Kesalahan yang Berulang
menertawai diri sendiri adalah hal yang sering dilakukan seorang Pemuda Usang itu. dia selalu menertawai segala kesalahan-kesalahanya, walaupun kadang keadaan tengah sulit, sempit, atau mendebarkan. raut muka yang pucat itu kadang menampilkan sedikit simpul senyum hanya untuk menertawai kesalahan yang pemuda usang itu lakukan dengan tanganya sendiri.
adapun dulu Umar radhiallahu ‘anhu pernah berbuat sedemikian pula. dia sedang diam tiba-tiba menangis, lalu tertawa (?)
para sahabatpun bertanya, “engkau kenapa wahai Umar?”
“aku menangisi atas dosa-dosaku dulu yang tega mengubur anak perempuan hidup-hidup” jawab Umar.
“lantas kenapa engkau menangis?”
“karena aku teringat kepada sebuah rotiku dulu, yang ketika pagi aku mempersembahkan kepada pada berhala itu, lalu ketika aku lapar aku malah memakanya. dan berhala itu tidak marah kepadaku” jawab Umar -kurang lebih seperti itu-
dan sekarang Umar merupakan salah seorang Sahabat yang di juluki al-Faruq (pembeda) yang dimana dia dapat dengan tegas membedakan antara yang benar maupun yang salah.
sementara Pemuda Usang itu, masih tertunduk lesu dengan sedikit simpul senyum pada bibirnya. kesalahan yang dia lakukan merupakan sebuah kesalahan yang sepele. bahkan tak ada apa-apanya dengan kesalahan amirul mu’minin pada masa jahilliyanya. tapi, tetap menjengkelkan.
seperti, ketika segala rencana telah kita susun rapi untuk presentasi di kelas nanti. namun, ketika berangkat kesekolah ada hal sepele yang mengakibatkan keterlambatan itu terjadi -motor dipakai emak nganter adik- sehingga presentasi itu dibatalkan dan tak memperoleh nilai. menjengkelkan.
seperti itukah kehidupan. hambatan muncul dari berbagai faktor. ilmu yang kurang memadai dapat menjadikan Umar menyembah pada Roti itu, Fasilitas yang tiada membuat suatu hambatan menjadi nyata, dan segalanya. atas dasar itu, Pemuda Usang dapat tertawa.
hidup telah digariskan perjalanannya. maka “apakah kesedihan dapat mengembalikan semuanya?” tanya DR. Aidh Al-Qorni -dalam buku menjadi hamba yang Rabbani- “jika tidak, buat apa bersedih?”


















