Aku putuskan untuk magang ke Pulau Sempu, dengan excited setelah 1 tahun tidak masuk hutan, akhirnya. Lama kalinya aku penasaran dengan Sempu, beberapa berita miring soal Pulau Sempu seolah-olah manusia, media, bermain-main dengan alam, seolah-olah ingin berebut hak milik. Aku penasaran, media yang ada hanya menampilkan gambaran luar Pulau Sempu. Mengkritisi pemerintah, tidak pro rakyat, tapi tidak memberi solusi. Cuma menghidupkan bara.
Pulau Sempu adalah Pulau seluas 877 ha, letaknya di Malang Selatan berbatasan langsung dengan Pantai Sendang Biru yang terkenal ikan laut segarnya. Belanda menetapkan Pulau ini sejak 15 Maret 1928. Undang-undang tentang kehutanan dan ekosistemnya sudah ada sejak dulu, tapi yang lebih jadi panutan sekarang UU no. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hutan dan Ekosistemnya (KSDAHE), (kamu bisa searching kalau penasaran). Pengertian cagar alam yang aku kutip dari undang-undang itu (aku tambah bahasaku) adalah suatu lokasi hutan yang memiliki kekhasan tumbuhan dan ekosistem didalamnya. Bicara soal ekosistem, Pulau Sempu punya 4 ekosistem menonjol yakni ekosistem danau, hutan tropis dataran rendah, hutan pantai dan hutan mangrove. Semuanya menarik, tapi aku tidak mau berbagi foto disini. Aku takut manusia lain jadi tertarik kemudian semakin banyak yang mengunjungi. Mungkin ada manusia awam disini yang belum mengerti soal ekosistem. Ekosistem dari bahasaku dan bacaan adalah perpaduan antara komponen biotik dan abiotik membentuk interaksi take and give dalam suatu lingkungan sampai terciptanya keselarasan. Mungkin yang kurang setuju bisa bacalah dari google.
Setelah aku masuk ke dalam kawasan, aku takjub. Selama ini aku masuk hutan dataran tinggi, sekarang aku masuk hutan dataran rendah. Allah memang maha arsitek, maha segalanya, menciptakan alam semegah ini. Secara iklim, suhu udara, tanahnya berbeda. Sedikit panas (hawanya) tapi teduh dibantu pepohonan tingkat atas yang membentuk tajuknya rapat sekali. Tanahnya lebih dominan ke berlumpur, beberapa track aku lewati jalannya berlumpur, apalagi musim hujan. Track sukses bikin ngos-ngosan, iya. Lebih takjub lagi adalah, permudaan tanaman yang sungguh alami. Tidak pernah ada penghijauan disana, bahkan petugas pun ceritakan padaku kalau menurutnya, cagar alam akan berkembang dan melakukan kehidupannya sendiri, tidak boleh ada tanaman yang dikurangi ataupun ditambahkan, semuanya harus alami. Herannya, semai tanaman ini tumbuh alami tapi sangat rapi, berjarak teratur, jumlahnya tidak karuan banyaknya. Kun fayakun, Allah Maha Segalanya. Menciptakan alam lengkap seisinya dengan permudaan tanaman yang dipersiapkan untuk masa selanjutnya. Semuanya ini nyata. Banyak pohon tumbang secara alami, aku anggap ini wajar, umur pohon yang sudah ratusan tahun atau tidak kuat tumbuh persaingan dengan tumbuhan lain mungkin sebabnya. Tapi, ini bukan kerusakan ekologis atau kerusakan alam karena ini terjadi secara alami bukan karena gergajian manusia. Dari pohon mati yang tumbang ini tumbuh berbagai jenis jamur, baik yang bisa dimakan maupun yang berbahaya. Pohon mati yang tumbang ini pastinya akan diolah dan diuraikan oleh satwa kecil (mikroorganisme), keuntungannya sebagai makanan bagi mikroorganisme juga sebagai penambah unsur hara bagi tanah. Otomatis, tanah yang subur itu mempermudah dan mempercepat pertumbuhan tanaman muda dan semai.
