Seandainya kamu tahu betapa cepatnya manusia melupakanmu setelah kematianmu. Maka kamu tidak akan hidup untuk menyenangkan siapa pun, selain Rabbmu. 1 Muharram 1448 H
Sade Olutola
𓃗
trying on a metaphor
Game of Thrones Daily
ojovivo

Origami Around

roma★
Today's Document
🪼

blake kathryn
Noah Kahan
cherry valley forever
Not today Justin
Misplaced Lens Cap

ellievsbear
No title available

⁂
DEAR READER
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
seen from France
seen from India

seen from Germany

seen from France

seen from Tunisia
seen from Tunisia

seen from Uzbekistan
seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from France

seen from Pakistan
seen from Spain

seen from Germany

seen from Netherlands

seen from France
seen from United States

seen from United States
@semestaituluas
Seandainya kamu tahu betapa cepatnya manusia melupakanmu setelah kematianmu. Maka kamu tidak akan hidup untuk menyenangkan siapa pun, selain Rabbmu. 1 Muharram 1448 H
Memory of The Future
Kisah tentang keluarga Ibrahim bukanlah hal baru bagiku. Gimana enggak, setiap Dzulhijjah pasti banyak postingan, story, dan ceramah mengenai itu. Angle yang diambilnya juga macem-macem, baik itu dari segi parenting-nya, pengorbanannya, maupun misi kenabiannya. Semuanya menarik dan insightful. Setidaknya, itu yang kurasakan selama bertahun-tahun.
Berapa banyak aku harus mengulang cerita ini di kepala sebelum akhirnya sesuatu terlintas di benakku? Puluhan kali. Mungkin ratusan. Dan "sesuatu" apa yang mungkin muncul jika aku melihatnya dari sudut pandang lain? Nah.. di putaran yang entah ke berapa, pertanyaan aneh ini muncul, akhirnya.
Kalau Allah tahu Ibrahim akan lulus, kenapa Allah tetap memerintahkan Ibrahim berkurban?
Dalam pemahamanku, ujian selalu berkaitan dengan pengetahuan sang penguji yang belum lengkap. Contohnya, seorang guru memberi soal karena ia belum tahu kemampuan muridnya, lalu jawaban sang muridlah yang kemudian menyingkap kenyataan itu. Begitulah kira-kira, respons kita akan memberi tahu penguji sesuatu yang belum ia ketahui tentang diri kita.
Belum lagi, sejak kecil aku sering ditanamkan bahwa Allah meminta pembuktian dari kita. Cuma rasanya aneh kalau membayangkan ujian Ibrahim (dan kita semua) sebagai sarana untuk menunjukkan iman kepada Allah. Bukankah Allah tidak menunggu jawaban apapun untuk mengenal hamba-Nya?
Jadi menurutku, ujian itu jelas tidak mungkin berfungsi untuk "memberi tahu Allah" mengenai sejauh apa iman Ibrahim.
Kalau begitu, untuk siapa sebenarnya ujian itu? Apa yang Sang Penguji inginkan dari tes itu kalau bukan untuk mengungkap sesuatu kepada diri-Nya?
Aku menemukan jawaban yang memuaskan. Seseorang mengatakannya dengan ringkas. Katanya,
"The test wasn't to reveal Ibrahim to Allah. It was to reveal Ibrahim to Ibrahim."
🤯🤯🤯 (mindblowing) bener juga. Allah mah tau iman Ibrahim, tapi kan Ibrahim nggak tau sedalam apa imannya.
Aku langsung teringat quote dari Carl Jung. Bunyinya, "in each of us, there is another whom we do not know." Ada seseorang (atau sesuatu) di dalam diri kita yang belum kita kenal, dan ujian itu akan mengenalkan "yang lain" dalam diri kita kepada diri kita sendiri.
