Mengirim pesan "Sayang, lagi apa?" itu bagus. Namun jika pesannya dikirim setiap lima menit sekali, itu namanya bukan posesif lagi. Tapi amnesia.
seen from China

seen from Canada
seen from United States
seen from Japan

seen from Germany

seen from United States
seen from Brunei
seen from France
seen from Germany
seen from China
seen from Germany
seen from Indonesia

seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Switzerland
seen from Nepal
seen from United States
Mengirim pesan "Sayang, lagi apa?" itu bagus. Namun jika pesannya dikirim setiap lima menit sekali, itu namanya bukan posesif lagi. Tapi amnesia.
Kok bisa ya, ada orang yang pacaran sama teman sekantor.
Bahkan sampai menikah.
Bahkan sampai hamil.
Saya, bisa nahan diri buat nggak gampar aja udah bagus.
Saya nonton ulang klip-klip film lama Bring It On (2000) dan menurut saya ending cerita film ini sangat memuaskan dan adil, kendati saya masih kerap menemukan komentar bahwa tim Torrance Shipman (yang diperankan Kristen Dunst) harusnya menang karena koreografi mereka lebih bagus.
Kenapa saya puas dengan ending-nya?
1. Tim pemandu sorak (cheerleader) sekolahnya Kristen Dunst, Rancho Carne Toros, dari dulu langganan jadi juara karena mereka mencuri koreografi tim East Compton Clovers, sebuah sekolah di wilayah Compton yang didominasi orang kulit hitam. Jadi team Rancho Carne memata-matai penampilan East Compton Clovers, lalu menggunakan koreografi mereka (yang original itu) di ajang kompetisi cheerleader. Ikut kompetisi ini nggak gampang, ada duitnya. Dan mahal. Dan karena yang sekolah di Compton rata-rata bukan orang kaya, mereka nggak bisa ikut kompetisi. Mereka cuma bisa nonton di TV, menyaksikan tarian original mereka dibawakan anak-anak kulit putih dari Rancho Carne San Diego, kemudian melihat mereka mengangkat piala serta menerima hadiah. Sedih, sedih banget. Dan ini berlangsung selama enam tahun (berdasarkan dialog ex-kapten Rancho Carne Toros di awal film).
Enam tahun anak-anak East Compton Clovers "dicuri" kreativitasnya, kesempatannya, dan hadiahnya. Dan nggak bisa apa-apa.
Makanya ketika mereka akhirnya bisa ikut kompetisi berkat kapten mereka, Isis, yang nggak gampang nyerah mencari jalan, terus akhirnya team mereka diumumkan sebagai juara satu (UNTUK PERTAMA KALINYA SEJAK DIPECUNDANGI BERTAHUN-TAHUN) saya pikir ini fair. They really deserve this happy ending.
2. Di ajang kompetisi yang sama, team Rancho Carne Toros dapat juara dua, untuk yang pertama kalinya sejak mereka bertahun-tahun jadi juara satu (via jalur nyolong tarian orang). Padahal di kompetisi ini untuk pertama kalinya mereka mikir koreografi sendiri, brainstorming ide tarian sendiri, cari inspirasi gerakan dari mana-mana, latihan tanpa lelah...you name it. Memang hasilnya fresh banget. Tapi kok mereka juara dua?
Ya sebenernya dibikin jadi juara satu juga bisa, sih. Tapi nanti nggak adil buat Compton Clovers. Dan akan menjadi ending yang biasa banget buat pemirsa : jenenge lakon yo mesti menang.
Lagian kan ini pertama kalinya Rancho Carne Toros tampil dengan koreografi original buatan mereka sendiri, dapat juara dua ya udah bagus banget. Malah bisa merintis jalan untuk jadi juara satu di kompetisi selanjutnya.
Begitu.
Jadi kalau ada yang protes soal ending film Bring It On ini, ah... saya anggap orang itu terlalu sering nonton film di mana penjahatnya kalah dan lakon utamanya menang.
Tabik!
In this economy
Ditahan-tahan dulu deh, sebelum beli sesuatu. Tanya berulang ke diri sendiri : benar butuh atau tidak.
Khawatirnya begini : terlalu banyak beli sesuatu yang tidak kita butuhkan, besok-besok kita malah harus menjual sesuatu yang sangat kita perlukan.
"Devi, Instagram kamu apa?"
"Nggak punya Instagram."
"Kalo Facebook?"
"Udah nggak aktif dari tahun 2018."
"Oh.. terus main sosmed apa?"
"Yahoo Koprol."
"Lah, emangnya masih? Bukannya udah nggak ada lagi, ya?"
"Exactly."
********
I will never reveal my Tumblr account :))
At least for now.
Kebiasaan yang sudah beberapa lama saya lakukan setiap kali bersantap makan di luar :
1. Menumpuk perkakas makan di tengah meja
Piring dan gelas saya jadikan satu, beserta sendok, garpu, dan pisau makan. Taruh di tengah meja supaya gampang diambil oleh pramusaji.
Saya pernah tanya ke teman yang pernah kerja di resto, kalo ada customer yang numpuk-numpuk piring di tengah gitu kamu gimana? Dia bilang "ih, seneng banget. Itu membantu bikin kerjaan cepet, mbak. Apalagi kalau resto rame. Kami masih muter nganter minum, nganter sambel, kalau piring-piring di meja masih berceceran pasti kami harus ambilin satu-satu. Bikin lama."
2. Memuji rasa masakan
Saya biasanya sampaikan pada pramusaji yang sedang melayani atau kepada kasir saat akan membayar.
"Mbak, kwetiau goreng di sini enak, ya."
"Sayur asemnya seger banget."
"Enak lho, ayam rica-ricanya."
Rata-rata dari mereka senyum, jadi sedikit sumringah wajahnya.
Orang kalau masakannya dipuji jadi seneng, ya to?
3. Mengucapkan terima kasih sambil sebut nama mereka langsung
Ini sebetulnya tidak hanya saya lakukan di tempat makan, tapi di hampir setiap kesempatan katakanlah di mall, swalayan, di bank, atau sehari-hari di lingkungan kerja. Kalau saya tau nama orang yang membantu saya, pasti saya ucapkan "terima kasih banyak ya, Mas/Mbak xxxx"
Bagi saya, mendengar nama kita disebutkan orang lain pada forum umum (asal konteksnya bagus) itu suatu kebanggan. Entah, rasanya beda aja menerima ucapan 'terima kasih' saja dengan 'terima kasih banyak, ya Mbak Dev'
Makanya saya coba praktikan juga ke orang lain. Tentu saja mengucapkannya dengan tulus. ^_^
Di dunia yang semakin tidak karuan dan banyak orang yang psikisnya tertekan, saya berharap hal-hal kecil tadi sedikit mencerahkan hari mereka.
Tabik!
- Devi Okta -
Nggak ada manusia sempurna.
Jadi kalau ada yang bilang "Devi baik banget, yah..." saya pasti menimpali, "ah enggak kok, di cerita cerita hidup orang lain pasti ada lah, saya jadi orang jahat."
Kelihatannya minder dan merendah, ya?
Padahal enggak. Biar saya tetap napak tanah aja.
Pertama kali : coba-coba.
Dua kali : ketagihan.
Tiga kali : pelanggan tetap.
(ini berlaku untuk kegiatan jajan, baik jajan makanan, minuman, merchandise, atau "jajan" yang lain di luar sana...)