Menurut petugas, kondisi cagar alam Pulau Sempu saat ini sudah kurun pulih setelah penutupan tegas dari Balai Besar KSDA Jawa Timur. Sebelumnya, pertumbuhan tanaman tidak secepat 2 tahun belakangan ini. Karena? Ya karena saat itu intensitas pengunjung illegal masih sangat banyak, pencurian kayu juga masih banyak saat lalu.
Cagar alam ini dihuni oleh puluhan jenis satwa, ratusan jenis tanaman yang tidak tahu secara detail ratusan jenis itu. Aku bertemu banyak satwa, satwa ini seakan bermain atau mungkin terganggu akan kehadiran kami. Seakan aku ingin katakan, tenang aku bukan pihak mereka yang mengacaukan, aku adalah pihakmu menjaga (aku mulai gila). Satwa ini punya peran yang banyak terhadap cagar alam, termasuk penyebaran biji tanaman lewat aktivitasnya. Terbayang, alam ini tanpa mereka. Aku ingin tepis beberapa pendapat yang menganggap manusia takut kepada satwa, satwa garang akan menyerang. Tidak seperti itu, justru satwa yang lebih takut kepada manusia. Manusia adalah ancaman yang berbahaya bagi mereka, silahkan ingat kembali ratusan monyet ditembak mati di perkebunan sawit karena dianggap hama, gajah di Sumatra dibunuh untuk diambil gadingnya. Hati nurani sudah mati. Satwa tidak akan pernah menyerang selama manusia tidak mengganggunya. Jangankan mengagumi dari dekat, radius sekian puluh meter, satwa sudah sangat tau keberadaan kita dan memilih menjauh dari manusia. Mereka akan menyerang jika manusia sudah dianggap mengganggunya, seperti mendirikan tenda di area mereka, di jalur makan mereka, atau bahkan mengganggu rumahnya. Menyeramkan lagi, bagi karnivora yang sedang lapar kemudian menghampiri karna manusia mengganggunya.
Ada tindakan yang harus aku kritisi disini, berhenti memberi makanan pada satwa liar, berhenti menakut-nakutinya, cukup usir dengan perlahan saja. Tau tidak, masyarakat banyak yang mengeluh saat berkunjung ke lokasi wisata yang banyak monyet ekor pajang (Macaca fascicularis), mereka pasti akan mengeluh monyet tersebut nakal dan mengganggu karna ingin mengambil makanan mereka. Padahal kalau diingat, ini adalah akibat dari manusia sendiri. Mereka dulu memberi makanan pada monyet yang bukan semestinya dimakan, membuat kemampuan monyet untuk survive makanannya sendiri menurun. Akibatnya? Ya mereka nakal, karena akan mencari makanan seperti yang diberikan padanya saat dulu. Semua memang ada sebab dan akibat bukan?
Alam Sempu buatku jatuh cinta, aku beruntung bisa menikmati senja disana. Sungguh keren luar biasa. Alam ini dan seisinya harus dijaga, keajaiban Allah menciptakan bukan untuk tanpa sebab. Satu hal yang masih buatku penasaran sebenarnya adalah, ada apa di Sempu sehingga Belanda begitu tertarik menetapkannya sebagai Cagar Alam yang harus dilindungi. Negara luar saja sebegitu cintanya kepada Sempu, lalu kenapa kita tidak? dengan mencintainya dari jauh? dengan melindunginya, tanpa mengunjunginya, tanpa merusaknya?. Ini alam, bisa murka kapan saja, kalau terus dilukai. Tidak ingatkah sabda alam dari berbagai wilayah Indonesia karena keserakahan beberapa kepentingan manusia?
Tidak, tidak berhenti disini Pulau Sempunya. Aku ingin berbagi Pulau Sempu juga berbagi ilmu lebih soal yang aku tau, kalau kamu tidak setuju boleh tinggalkan, kalau kamu perlu penambahan materi berikan padaku, aku berterimakasih. Sempu part 2 akan lebih ku jelaskan lagi yang saat lalu sedang ramai. Thx u.
(itu hanya foto dari laut, silahkan menikmati, mengagumi dari jauh)