Coba kita apply premis itu di konteks Ibrahim. Tentu sejak awal Allah sudah tau kesetiaan Ibrahim. Nggak perlu menunggu hasil ujian untuk mengenalnya. Hanya saja Ibrahim belum pernah bertemu dengan versi dirinya yang paling taat. Kesetiaan itu (betapapun sempurnanya) masih berupa klaim/ucapan/pengakuan diri, yang tadinya belum ia alami sebagai realitas, belum "terjadi" dalam sejarah, dan belum diwujudkan melalui pilihan yang konkret.
Artinya Ibrahim nggak sedang memperlihatkan sesuatu yang baru bagi Allah, melainkan sedang mengalami sendiri ketaatannya sampai menjadi nyata. Melalui ujian itu dia menemukan fakta tentang dirinya sendiri. Istilahnya mah self revelation alias pengungkapan jati diri kepada diri kita sendiri. Analoginya mungkin gini, Allah sudah memegang naskahnya dan Ibrahim yang berjalan di atas panggung itulah yang baru memerankan dialognya sendiri.
Makna Membenarkan Mimpi (صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا)
Quote dari Jung tadi membuka pintu pembahasan ini dan ayat Allah menggenapkan kunciannya. Allah berfirman kepada Ibrahim setelah peristiwa itu: "Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu" (QS Ash-Shaffat: 105). Perhatikan kata صَدَّقْتَ (membenarkan). Ibrahim sedang membenarkan sesuatu yang sudah benar di sisi Allah, yang sebelumnya nggak pernah dihidupi oleh dirinya.
Jadi kita akhirnya tau bahwa ada perbedaan mendasar antara sesuatu diketahui Allah dengan sesuatu terwujud dalam realitas manusia.
Manusia sendiri hidup di ranah aktualisasi which is segala sesuatu baru memperoleh bentuknya ketika dilewati, dirasakan, dan dijalani. Maka fungsi ujian Ibrahim adalah mewujudkan kesetiaan Ibrahim dari ranah ilmu Allah ke ranah realitas. Apa dalilnya? Allah mencantumkan outcome yang Dia harapkan itu di surat As-Saffat (37) : 106
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata."
Kata الْمُبِيْنُ artinya yang nyata, yang jelas, yang tampak. Sebetulnya ada opsi diksi lain kayak, الْمَعْلُومُ (yang diketahui) atau الْمَكْتُوبُ (yang tertulis).
Cuma tengok deh, pemilihan diksi "nyata" itu menarik dan masuk akal soalnya ujian itu memang baru saja terjadi dan dihidupi oleh Ibrahim dalam bentuk pengorbanan yang konkret. Like.. antara ilmu Allah dan realitas manusia, ada jurang yang cuma bisa dilintasi oleh perbuatan. Dan Ibrahim telah melintasinya.
Dan ternyata, pemahaman ini bukan cuma dugaanku. Al-Maududi, seorang mufasir besar pun sampai pada kesimpulan yang sama. Dalam tafsirnya, beliau bilang begini:
"We did not make you see in the dream that you had actually slaughtered your son and he had died, but that you were slaughtering him. That Vision you have fulfilled. Now, it is not Our will to take the life of your child: the actual object of the vision has been fulfilled by your submission and preparation to sacrifice him for Our sake."
Al-Maududi membedakan antara tindakan menyembelih dan kematian sebagai hasil. Mimpi Ibrahim isinya bukan prediksi kematian. Maksudnya Allah nggak menginginkan Ismail mati. Fakta bahwa Ismail akhirnya diganti dengan domba adalah penegasan bahwa ujian itu berhasil dilalui. Darah domba menggantikan darah yang seharusnya karena targetnya bukan pengorbanan fisik, tapi pengorbanan hati.
So.. mimpi itu adalah panggung tindakan di mana Allah menginginkan Ibrahim siap melepaskan. Begitu Ibrahim (dengan pedang terhunus dan jiwa yang berserah) sudah membuktikan kepada dirinya sendiri dan kepada alam semesta bahwa ia benar-benar lebih mencintai Allah daripada segalanya, tujuan ujian telah tercapai tanpa harus mengorbankan nyawa Ismail.
