Kukatakan Padamu Barangkali, seluruh usia yang kau punya hanya habis menyatakan mimpi: penulis, masinis kereta dan setiap sore duduk di teras minum teh dan membaca buku. Ketiganya tak pernah kau katakan langsung kepadaku. Atau barangkali aku sudah mengetahuinya lebih dulu. Kau bertanya, pernahkah aku membayangkan kita, berdua merapihkan barang-barang, mengepak baju dan sepatu, atau memindahkan perabotan rumah untuk pindah ke tempat baru? Mungkin di sini sebelumnya kita berdebat panjang. Itu wajar. Kamu tahu kepalaku adalah kecemasan yang berulang-ulang. Aku selalu memikirkan sesuatu hal, lalu mempertimbangkan hal yang lain. Apapun keputusanku, kau tetap mendukungnya. Aku percaya. Kau memintaku mengatakan, apakah pernah aku membayangkan tulisan-tulisanku banyak yang dimuat media, cerita-cerita pendekku disukai banyak orang? Kamu akan mengalah untuk hal ini. Setidaknya kamu masih bertahan pada pendirianmu untuk tetap mendukungku menjadi penulis. Kamu yakin beberapa tahun ke depan nanti, namaku dipajang di rak semua toko buku bersanding dengan penulis hebat lainnya. Maka demikian. Kamu telah mengatakannya lebih dulu. Barangkali orang yang pertama kali cemburu kepadaku adalah kamu. Kamu mengakuinya. Setidaknya kamu orang yang percaya pada setiap potensi yang ada di dalam diriku. Kau memintaku mengatakan, nikmat mana bercinta denganmu di minggu pagi buta atau sore hari sejam sebelum matahari tenggelam? Kau menyuruhku untuk mengatakannya saja. Lalu aku tak punya pilihan, selain mengatakan bahwa aku selalu menikmati setiap waktu bercinta denganmu. Terutama pada siang yang berhujan. Kau memintaku mengatakan, kapan terakhir kali kita bertengkar hebat hingga salah satu di antara kita ingin sekali memutuskan berpisah? Kamu rasa aku akan mengingat hal itu hingga tua nanti. Kau memintaku untuk mengingatkanmu, jika kau ingin sekali meninggalkanku, aku akan tanyakan kepadamu alasan kenapa kau mencintaiku. Barangkali memang cinta punya banyak alasan untuk meninggalkan, tetapi tak pernah dilakukan. Itu yang disebut cinta. Kau memintaku mengatakan, jika suatu hari nanti aku berpikir telah menemukan lelaki idamanku, aku akan tanyakan kepada diriku sendiri: apa memang lelaki itu mencintaiku lebih baik darimu? Jika jawabannya adalah iya, kau tak akan melarangku pergi. Sebab kau percaya padaku. Dan sebab itu pula aku bertahan dan tak melangkah pergi. Demikian akhirnya perdebatan kita diakhirkan. Aku mencintaimu, tanpa tanda tanya, tanpa terlalu banyak meminta. Sebuah improvisasi prosa yang dituliskan oleh @penyihirhati, dibacakan dengan merefleksi sudut pandang orang pertama terhadap orang kedua. Jepara, 2 Oktober 2015.
Versi asli bisa dibaca disini X










