Orang-orang Proyek: Sebuah Perjalanan Terjal
“Tema pergelaran tahun ini adalah adaptasi dari novel Indonesia,” begitu kata Pak Rudi, dosen Matakuliah Pergelaran kami, di suatu hari. Sontak kami semua kaget. Memproduksi pementasan teater (secara serius) pun kami belum pernah, mungkin hanya satu-dua orang yang pernah melakukan. Tema yang kami dapatkan sungguh berbeda (dan jauh lebih sulit, kurasa) dibanding tema-tema tahun sebelumnya yang memang menggunakan naskah yang sudah jadi.
Memproduksi pementasan teater bukanlah perkara mudah, khususnya bagi kami; mahasiswa semester 4 prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang kebanyakan terjebak di sini. Berbekal pengalaman seadanya, kami coba menyusun “kepanitiaan”, dan akhirnya terpilihlah rekan kami, Alya, sebagai sutradara.
Tiga bulan waktu yang diberikan pada kami untuk persiapan. Namun di awal bulan saja, sudah banyak sekali permasalahan yang terjadi: 1) pimpinan produksi yang terpilih menjadi aktor sehingga harus diadakan penggantian; 2) penggantian posisi sutradara 2 menjadi Stage Manager; dan 3) adanya perubahan posisi tim artistik.
Aku dan Wulan saat itu diamanahi sebagai Penasihat Literatur, yang bertugas untuk mencari novel yang akan kami pentaskan. Apa boleh buat, aku tidak boleh menolak, hingga akhirnya kami mencari dan benar-benar sampai pada titik kejenuhan kami yang tak juga menemukan novel yang tepat untuk kami pentaskan. Hingga akhirnya, sang Sutradara dan Stage Manager mengusulkan satu novel dari Eka Kurniawan. Aku dan Wulan saat itu keberatan, karena jalan ceritanya kurang pas dengan kriteria yang diajukan Sutradara. Timbullah bola-bola api antara kami, hingga kami tak saling bicara selama beberapa hari. Namun akhirnya, bagaimanapun, pemilihan novel harus tetap berlanjut, sehingga terpilihlah novel tersebut untuk kami pentaskan.
Novel sudah terpilih. Kami kira kami bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya. Nyatanya, saat itu di jam Matakuliah Pergelaran, dosen kami mengatakan bahwa kelas lain sudah ada yang menggunakan novel dengan pengarang yang sama, yang artinya kami HARUS mengganti novel pilihan kami. Kembali kami dibuat bingung. Waktu semakin menipis sehingga mustahil rasanya menemukan novel yang tepat dalam waktu sesingkat itu. Beruntungnya, Pak Rudi, dosen pengampu kami, menyarankan satu novel berjudul Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Setelah kami baca, novel tersebut sangat pas dengan kriteria Sutradara (realis, sesuai dengan SDM yang laki-lakinya sedikit, dan konfliknya beragam). Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk mengadaptasi novel tersebut.
Pembuatan naskah dilakukan oleh Ninda. Singkat cerita, kami telah memiliki naskah yang akan dipentaskan serta melakukan reading. Proses dilanjutkan dengan casting yang saat itu memiliki banyak kendala, mulai dari kesulitan pemilihan aktor karena SDM yang kami miliki tidak sesuai dengan karakter yang ada dalam novel baik fisik maupun psikis; ketidakmauan teman kami dalam memerankan salah satu peran karena merasa tidak sesuai; ada dua aktor yang memiliki kemampuan yang sama-sama bagus dalam memainkan salah satu peran; juga hal-hal kecil lainnya yang sangat memengaruhi.
Singkat cerita, semua hal tadi dapat tertangani. Kami mulai ke tahap selanjutnya, yaitu latihan (disertai olah vokal, olah tubuh, olah sukma, dan latihan pernapasan), juga membuat properti panggung. Semua permasalahan memuncak di tahap ini. Banyak dari kami yang mengeluh, merasakan bahwa kami tak pernah bisa melakukan tugas sebesar ini; tugas yang berbobot 4 sks namun terasa seperti berkali-kali lipat. Tim produksi ketar-ketir mencari dana dengan cara menjual makanan di sekitar kampus, mengadakan infaq harian, menagih uang kas, serta berjualan baju bekas di Gasibu. Tim pentas pun sama, sibuk berlatih musik, menyewa lampu, mencari kostum, mencari sponsor make up, dan lain sebagainya. Tangisan menjadi kawan kami untuk beberapa minggu di tahap ini. Banyak dari kami yang akhirnya merenggang dan jadi tak banyak bicara, banyak juga yang mengemukakan keresahannya dalam rapat kelas, meminta dukungan dan kerja sama hingga menangis, dan berbagai reaksi lainnya.