Diri yang disimulasikan ≠ diri yang diwujudkan
Meskipun kita bisa membayangkan diri kita sebagai apapun (pemberani, setia, sabar), bayangan itu nggak pernah sama dengan kenyataan. Konon, dalam perjalanan menuju kesadaran yang lebih luas, banyak tingkat pengorbanan yang diperlukan. Setiap kali kita melepas sesuatu yang kita cintai, kita naik satu anak tangga menuju diri yang sesungguhnya.
Pada titik puncak pengorbanan itu, iman aktual lahir. Sama seperti "diri Ibrahim yang mencintai Allah lebih dari segalanya" itu muncul dari penyerahan total dan pelepasan total (al-wala wal bara). Tanpa ujian itu, Ibrahim mungkin hidup dalam ilusi tentang dirinya sendiri bahwa, "aku orang beriman, aku pasti taat."
Rose F. Holt dalam blognya menulis:
"Knowledge, or consciousness, a knowing with, is bought only with suffering and sacrifice and death, both on real and symbolic levels."
Kesadaran dan pengetahuan diri tidak datang gratis. Ibrahim "membeli" pengenalan dirinya alias reveal Ibrahim to Ibrahim melalui kesediaannya mengorbankan putranya, yang secara simbolik, merupakan "kematian" terhadap ego dan keterikatannya.
Sedangkan Allah sendiri nggak butuh kematian Ismail. Allah menginginkan proses pengorbanan itu sendiri sebagai kendaraan bagi manusia (Ibrahim dalam hal ini) untuk naik ke kesadaran yang lebih tinggi, di mana ego melepas keterikatannya, dan Self (diri sejati dalam istilah Carl Jung) terwujud.
Karena itulah, setelah ujian tersebut benar-benar terjadi, Al-Qur'an menghadirkan penghormatan yang begitu indah:
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
"Salam sejahtera bagi Ibrahim." (QS Ash-Shaffat: 109)
Damai karena orang yang telah menemukan dirinya yang paling dalam hanya bisa merasakan ketenangan. Perjalanan telah usai. Ibrahim telah pulang ke rumahnya yang sejati dengan selamat. Ibrahim bisa berteduh di "pohon batinnya" yang telah teruji koherensi dan konsistensinya. Ibrahim bisa melanjutkan kembali misi kenabiannya dengan seluruh identitas diri/self yang telah integral.
Bacaan lanjutan: https://roseholt.blogspot.com/2004/04/analytical-meaning-of-sacrifice-if-as.html?m=0
— Giza, meski sudah Muharram bahasan ini tidak pernah kedaluwarsa
Selamat Datang Juni
Halo Juni, terima kasih sudah berkenan kembali mampir di kalender hidupku tahun ini. Jika aku di bumi bagian utara, pasti aku sedang menatap indah bunga bermekaran di musim semi sambil mulai bersiap menyambut musim panas dengan semangka dingin dan piknik di pantai saat senja hari. Namun musim kemarau di khatulistiwa sekarang juga tidak buruk dengan langit cerah serta awan putih tidak lupa malam hari dengan terang bulan serta bintang tanpa awan.
Juni ke-24 ini, aku sudah lulus dari perguruan tinggi loh. Katanya, aku sudah memasuki masa dewasa yang sesungguhnya. Aku mulai melihat realita tentang ekonomi, sosial, juga mimpi-mimpi yang dulu nampak begitu bercahaya kini mulai redup dan lesu.
Juni, kondisi kita amat sangat baik dibandingkan berjuta orang di luar sana. Orangtua kita masih sangat sehat dan mampu, Terimakasih Tuhan untuk rezeki dan nikmat ini. Kita masih punya fisik dan kemampuan otak yang tidak bisa dikatakan buruk. Fasilitas dan akses yang kita punya begitu banyak. Jalan hidup sejauh ini jauh lebih baik dari kisah-kisah perjuangan manusia lain yang lewat di media sosial.
