Kopi itu hitam, susu itu putih. Kalau kamu sukanya apa? Aku sih sukanya kamu.... #kopihitam #susuputih #pendekarkopi #v60coffee #kopikakilima Follow IG @kedai_storyofcoffee https://www.instagram.com/p/CSwGUZeHsJX/?utm_medium=tumblr


#dc comics#batman#bruce wayne#dc#dick grayson#dc universe#tim drake#batfamily#batfam#dc fanart



seen from China

seen from Malaysia
seen from New Zealand
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Vietnam

seen from Italy
seen from China

seen from Bulgaria
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Costa Rica

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
Kopi itu hitam, susu itu putih. Kalau kamu sukanya apa? Aku sih sukanya kamu.... #kopihitam #susuputih #pendekarkopi #v60coffee #kopikakilima Follow IG @kedai_storyofcoffee https://www.instagram.com/p/CSwGUZeHsJX/?utm_medium=tumblr
Selayaknya Pendekar dalam novel Nagabumi karya Seno Gumira, para Pendekar Kopi berkelebat ke sana kemari, dari satu kedai ke kedai yang lain untuk menguji seberapa tinggi dan seberapa tajam lidahnya dalam merasa sekaligus menilai kecakapan dan wawasan para juru saji dalam meracik secangkir kopi.
Prahara itu benar-benar terjadi. Dunia yang mulanya hitam pekat kini berganti menjadi suatu warna gelap menjelang coklat dengan warna kemerah-merahan. Sebuah dunia pahit manis yang telah memberikan suatu pengertian tentang tendangan untuk memulai hari dan suatu ketenangan demi bersantai di penghujung hari.
Kini berganti. Sejak ilmu dan wawasan negeri-negeri jauh seperti Nagari Kanguru, ke-fungky-an Amrik, dan jawara-jawara tanah Eropa tiba di bumi pertiwi, maka jagad hitam bergoncang. Orang-orang kemudian memperoleh suatu pengertian baru bahwa rupanya ada sebuah keilmuan dan kemungkinan atas kopi.
Maka demikianlah tuan dan puan yang melandasi prahara itu terjadi. Sebagian orang merutuki dunia gelap yang pekat pahit dan manis. Mempersoalkan suatu kebiasaan yang dalam kacamata orang-orang tersebut ialah suatu kesalahan belaka pada cara dan proses menikmati secangkir kopi! Oh Jagad Kahyangan bergetar hebat pada hari itu, hari di mana orang-orang memutuskan perlawanan. Edukasi! dan tentu saja tak lupa suatu teriakan lantang ; panjang umur perlawanan! (agar lebih dramatis)
Gelombang demi gelombang mulai bermunculan, bermula dari riak-riak kecil pengetahuan. Sebuah keterkejutan budaya? Orang-orang mulai menggalang perlawanan. Pamflet-pamflet disebarkan, ditempel, dijereng, dan disuratkan. Nyaring bunyinya: maka dengan ini telah kami deklarasikan bahwa rasa asam adalah kekayaan dan gerbang rasa dari suatu kebenaran atas hasil bumi kita, Indonesia! Juga dengan demikian, kita bisa memberikan suatu posisi ekonomi dan sosial yang baik kepada para petani di tanah air ini tatkala kita menilai hasil bumi ini dari suatu rantai kerja dan cara untuk memperoleh biji-biji terbaik! Harga akan menjulang dan kesejahteraan bagi warga-warga desa akan tiba di muka depan rumah-rumahnya. Panjang umur perlawanan! Panjang umur wawasan! Panjang umur petani Indonesia!
Oooh Jagad Mayapada, Madyapada, Arcapada, saksi dari segala tindak tanduk manusia dari masa-masa. Apakah ini telah menjadi rencanamu?
Di suatu tahun perlawanan yang gemilang, dunia hitam pekat pahit manis telah berganti suatu dunia tidak hitam pekat dan memiliki warna kemerah-merahan. Tidak berganti secara keseluruhan, namun satu generasi baru muncul dan menjadi suatu rantai yang berbeda dari para pendahulunya. Dan di antara suatu generasi yang damai dan menikmati, yang antusias dan mencermati, timbul pula orang-orang yang mengasah diri dan bertandang ke sana kemari, dari satu kedai ke kedai lain, dari tanah matahari hingga gurun sahara, untuk suatu alasan yang tidak pernah akan kau ketahui; apakah menguji diri ataukah menguji kecakapan para juru saji? Hari itu, hari di mana daun-daun murbei berguguran adalah hari kelahiran para Pendekar Kopi. Ciaaaat!
