tidak ada apa-apanya.
sudah beberapa bulan ini aa kerja di suatu instansi di kota kabupaten. jam kerjanya sejak pagi hingga sore sekitar pukul empat (kalau masih banyak kerjaan bisa sampai jam setengah enam mepet maghrib). sedangkan tempat tinggal kami di daerah atas, di pegunungan. artinya aa ndak mungkin ngelaju karena jarak tempat tinggal kami dengan kota kabupaten sekitar dua jam. selain jauh, dinginnya bahkan bisa menembus tulang kalau pagi-pagi.
aa disana ngekost. dan saya ndak bisa ikut kesana karena saya harus menemani neneknya yang sudah sepuh disini. awalnya memang kami berencana untuk ngontrak di kota sana, bahkan aa sudah mencari-cari dan ammanya runni siap menginfokan kalau ada rumah yg dikontrakkan. tapi kapan hari ketika kami berdua dan nenek aa sedang ngobrol santai, nenek bilang (meski secara tidak langsung) untuk tinggal disini saja, menemani nenek. yang artinya, kami akan berjauhan.
alhasil, diantara tujuh hari dalam seminggu, hari yang paling saya nanti-nanti adalah hari sabtu. dan tentu saya punya ritual mingguan di hari sabtu. adalah ketika hari sabtu tiba, saya selalu mempersiapkan semua dengan wajah ceria untuk menyambut kedatangan aa di sore harinya. mengganti sprei, menyapu dan mengepel lantai, memastikan kamarnya rapi dan harum, mandi sebersih mungkin, memakai pelembab, memakai celak, menyisir rambut, memastikan badan wangi. dan yang terakhir, memasak masakan favorit aa.
ohiya. bagian yang paling membahagiakan ketika aa datang adalah ketika saya menjawab salam aa, lalu dengan segera saya berhambur memeluknya, kemudian saya dihujani ciuman berkali-kali. saya legaaaaa sekali saat itu. bagi saya, pelukan adalah cara melepas beban yang paling bikin tenang.
setelah itu, tiga hari kedepan saya akan bersama aa. bercengkrama ringan, nonton film bareng, masak-masak bareng, makan-makan bareng. mencuci bareng. semuanya. saat-saat itu saya benar-benar bahagia sekali.
tapi bagian yang menyedihkan, saya harus menemui rabu pagi lagi. saya harus ditinggal aa lagi, yang artinya saya serasa sendiri lagi disini. sesekali memang ngobrol sama nenek, tapi karena nenek sudah sepuh ya paling ngobrolnya gitu-gitu aja. ditambah kendalanya, nenek tidak begitu pandai berbicara bahasa indonesia dan saya belum sepenuhnya paham bahasa sunda.
suatu hari, saya jenuh, saya bosan dengan aktifitas gini-gini saja--ketika tidak ada aa. setiap pagi bangun tanpa aa, dan kemudian memasak, menyapu, bebersih kamar, mencuci pakaian (jika ada). dan puncak jenuh itu terjadi tadi malam. mungkin karena tadi malam mati lampu, baterai ponsel tinggal beberapa persen, diluar hujan, akhirnya saya mengeluh kepada aa di whatsapp. saya bilang saya capek, saya jenuh, saya bosan. sampai kapan kita jauh-jauhan gini terus?
sebenarnya saya bukan bosan karena ditinggalnya saja, bukan kok. tapi lebih ke, saya (masih) merasa sendiri disini. tidak ada yg bisa diajak ngobrol asyik (dalam arti obrolan sefrekuensi), tidak paham sama sekali bahasa sunda, dan tidak berani keluar rumah untuk sekedar menikmati pemandangan luar rumah. saya malu karena disini saya belum benar-benar mengenal siapa-siapa. pasalnya, kalau dirumah merasa jenuh, saya bisa dengan bebasnya mencari distraksi main keluar rumah. bisa pergi ke tempat makan, beli apa-apa semaunya karena sudah tau dimana-dimananya, main kerumah budhe dan sebagainya. tapi disini yang bisa saya lakukan palingan mendekam di kamar. nderes, baca buku, nontonin video di youtube, nonton film, menggambar. sambil ngopi, ngeteh, dan sesekali diajak nenek pergi ke pengajian.
ketika puncaknya saya marah uring-uringan sambil terisak, aa kemudian bilang,
"sabar (sedikit). nanti juga insyaaAlloh ada masanya kita selalu berdua, selalu bersama. nggak jauhan gini. sekarang belajar dulu dari orang lain. belajar dari orang lain. belajar dari orang lain. orang lain yang hidupnya nggak seberuntung kita. yang dipisahkan berbulan-bulan. yang terus ditikam rindu, dengan jarak yang lebih jauh lagi. beda pulau, beda negara. bahkan beda alam. menikah memang ternyata nggak mudah, dek. kita sudah tau tidak mudah, tapi kita tidak boleh menyerah. dan semuanya harus di jalani. dan dipelajari. bersama."
saya kemudian serasa tertonjok sesuatu. aa memang selalu membuat saya tersadar. yang saya lakukan selama ini mulai dari mencuci, belajar mati-matian memasak, menyetrika banyak baju, menyapu dan lain-lain ternyata bukan apa-apa dibanding aa yang setiap rabu pagi harus motoran jauh, kerja dari pagi hingga sore, capek, dan disana apa-apa harus disiapin dirinya sendiri, begitu terus setiap hari. belum memikirkan nafkah keluarga. kalau mau nih, ya. aa bisa kok memilih tidak menikahi saya dan uang hasil kerjanya buat dirinya sendiri. tapi dia mau berbagi dengan saya. belum ketika aa harus memastikan saya bisa tersenyum setiap hari, memastikan saya betah disini.
"maaf, ya, aa. malah jadi beban buat aa."
"tugas aa emang itu dek, ketika ijab qobul. maka sepenuhnya aa sadar, aa harus menanggung semua beban yang ada pada istri aa. termasuk beban dosa, beban semua yang istri aa lakukan. dan seberapa besar beban itu, itu nggak jadi masalah dek, buat aa. aa harus bisa menerima segalanya. aa cuma memohon pada Allah semoga di kuatkan untuk memikul semua beban itu."
DUUUH BOLEH NGGAK PELUK AA SEKARANGGGGG.
saya belum apa-apa dan saya sudah merasa mengorbankan segala dengan saya mau diajak pindah disini, di lingkungan baru yang menurut saya sangatlah asing. bersedia melakukan pekerjaan sehari-hari rumah tangga. ah, apalah merasa sudah berkorban, wong memang kewajibannya istri itu ikut suami kemanapun ia pergi, kan? wong memang seharusnya istri melayani suami sebaik mungkin, kan?
sudahlah. tidak perlu menghitung-hitung pengorbanan. ya karena memang tidak ada yang dikorbankan. sudahlah. tidak perlu merasa terbebani. ya memang seharusnya seperti itu.