Tapi Juni, kita juga sedang berjuang. Kita berjuang melawan diri kita sendiri Juni. Kita berjuang mengenali diri kita, mengenali mimpi kita, melawan rasa takut dan malas kita. Banyak kesal karena berputar terus di hal yang sama, tapi perbaikan yang sedikit ini patut kita hargai bukan dibanding tidak ada hasil sama sekali, bukan?.
Aku tahu kita harus mulai berlari Juni. Kedatanganmu berarti tahun ini tersisa setengah lagi. Aduhai sungguh cepat.
Maka, Ayo susun lagi langkah dan perjuangan kita. Tidak harus dimulai dengan yang paling baik, paling rapih, paling sempurna. Tapi dengan mulai dan tidak berhenti, maka ia akan semakin baik, semakin rapih dan semakin sempurna. Maka, Mari Juni kita sambut bulan kita ini dengan senyum dan percaya diri.
Tuhan, mudahkan ku dan Juniku....
Menjadi Material Terbaik Umat
Dalam sebuah taujih, guru kami mengutip tulisan Ust. Solikhin Abu Izzuddin yang merindukan individu aktivis dakwah sebagaimana berikut: siangnya diisi dengan bekerja dengan penuh amanah, maghribnya mengisi kajian, setelah isya dilanjut dengan memperdalam ilmu di halaqah khusus, sepertiga malamnya dihidupkan dengan qiyam, lalu selepas subuh mengisi taujih, dan paginya berangkat bekerja tepat waktu.
Seolah mustahil bukan? Tapi nyatanya pernah terjadi dalam masa tertentu. Atau barangkali juga masih eksis hari ini dalam kesunyian tanpa exposure. Ah betapa memang individu aktivis yang sedemikian militannya, selain cakap dalam teknis, tapi juga mendalam secara ideologis itu dirindukan.
Tulisan ini hadir karena keresahan penulis atas tergesernya prioritas kelas kelas komprehensif dibanding event yang sifatnya tematik, dan cenderung pada entertainment sesaat. Penulis tidak hendak mengatakan event itu tidak penting. Tapi justru harus dilanjutkan pada kelas komprehensif yang serius.
Event tematik sangat penting dalam fungsinya memberikan nuansa islami di tengah masyarakat, membakar semangat membangun peradaban, bahkan membuat semangat menikah muda terlepas sudah cakap keilmuannya atau belum. Tapi event semacam itu tak cukup mampu untuk mengilmui hal-hal yang mendasar. Bukan karena sulit. Terkadang karena tidak populer saja untuk dibahas. Padahal yang mendasar itu penting sebagai landasan berfikir atas banyak hal besar.
Material Terbaik Umat
Umat islam sering diibaratkan sebagai sebuah bangunan. Dan setiap individunya adalah batu bata yang siap ditata agar bangunan ini kokoh dan megah. Tapi mari kita gunakan istilah ‘material’ dan ‘komponen’ karena tidak semua bisa menjadi bata, adakalanya individu seterang lampu, ada juga yang semegah gerbang penyambut tamu, ada juga yang setangguh krikil walau kecil, ada juga yang seindah cat dinding, dan lain sebagainya sesuai dengan potensi masing-masing.
Dalam maratibul ‘amal yang disusun Syeikh Hassan Al Banna kita akan menemukan bahwa cita cita besar membangun peradaban islam yang menjadi soko guru peradaban justru dimulai dengan langkah kecil “islahun Nafs” Atau perbaikan individu secara khusus. Yang tolok ukurnya dijabarkan dalam 10 sifat muslim / 10 muwashafat.
Hajat untuk menjadi material terbaik umat ini adalah hajat yang sangat mendesak bagi setiap individu aktivis dakwah. Individu yang lurus aqidahnya, benar ibadahnya, kokoh akhlaqnya, luas wawasan pemikirannya, sehat tangguh jasmaninya, yang berdikari, berdaya juang, yang waktunya terjaga tak terbuang percuma, rapih profesional dalam urusannya, dan menebar manfaat seluas yang ia bisa.
