Tawakkal dan Melebihkan Usaha..
kalimat-kalimat itu tiba-tiba terngiang lagi. kalimat yang diucapkan guru besar itu. kalimat yang hanya dengan sekali ucap mampu mematahkan tugas yang kubuat berminggu-minggu. tugas yang kubuat dengan sungguh-sungguh. mengorbankan waktu tidur dan istirahat. bahkan kini, sulit rasanya untuk memejamkan mata. terbayang sulitnya jalan yang mesti kulalui untuk menyelesaikan tugas ini.
teringat kembali jalan yang mesti kulalui hingga tahap ini, mengapa selalu rumit dan susah. mengapa selalu dipersulit. sedangkan orang-orang sekitarku selalu dimudahkan. dulu pikirku sang kuasa menyuruhku untuk melebihkan usaha agar hasil yang kudapat sesuai usahaku. namun kini sulit bagiku untuk berfikir begitu.
hari ini, di penghujung solatku, kuteringat betapa diri ini jauh dari-Nya, betapa sering aku lalai akan kewajibanku, betapa sering aku mengeluhkan keadaanku pada orang sekitar, dan betapa sering aku melupakan-Nya. ah, mungkinkah ini teguran. mungkinkah ini teguran karena ku selalu jauh dari-Nya.mungkin ini teguran karena aku hanya mengeluh pada teman-temanku. bukankah seharusnya tempat pertama aku mengadu adalah Dia. mungkin juga ini teguran atas kemalasanku yang selalu menghabiskan waktu dengan kesia-siaan.
“oh, Tuhan, ampuni aku, ampuni aku yang selalu lalai ini, ampuni aku yang sering melupakan-Mu, ampuni aku yang lupa menyerahkan segala urusan pada-Mu ya Tuhan.”
ah ternyata obat kegalauanku ini ada pada diriku sendiri yang menyimpan beban dihatiku sendiri. dengan menyerahkan urusan pada-Nya ternyata betapa lapangnya hatiku saat ini.
sekarang aku hanya perlu berjanji pada diriku sendiri untuk melebihkan usaha dan kemudian menyerahkan semua pada-Nya. dan yakin aku mampu karena “hasil tidak akan mengkhianati usaha”.
“Alhamdulillah ‘ala Kulli Haal”