraannya nggak bikin dosa in syaa Allah selamat. Banyak orang yang menganggap pacaran itu sebagai ritual untuk mengenal seseorang yang nantinya bakal jadi pendamping hidup. Yaa kalau untuk sekedar sikap berkenalan mungkin itu nggak masalah. Tapi aku juga nggak tau bentuk pacaran kamu kayak gimana sama dia”. Ayra memasang wajah menyebalkan.
“Jadi?” tapi Ratih masih serius dengan topik pembicaraan yang dia awali.
“Mm… Yaa kamu merasa sungguh-sungguh nggak sama dia?” Ayra malah bertanya.
“Iyalah sungguh-sungguh! masa main-main.” Ratih memasang wajah sebal. Ayra menyeringai.
“Yaa kalau gitu, kalian punya tujuan dan kepastian kan mau dibawa kemana hubungannya so itu membuat diri kamu untuk memilih setia, memberikan cinta yang tulus dan baik. Dan inget jaga batasan!” Ucapan Ayra dituangkan dengan penuh keyakinan.
“Do’ain yaa semoga aku dan Kak Rafka bisa sampai ke jenjang pernikahan.” Wajah Ratih seketika berubah memelas.
“Aku do’ain kamu yang terbaik yaa, Ratih.” Senyum tulus diukir Ayra untuk temannya.
‘masalah hati bisa dikesampingkan dulu untuk kebaikan semuanya. Biar pun sebenarnya sakit, pura-pura aja nggak kerasa sakit. Senyum dan kehangatan mereka lebih berarti dibandingkan melayani rasa yang tidak diundang ini.’ pikir Ayra dalam diam.
Ayra, Wajahnya masih menggurat senyum. Apapun yang bisa dilakukan untuk membuat teman-temannya bahagia akan dia lakukan. Termasuk mencoba memberi masukan dan solusi yang padahal dirinya sendiri memiliki kebuntuan dalam masalahnya ‘tentang rasa’ yang dipendam.
Ratih memeluk erat Ayra sambil tersenyum penuh bahagia.
“Eh guys, boleh nggak sih kalau cewek nembak duluan? Soalnya gwe bingung mau gimana lagi sama perasaan ini. Gwe ingin si doi tau apa yang selama ini ada dihati ini, kalau dibiarin nanti dia keburu sama orang lain!”
Mendengar perkataan itu, Ayra hanya bisa mengelus-ngelus dada. Memang tidak ada yang salah, hanya saja bagi Ayra hal itu adalah pantangan bagi perempuan bila harus mengungkapkan perasaannya duluan. Namun berbeda dengan kasus Sayyidatina Khadijah yang mengutarakannya terlebih dahulu, itu karena beliau sudah siap untuk meniti tangga dan kehidupan berikutnya. Sayyidatina Khodijah sudah mapan saat itu. Berbeda dengan kondisinya saat ini, maka dia masih memilih untuk memendam rasa saja.
Hari-harinya berjalan menyenangkan. Disetiap celah waktu istirahat bahkan sibuknya, entah kenapa kehadiran Kak Rafka seolah membuat harinya berbeda. Terkadang pada beberapa waktu, jika tidak melihat Rafka sekali saja seolah hari cerah berubah menjadi kelam. Sepertinya janji-janji kehidupan tidak terlihat lagi dimatanya sampai akhirnya ia berjumpa dengan Rafka dan pulihkah kembali harinya menjadi cerah.
“Astagfirullah. Kok aku jadi halu gini sih.”
Ayra pun menepis rasa dan pikiran yang mengganggunya. Ia pun mengalihkan diri dengan mencari kegiatan lain. Menyibukkan diri.
Ayra yang merasa dirinya yang sudah berbeda, membuatnya termenung. Di sore yang indah itu... Langit senja mulai tiba. Dia diam terduduk diatas dipan beton bekas bangunan runtuh. Sengaja bangunannya diruntuhkan untuk digantikan dengan bangunan yang baru. Pandangannya memandang ke alam sekitar. Sesekali menatap langit jingga. ‘Senja selalu menyenangkan tapi mengapa datangnya hanya sebentar?’ Orang-orang pasti menyukai senja dengan warna eloknya dan mereka menunggu walau dengan waktu yang lama dan menatapnya hanya sekejap saja. Akankah yang dinanti adalah sesuatu yang selalu kedatangan sangat singkat seperti senja ? Sama seperti rasa ini yang memilih menanti untuk sesuatu yang indah. Disaat lelah dan ingin menyerah, tiba-tiba teringat lagi banyangan indahnya dan akhirnya memilih untuk bertahan. Semoga yang kunanti bukanlah hal sama seperti senja, indah namun dia cepat perginya. Aku tak mau itu’ suara hati Ayra bercerita. Yang mendengar hanyalah telinganya sendiri. Burung-burung terbang melewati langit luas. Pulang setelah kenyang mencari makan. Kini saatnya Ayra juga pulang. Menatap senja lama-lama hanya akan membawanya larut dalam rasa yang entah harus diapakan.
Pada malam harinya, ia enyempatkan diri berinteraksi bersama orang rumah. Lempar canda dan tawa. Mendengarkan beberapa petuah abi dan uminya dengan khidmat setelah itu lantas pergi ke kamar dan tidur. Sebelum tidur, perasaannya kembali mengusik.
‘serepot inikah rasanya memendam rasa? Sedikit-sedikit disapa olehnya. Oleh bayang yang semu. Membuat tertawa sendiri. Namun tiba-tiba sakit sendiri. Apakah semua ini hanya memberikan senang dan sedih? Dimana waktu untuk tenangnya?’ Ayra mengendus sebal.
Ia pun memutuskan meraih al-qur’an yang terletak diatas meja belajar. Membacanya. Mencari ketenangan. Selepas itu, ia pun tidur bersama ketenangan yang didapatnya.
Ketika Ayra sedang berjalan menuju kantin, kedua sahabatnya menyeru namanya, Cika dan Ciki.
“Eh, Ra. Ada gossip hangat loh! Itu temen kita, Ratih dia putus sama Kak Rafka.”
“Hah putus? Kok bisa?” Ayra terkejut.