Cita-cita luhur menjadi individu terbaik umat ini agaknya akan sulit terwujud hanya dengan event tematik dengan bermodal semangat. Membangun peradaban tak cukup dengan itu, ia butuh diilmui setahap demi setahap, perlu nafas panjang, perlu guru yang mengakui dirimu muridnya dan ia adalah gurumu. Cita-cita luhur ini membutuhkan forum yang komprehensif kurikulumnya, panjang waktunya, terpantau setiap progres tumbuh kembangnya.
Forum Khusus Yang Terlupakan
Sahabat, event besar tentu penting untuk terus digalakan. Ia mewarnai dunia yang sudah hingar bingar dengan seruan seruan lain yang sifatnya duniawi bakan cenderung pada kemaksiatan. Ia penting sekali untuk membangkitkan kembali ghirah umat ini, menyerukan kebenaran, menyuarakan hak yang tertindas, dan kepentingan lainnya.
Tapi jika mengharapkan materi yang komprehensif dan berkelanjutan, maka forum khusus yang kecil, sederhana, terbatas, adalah kebutuhan paling mendasar dalam membangun kepahaman yang lebih baik.
Memang, forum khusus dalam bentuk taklim, halaqah, liqo, cenderung sepi, ia tak seramai dan semegah panggung event tahunan itu, atau tidak semeriah tabligh akbar ustadz kondang nasional. Tapi disinilah pemahaman tauhid dibedah, siroh perjuangan nabi membangun peradaban diruntut dan dimaknai, segala kebingungan bisa ditanyakan, bahkan strategi dakwah bisa dirumuskan secara lebih konkrit. Maka mengembalikan prioritas halaqah kecil ini adalah hajat mendesak bagi setiap aktivis yang mendambakan peradaban. Karena setiap amal tentu harus berlandaskan ilmu yang benar. Bukankah seorang alim lebih baik daripada seorang abid yang tak berilmu?
"Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah sama seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya." (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abu Darda)
Kita perlu jujur dalam hal ini, problematika forum khusus terkadang tidak hanya tentang pesertanya, tapi juga tentang pengampunya: tidak meluangkan waktu, tidak mau meningkatkan ilmu, tidak menyiapkan materi, tidak belajar mengelola forum, dll. Maka disini, perlu kesadaran betul untuk meningkatkan pribadi pengampunya agar peserta kelompok erat ukhuwahnya, antusias, tidak terbebani, memahami pentingnya forum, dll.
Pentingnya Materi yang Mendasar
Sekali lagi, pentingnya forum kecil adalah disana terdapat materi yang komprehensif dan guru yang mendampingi. Materi materi yang tidak populer dibahas sebagai bekal mendasar menghadapi isu yang besar. Agar langkah-langkah yang diambil tidak melanggar yang prinsip.
Contohnya begini, ketika tak memahami betul posisi perasaan dan ketundukan pada syariat, jangan heran ada yang mengglorifikasi romansa pacaran atasnama cinta, atau memaksakan pernikahan beda agama atas nama cinta, dan ekspresi cinta lainnya yang bahkan melanggar syariat.
Atau ketika tak memahami betul ukhuwah terhadap sesama umat muslim, ketika berbeda sedikit malah memilih adu jotos dibanding tabayun secara baik-baik, menekan kelompok lain yang bersebrangan, membubarkan kajiannya, tapi di lain waktu bermesra ria dengan kawan beda aqidah bahkan zionis sekalipun atas nama kemanusiaan dan toleransi.
Ketika tak memahami betapa mengerikannya tuduhan bid’ah pada sesama, tak terbiasa bertoleransi pada perbedaan pandangan madzhab, maka dengan mudah menerakakan saudaranya lewat jalur bid’ah.
Ketika tak memahami mana syariat, mana adat, mana pemikiran islam yang lurus, mana yang tercampur dengan ashobiyah golongan, maka jangan heran akan ditemukan pengkultusan berlebihan atas nama takdzim, enggan merubah kultur buruk atas nama adat, dll.
