"Bentar lagi, ya. Nih aku uda mau otw." Aku mengiriminya pesan untuk memberitahu kalau aku akan segera menuju tempatnya berada.
Kebetulan, dia sedang ada di kotaku untuk mengisi seminar. Dia jarang sekali punya waktu untuk mampir dan hari ini tampaknya adalah kesempatan baik bagiku untuk menyatakan sesuatu--yang tak boleh aku sia-siakan.
Bersamaan dengan pesan yang telah terkirim itu yang kemudian dia balas dengan ok, waiting for you... 😊--aku kembali mengingat awal pertama aku bertemu dengannya. Berawal dari dia yang meminta kontakku dari temanku, kemudian berlanjut ke pertemuan dan hubungan intens...sampai tiba lah hari ini.
Pertemuan dengannya memang tak terlalu banyak, namun berkesan. Sebentar saja, tapi aku mengenang banyak. Dengannya, kata bosan mendadak kehilangan artinya. Bahkan, kalau bisa aku ingin membekukan waktu setiap kali bersamanya.
Semakin dekat dengan tempatnya berada, semakin tak karuan perasaanku. Apa yang akan terjadi nantinya?
Aku mendapatinya berada di kerumunan teman-temannya. Dia tampak sibuk berbincang dengan mereka. Tak mau mengganggunya, aku tak terburu-buru menghampirinya, tapi dia menemukanku sedang menunggu untuk dihampiri. Dia pamit sebentar dengan teman-temannya untuk berjalan ke arahku.
"Hei... sudah lama?" tanyanya.
Aku menggeleng, dan hanya tersenyum.
"Nih untuk kamu. Selamat ulang tahun." Aku menyodorkan sebuah bingkisan kado untuknya--yang kusiapkan semalaman penuh.
"Wah, makasih banyak, jadi ngerepotin." Katanya sedikit kaget.
"Nggak kok, hehe." Jawabku seadanya lalu mendadak kikuk.
"Mau gabung dengan yang lain?" tanyanya.
"Ah, enggak deh, gapapa. Kamu lanjutin aja akitivitasmu, aku langsung pulang aja, hehe." Mendadak jiwa introvertku meronta. Aku paling tidak bisa berhadapan dengan banyak orang. Terlebih, aku takut terlalu egois untuk memilikinya saja dan cemburu melihatnya berinteraksi dengan yang lain.
"Oh, okey. Aku anterin ya ke parkiran?" tawarnya.
Kami berjalan pelan-pelan menuju tempat parkir. Untuk waktu yang sebentar itu, aku berharap jalan menuju parkiran semakin panjang saja, agar aku bisa menikmati waktu berdua dengannya lebih lama. Hanya hening canggung yang menusuk. Aku tidak berani memulai percakapan, sementara dia bersikap biasa saja.
Bahkan di saat-saat seperti ini, aku masih tak punya nyali untuk berkata, "aku sayang sama kamu... bisa gak kamu sama aku aja?"
Aku memacu kendaraanku dengan cepat, supaya sosok nyatanya kembali menjadi sosok yang tak sanggup kugapai. Walau sebenarnya dalam hati kecilku, aku ingin berkata yang sejujurnya. Karena aku tau, ketika aku melewati kesempatan ini, aku tak akan pernah punya kesempatan lainnya lagi.
Aku punya firasat akan mengingat wajahnya untuk waktu yang sangat lama. Bagiku, dia akan menjadi seseorang yang ada di balik tembok ketakutanku sendiri. Tembok yang entah kapan baru bisa kurobohkan. Tapi yang pastinya, bukan hari ini juga nanti, karena besok aku akan pindah dari kota ini.
Akhirnya, aku meninggalkan perasaanku di sini. Cepat atau lambat, aku akan dilupakan, tapi aku ingin dilupakan dengan kesan yang baik. Sebelum semuanya menjadi rumit...
...dan aku harus kalah sebelum berjuang untuk perasaanku sendiri.