Kami sadar bawa kelas kami hanyalah sebutir debu diantara tiga kelas lain. Kami sama sekali tak memiliki SDM yang mengerti sepenuhnya perihal pementasan, berbeda dengan kelas lain yang sudah hidup di dunia teater bahkan beberapa tahun sebelum mereka memasuki kuliah. Tiap hari kami dihantui kekhawatiran, takut pementasan kami menjadi pementasan yang memalukan dan tidak berarti apa-apa bagi perjuangan kami selama ini. Ditambah lagi, sudah dua tahun Dik A menyabet titel pementasan terbaik dan sutradara terbaik. Mau tidak mau, kamilah yang menjadi ujung tombak pementasan tahun ini. Mempertahankan, atau meruntuhkan.
Tak banyak yang bisa kami lakukan. Kami hanya bisa berlatih dan berusaha. Sang Sutradara sudah berkali-kali bilang bahwa tak ada satupun peran yang tidak penting. Kami mencoba untuk saling menguatkan, tapi nyatanya ketakutan tersebut selalu lebih besar dibanding kepercayaan diri kami.
Beberapa waktu mendekati pergelaran, kami mendapat bantuan dari Teh Mayang, Kang Luthfi, dan Teh Mia. Dengan tulus, mereka memberikan masukan-masukan yang menguatkan kami, membuat kepercayaan diri kami naik sedikit demi sedikit. Hingga tak terasa, saat itu sudah H-1 pementasan.
Properti kami lumayan banyak, karena ada dua setting dalam panggung. Kami berterima kasih pada tim artistik yang menyuguhkan warung dan bedeng yang sempurna. Sayangnya, kelas kami kembali diuji: bedeng kami runtuh semalam sebelum pementasan teater kami dimulai.
Cemas, tentu. Kami bergantian untuk bergadang dan membagi tugas. Ada yang memperbaiki bedeng, merapikan kursi penonton, merapikan souvenir, dan tugas-tugas lainnya. Betapa baiknya Allaah, sebab dalam situasi seperti itu, Ia kirimkan banyak sekali bantuan. Ya, banyak sekali kakak tingkat dan kawan-kawan seangkatan kami yang rela tidak tidur hanya untuk membantu kami. Dengan tulus, mereka membantu memperbeiki bedeng, memasang lampu hingga harus memanjat, memasang properti, dan tugas-tugas berat lainnya. Semoga kebaikan selalu Allaah berikan padamu, ya :”)
Tanggal 10 Mei 2017. Artinya, sudah saatnya kami pentas. Kami melakukan sekali geladi bersih karena waktu tak mencukupi. Kami berpelukan, menangis terharu karena perjuangan selama kurang lebih tiga bulan akan terlihat hasilnya. Kami sudah pasrah, menyerahkan segala sesuatu yang terjadi hanya pada-Nya.
Malam itu, sungguh malam yang takkan pernah terlupa. Kami telah membuktikan bahwa semua hal bergantung pada kesungguhan. Alhamdulillaah, malam itu, pementasan Orang-orang Proyek berjalan dengan lancar. Kami sangat puas menikmati hasil dari jerih payah kami selama ini. Pementasan diakhiri dengan kami yang haru, tak menyangka bahwa hari itu pementasan kami telah selesai.
Orang-orang Proyek memberikan hikmah padaku, bahwa kunci segala hal adalah keinginan dan kesungguhan. Sungguh pikiran-pikiran buruk tentang kekurangan diri akan terus menerus menggangu kepercayaan diri, hingga akhirnya kita menjadi pribadi yang suka merendahkan diri. Sempat beberapa kali kami menamai diri kami sebagai “Orang-orang Pinggiran”, karena kami begitu merasa rendah dibanding kelas-kelas lain. Nyatanya, kami bisa. Kerja sama membuat kami menjadi jauh lebih kuat. Masalah-masalah yang ada nyatanya membuat kami seling menghargai perasaan satu sama lain.
Dik A, mungkin pementasan ini menjadi pementasan yang terjadi sekali seumur hidup bagi beberapa di antara kita. Dik A, sungguh tak ada sedikit pun rasa sesal bagiku karena harus menikmati perihnya pergelaran bersamamu. Sungguh aku merasa beruntung menjadi bagian darimu. Kini kita sudah sampai di penghujung semester 4, yang artinya kita harus memilih jalan kita masing-masing: Jurnalistik, BIPA, ataupun Sanggar Sastra. Intensitas kita untuk belajar bersama di dalam kelas mungkin akan sedikit berkurang. Tapi, apapun pilihan kita, semoga bermuara pada keridlaan Allaah, serta menghidupkan banyak manfaat baik untuk diri kita maupun orang lain. Semester ini tak akan serekat semester lalu, tapi semoga hati kita selalu terpaut, ya!
Selamat meneruskan perjuangan, Dik A!