Jangan Jadikan Aku Senjamu!
Senja memang indah, disukai banyak orang. Tapi untuk apa semua itu jika pada akhirnya senjalah yang menjadi pemisah antara siang dan malam? Menjadi sekat antara terik siang dan gelap malam? Entah harus kunamai kamu sebagai apa. Sebagai siang yang membuat banyak orang semangat untuk aktivitasnya atau sebagai malam yang menjadi waktu paling tepat untuk menyandarkan segala lelah. Kamu sih enak saja, bisa bahagia dengannya kapanpun kamu mau,
juga denganku walau sesaat.
Sedang aku? Asik menjadi penonton yang dengan bodohnya menunggu hal itu, berada ditengah kamu dan dia yang saling mencinta sambil berharap bisa tetap bahagia. Kamu tahu? Berada diposisi ini tidak mudah. Ada satu bagian sisiku tertekan oleh pertanyaan,
"Kapan kamu dan aku menjadi kita yang seutuhnya?" "Kapan aku bisa seutuhnya menjadi siang untuk semangatmu dan malam untuk lelahmu?" "Kapan tepati janjimu untuk tetap memilihku saat dia sudah tak bisa kau cegah?".
Entah untuk berapa lama lagi aku memilih jadi bodoh pada keadaan kita ini. Entah untuk berapa lama lagi aku memilih buta pada kenyataan yang jelas membuatku perih. Entah harus berapa lama lagi aku berharap kamu tetap tinggal disaat dia jelas memintamu pulang.
Ruang, masa depan.














