Menjadi Perempuan Itu Susah, Percayalah
(Foto ilustrasi: Magdalene.co)
Saya menulis ini melalui komputer kantor. Berupaya membangkitkan suasana hati saya yang morat-marit sejak kemarin sore. Saya belum bisa bekerja. Jadi saya mencoba menuliskan saja apa yang mengganggu saya.
Kemarin sore, seperti biasa, saya bersepeda dari kantor ke kosan, sekitar pukul 17.15 WIB. Rute saya setiap hari adalah keluar dari gang kecil di samping POLDA, menyeberang dan kemudian sedikit menanjak menuju belokan ke kiri yang sudah tidak jauh dari kosan.
Bertepatan dengan belokan yang cukup menyusahkan karena harus sembari memaksimalkan tenaga untuk melewati tanjakan, saya dipepet pengendara motor. Dekat sekali. Saya kaget tapi berupaya tenang. Yang lebih mengganggu saya, dia melewati saya sembari menoleh ke arah saya, menatap saya dengan tajam, sampai kemudian dia melewati saya dan berlalu. Saya cukup terganggu tapi itu bukan pertama kali saya dipandang demikian oleh pengendara lain, jadi saya berusaha melupakannya. Seorang perempuan, berpakaian cukup rapi dan mengayuh sepeda yang cukup imut, mungkin bukan pemandangan yang didapati sehari-hari bagi sebagian warga Semarang, jadi mungkin beberapa orang tidak tahan untuk tidak menatap saya. Sebelumnya saya baik-baik saja, tapi kemarin, entah, saya merasa terganggu.
Apesnya, aksi pengendara laki-laki ini belum berhenti. Ia memberhentikan motornya di seberang POM bensin Sriwijaya. Seolah menanti saya lewat. Memperhatikan saya dari jauh hingga saya melewatinya. Pandangannya saya rasakan terus mengikuti saya. Saya menyadarinya tapi berpura-pura cuek. Perasaan saya tidak enak tapi berusaha tenang, berpikir mungkin dia memang ingin menyeberang untuk mengisi bensin.
Beberapa puluh meter kemudian, saya sudah hampir sampai di gang kosan saya ketika, entah, perasaan saya kembali tidak enak. Saya lantas berhenti, sekalian saja karena saya memang harus menyeberang untuk masuk ke gang kosan. Saya melihat laki-laki itu lagi mendekat dengan motornya. Dia tidak mungkin mengisi bensin! Dia sepertinya hanya berhenti, tidak tahu buat apa, mungkin memang menunggu saya. Dia kemudian melewati saya, dengan mengulang tatapannya lagi. Kalian bisa bayangkan, kepalanya tidak menghadap ke depan ke arah jalannya, tapi menoleh ke samping, menatap saya. Saya tatap dia balik, saya pastikan dia tahu bahwa saya menyadari dia berulang kali menatap saya dan saya pastikan dia pergi.
Setelah melewati saya, dia masih melihat spion-nya berulang! Buat apa kalau tidak mengawasi saya? Saya terus melihat dia. Memastikan dia membawa motivasi dan tindak janggalnya jauh-jauh, sejauh-jauhnya dari saya. Setelah memastikan dia sudah cukup jauh, saya melanjutkan perjalanan kembali ke kosan.
Sampai malamnya, mood saya terus berantakan. Saya kesal dan takut. Sejak awal saya bersepeda, beberapa teman menanyakan, ‘memangnya aman naik sepeda?’. ‘Aman’ yang ada di kepala saya adalah rendahnya dari resiko kecelakaan, yang sudah saya antisipasi dengan memakai helm. Ternyata ada resiko lain: penguntit yang menyebalkan.
Saya tidak tahu dia siapa, laki-laki tanggung yang tidak lagi muda tapi juga tidak tua-tua amat. Dia tidak menyentuh saya. Tapi dengan tindak-tanduknya, yang bagi dia mungkin saja biasa saja, sudah membuat saya tidak mau naik sepeda hari ini. Selain tidak mood, saya tidak bisa mengabaikan kemungkinan hal serupa terjadi lagi, walau mungkin kemungkinannya kecil. Tentu saja saya akan kembali bersepeda, mungkin besok saat suasana hati dan keberanian saya sudah membaik.
Menjadi perempuan itu susah, percayalah. Berhati-hatilah.