Ketika tak mau duduk dan mengkaji fiqh dakwah, shiroh nabi, dan mengilmui hal lain yang memadai untuk dakwah, maka jangan heran ada aktivis yang kebingungan harus melakukan apa, berdasar apa, dalilnya apa. Karena pada dasarnya bermodal semangat tapi kepala kosong tanpa ilmu!
Sahabat, dalam konteks yang lebih besar maka kita akan menemukan pertentangan ekstreme yang haris disikapi dengan kaidah keilmuan yang benar, pikiran yang lurus, dan menekan tendesi emosional. Seperti pejuang palestina yang disupport persenjataannya dari Iran padahal Iran negeri Syiah, menggunakan instagram sebagai wasilah perjuangan padahal yang punya ya yahudi juga, bagaimana menyikapi hutang 10 tahun lalu yang nilai kurs uangnya pasti sudah berubah, bagaimana menyikapi politik dalam demokrasi padahal kalau kita tidak terlibat akhirnya umat tidak memiliki wakil sama sekali dan tak memiliki penjaga atas hukum-hukum yang ditetapkan, bagaimana tahapan membangun peradaban umat dan siapa yang akan jadi khalifahnya, dan bagaimana format negaranya.
Semua itu, dan banyak kasus lain akan bisa kita jawab jika memiliki ilmu ilmu yang mendasar yang hanya di bahas dalam forum forum terbatas itu.
Mari kembalikan prioritas atas forum khusus itu, kembali hubungi guru mu itu, mari membangun peradaban setahap demi setahap, mengilmuinya setetes demi setetes, mimpimu akan perdaban islam yang gemilang tak cukup bisa diwujudkan hanya bermodal semangat.
Mari menjadi material terbaik umat ini. Dengan pemahaman yang benar, dengan ruh yang teduh, dan dengan jasmani yang siap siaga.
Wallahua’lam
Yogyakarta, 5 Mei 2024
April #9 : aku tidak suka harapan ini
Aku tidak suka berharap.
Aku tidak suka harapan bahwa kamu akan menyapaku, tersenyum dan menganggap aku ada muncul.
Aku tidak suka harapan bahwa kamu akan bertanya "Sudah sampai Yu? Aman?" setelah terlalu larut diskusi malam hadir dalam angan.
Aku tidak suka harapan bahwa kamu akan penuh antusias menyimak ideku, mendengarkan celotehku, apalagi menanggapi cita gilaku datang di kala sepi.
Aku tidak suka harapan itu datang, karena aku tau itu sekadar harapan yang akan patah karena tak terwujud.
April #6 : bekerja dan berkarya
Dulu, Ayah sering banget mengulang sebuah pesan. Kata Ayah, "Tidak harus bekerja, tapi berkaryalah dan dengan karya itu orang lain membutuhkannya dan mau membayar".
Memasuki fase "mencari kerja" ini aku baru menyadari pentingnya pesan Ayah. Tujuan hidup itu bukan bekerja, tapi berkarya. Berkarya dengan potensi, kemampuan yang kita punya. Bekerja yang terbatas jabatan seringkali membuat kita diam dan tidak bertumbuh untuk berkarya. Namun dengan berkarya, kita bertumbuh. Soal masalah gaji, tentu adalah rezeki dari Allah, tapi bahkan dengan orientasi berkarya kita tidak punya batasan maksimal angka yang bisa kita capai. Karena Karya tidak terbatas, begitupun harga beli dari karya tersebut. Jabatan saat ini banyak membuat zona nyaman dengan batasan angka gaji yang bisa didapatkan.
Mungkin ini memang terdengar sangat idealis, tapi di zaman saat ini, apalagi yang bisa kita banggakan selain idealisme dan mimpi besar kan?
Tapi kalau disuruh memilih, tentu mau akan memilih bekerja sambil berkarya. Tetap bertumbuh dan juga nyaman. Tapi, tentu dunia tidak se-menyenangkan dan semudah itu kan?
Semangat Fresh Graduate!
