Aku tertegun, ketika nyanyiannya tak lagi menggema di timpaniku. Biasanya, nyanyian itu sangat membuatku berisik. Namun, aku tetap akan duduk dan mendengarkannya dalam nikmat. Dan, kini. Nyanyian itu tak lagi ada. Suara Elegi yang lama telah mati.
Pada kesempatan yang akan datang nanti. Aku ingin satu nyanyian kembali. Kembali menggema di timpaniku. Membuatku pekik dan merasa berisik lagi. Dari situ, aku jauh lebih mengenal diriku, dan apa mauku. Mungkin, mejadi warna baru untukku.
Dan untuk kesusah sudahan yang telah aku lewati. Terima kasih telah menghantarkan suara itu dalam nyanyian. Aku dan rindu akan nyanyian itu, telah mengakhirinya.
Lalu, untuk waktu-waktu yang aku nanti. Aku menanti suara baru yang akan kembali bernyanyi. Namun, bukan dengan suara Elegi.
