Suatu tekanan bagi para juru saji untuk mempersiapkan diri. Karena berita tentang Pendekar Kopi terdengar begitu jelas namun serupa mitos sehingga memberikan kecemasan dan kekhawatiran bahwa orang-orang itu akan datang untuk menyerang dari dunia persilatan yang entah, jauh dari mata para awam. Berlatihlah para juru saji, dibacanya lontar-lontar dalam bahasa asing, berguru kepada yang telah peroleh suatu tataran empu. Untuk suatu kesiapan, menghadapi Para Pendekar Kopi.
Pendekar Kopi sebagaimana profesi-profesi lain, memiliki juga ragam jenisnya. Ada Pendekar Kopi Sendiri, ini adalah jenis Pendekar Kopi yang dalam keterdiamannya adalah pembayangan suatu cara dari bagaimana juru saji membuatkan kopi untuknya. Pendekar Kopi Sendiri ini tanpa banyak tanya mampu menilai suatu kecakapan juru saji dari langkah pertama ia memasuki kedai. Ia juga telah mengasah ketajaman lidahnya untuk menyusuri jejak rasa. Luar biasa sekaligus berbahaya!
Kemudian Pendekar Kopi Koalisi. Adalah Pendekar Kopi yang senang berkunjung bersama-sama untuk menguji suatu kedai dan juru saji sekaligus untuk menilai seberapa besar daya jual tempat yang ia kunjungi. Sejarah mencatat (Sejarah yang mana? Kitab fiksi kopi) demikian karena beberapa di antaranya memiliki kedai kopi dan tak jarang para pemilik itu adalah pucuk-pucuk pimpinan Pendekar Kopi Koalisi. Disepakati atau tidak disepakati dalam suatu prasasti.
Lain lagi ialah Tunas-Tunas Pendekar Kopi. Jenis ini adalah jenis pendekar yang tak jarang membabi-buta menyerang di meja saji tanpa mengerti kedalaman kesimpulan dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan agar tampak pintar dihadapan kawan-kawannya yang seperti sedang akan diajak untuk menapaki dunia kependekaran. Ceroboh sekali! Sungguh berbahaya apabila bertemu dengan juru saji yang keilmuwannya amat sangat tinggi, sehingga dengan sedikit tenaga dalam mereka-mereka itu dapat terjengkal keluar dari kedai kopi mereka berdiri. Hiiiii
Tentu klasifikasi di atas tidak mencakup keseluruhan ragam Pendekar Kopi. Juga tidak pula sebagai suatu kebenaran nyata yang tercatat oleh suatu negara. Boleh jadi itu hanya desas-desus belaka selayaknya orang-orang membicarakan desas-desus politik dan asmara di warung kopi.
Kemeriahan itu telah terhenti. Untuk suatu alasan yang tidak kau mengerti, Para Pendekar Kopi mulai menepi. Mungkin mereka bertapa, mungkin mereka berdoa, atau mungkin mereka juga membuka kedai kopi. Meski demikian, pada suatu masa, karena teror dan isu keberadaan Pendekar Kopi telah melahirkan suatu kecakapan-kecakapan dari para juru saji yang berlatih gigih dan mengasah kuda-kuda untuk menanti kedatangan mereka-mereka.
Selamat menjadi Pendekar Kopi!
Kini, sejak tahun-tahun hilangnya Para Pendekar Kopi, bukankah Juru Saji telah terlalu santai dan terlena untuk mengasah diri? Apakah asumsi ini suatu kebenaran? Silakan anda kunjungi kedai-kedai kopi dan pilihlah kopi yang memerlukan kecakapan teknis dan keilmuan ekstraksi dalam menyaji satu cangkirnya. Dan kau, akan mengerti apakah asumsi itu benar adanya.
Sabtu, 28 December 2019
Launching Buku BARISTA #NoCingCong. . Dalam acara peluncuran buku Barista #NoCingCong ini kami membawa tema The Power of Coffee Competition & Social Media, dengan menghadirkan penulis kami @willy_sidewalk dan bintang tamu @fakhrimurad sebagai perwakilan pendekar yang sukses di panggung kompetisi serta Raymond Maringka @tentangkopi.yt seorang YouTube Creator dengan channel “Tentang Kopi” yang sedang naik daun. . Jangan lewatkan talk show yang paling fenomenal kali ini dan manfaatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan narasumber yang benar-benar kompeten di bidangnya. . Jum’at 26 July 2019 pukul 16.00 s/d 19.00 di @ruangseduh Kemang, Jakarta Selatan. FREE ENTRY!!!! . . . #baristanocingcong #barista #nocingcong #brewingnocingcong #pendekarkopi #bukubarista #baristabook #shutupandbrew #agromedia #filosofikopi #ngopiyuk #kopilokal #kopipahit #kopinusantara #bicarakopi #warungkopi https://www.instagram.com/p/B0Un7zHlXEt/?igshid=19577pir0um9y