April #5 : tarbiyah itu pendidikan
Sedikit refleksi sejak membaca buku "Kisah Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin" dari Zainab Al Ghazali, bahwa makna tarbiyah adalah pendidikan. Sesederhana itu. Sesimpel itu. Semengguncang itu.
Imam Hasan Al Banna adalah seorang guru. Beliau memulai pemikirannya dari peran seorang guru, seorang pendidik, yang resah akan kondisi bangsa dan negara saat itu dan akhirnya membuat langkah perubahan dengan kunci besarnya adalah pendidikan.
Namun memang hakikatnya Ilmu adalah sebuah kemuliaan, Pendidikan adalah tonggak peradaban, langkah perbaikan itu begitu bercahaya dan berpendar. Ia seperti telaga biru dan dalam untuk banyak manusia yang saat itu gersang oleh cahaya ilmu. Maka, perbaikan itu mengguncangkan dunia, membuat takut para mereka yang tidak menyukai ilmu dan perbaikan.
Jadi, tarbiyah itu menurutku bukan dimulai dari bertarung, berstrategi, berpolitik. Ia dimulai dari belajar dan berpendidikan. Pendidikan akan membawa kita pada keresahan dan perbaikan, membawa kita tidak bisa diam melihat hal yang tidak baik dan tidak sesuai dengan ilmu. Ia cahaya yang tidak akan padam dan menular menerangi jalan yang akan diambil.
Karena itulah, saat ini ada orang-orang yang tidak ingin masyarakat menjadi terdidik dan mengakses pendidikan yang baik. Karena pendidikan akan menghasilkan perubahan akan menggoncangkan istana kedzaliman yang sudah mereka himpun puluhan tahun. Karena Itulah makan siang gratis lebih penting daripada pendidikan gratis. priiittt.
April #4 : jangan melawan rasa malas
Jujur, aku menulis ini di tanggal 7 April, melewatkan menulis 3 hari. Sedih, namun aku tau, kalau aku berhenti, maka sama saja seperti puluhan rencana menulis yang akhirnya juga terbengkalai karena aku berhenti. Justru, ketika aku melewatkan dan tidak konsisten, maka kejarlah, perbaiki dan terus menulis. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
Kemarin, aku melihat sebuah postingan media sosial, potongan gambar dari sebuah podcast. Jujur, aku tidak terlalu kenal dengan sang narasumber, hingga akhirnya seorang teman menyampaikan pendapat "skeptis" tentang beliau. Namun, di luar itu, apa yang ia sampaikan sangat menarik dan begitu menampar. Ia bilang begini,
Rasa malas itu jangan dilawan. Rasa malas itu muncul ketika kita gagal menemukan tujuan. Kalo misal kita berhasil menemukan tujuan, kita ngga akan punya kesempatan untuk malas.
Detik aku membaca itu, rasanya "Deg". Tepat menusuk sisi egoku yang sedang mengalami fase bermimpi besar namun merasa masih sangat malas dan kurang berjuang. Aku jadi menyadari, Jangan pernah melawan rasa malas, tapi temukan lagi tujuan awal. Kita akan terobsesi menggapai tujuan hingga tidak punya kesempatan untuk malas.
Maka, yuk bangun dan ingat lagi mimpi besar itu, tujuan awal itu. Sibukkan diri dengan mimpi itu, hingga rasa malaspun tidak punya waktu untuk sekadar mampir. Kalau rasa malas masih terus hadir, berarti kamu belum punya tujuan yang cukup besar dan jelas untuk diperjuangkan!
April #3 : penundaan dan perasaan bersalah setelahnya
Berkali kali menghadapi situasi dengan banyaknya hal yang perlu dilakukan dalam satu hari, membuatku menyadari sebuah fakta. Masalah besarku bukan ketika hal-hal itu berupa agenda fisik, offline dan berpindah ke dari satu tempat ke tempat lain. Aku lebih merasa berat ketika tugas-tugas itu berupa list yang dilakukan di dalam ruangan, membuka laptop, menghubungi orang-orang, memastikan ini dan itu dalam kondisi duduk dan sendirian. Ternyata, setelah melakukan beberapa refleksi, rasa berat itu terjadi karena peluang terjadinya distraksi lebih besar ketika aku di dalam ruangan, kondisi duduk dan sendirian. Distraksi notifikasi, HP, media sosial, rasa lapar, rasa mengantuk, dan kasur yang mengundang untuk merebahkan diri. Berbeda jika tugas dilakukan di luar ruangan, berpindah ke berbagai tempat, bertemu langsung dengan banyak orang, aku merasa lebih mindfull dan sadar apa yang aku lakukan. Lebih sedikit distraksi yang datang dan tamengku menghadapi distraksi itu lebih kuat.
Hal lain yang membuatku lebih berat melakukan hal dalam ruangan dan sendirian, adalah fakta bahwa tidak ada orang yang akan langsung melihat dan “menagih” kepadaku. Aku merasa masih punya banyak waktu sehingga lebih mudah mengambil HP untuk sekadar melihat 2–3 video Instagram yang berakhir menghabiskan 20 menit di sana. Belum lagi, rasa percaya diri toxic yang membuatku merasa punya kemampuan menyelesaikan tugas dengan waktu yang lebih singkat. Padahal, menyelesaikan dengan waktu singkat bukan berarti aku punya kemampuan lebih, itu malah menunjukkan bahwa aku tidak sungguh-sungguh dan malah tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal. Aku meremehkan waktu dan menyebabkan kemampuanku tidak berkembang, menyebabkan hasil yang ada tidak maksimal.
Hal yang unik dari penundaan yang ku lakukan, adalah rasa bersalah setelahnya. Rasa bersalah karena hasil yang ada tidak maksimal. Rasa bersalah pengandaian jika saja aku memulai lebih awal, apakah hasilnya akan berbeda. Rasa bersalah itu selalu datang, namun entah kenapa tetap tidak berhasil membuatku tidak melakukan penundaan di kesempatan berikutnya. Aku bertanya-tanya apakah rasa bersalah itu kurang besar, atau apa hal yang membuatku tetap mengulangi penundaan yang sama. Setelah sedikit perenungan aku berakhir di jawaban yang sama,
aku merasa masih punya banyak waktu
aku terlalu percaya diri dengan hal-hal baik yang akan terjadi
Melupakan fakta bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan kematian datang. Ia bisa datang kapan saja, bahwa bahkan untuk detik setelah aku mengetik kata ini, tidak ada yang memastikan jantungku masih berdetak. Mengapa begitu percaya diri dan sombong. Aku juga melupakan fakta betapapun seseorang berbakat dan berpotensi, kerja keras dan usaha tetap menjadi variabel besar. Ide dan potensi itu dimiliki 8 miliar manusia saat ini, tapi memilih untuk melakukan kerja keras dan usaha nyata yang akan membedakan mereka.
Maka, tulisan ini aku hadirkan sebagai refleksi, evaluasi dan tamparan untuk diriku sendiri. Menyadari betapa lemah dan sombongnya aku saat ini. Semoga menjadi 1 langkah perubahan, mulai dari menyadari kemudian berubah lebih baik bukan? Jadi, semangat kamu, aku dan kita.
Satu perubahan baik lebih berarti daripada sejuta komentar tanpa aksi nyata.
April #2 : melalui ketakutan terbesar
Hari ini, setelah hampir 2 bulan menghindar, akhirnya berhasil melalui satu ketakutan paling besarku, yaitu menghubungi seseorang untuk mengakui kesalahan. Ternyata ketakutan terbesarku bukan ketika harus mencoba hal baru, beradaptasi, atau bepergian sendirian. Ketakutan terbesarku adalah mengakui kesalahan.
Mengakui kesalahan membuatku takut akan mengecewakan orang lain. Karena seringnya, aku berusaha sebisa mungkin membantu dan memperbaiki. Ketika ternyata malah aku yang melakukan kesalahan, itu menjadi sebuah ketakutan untuk mengakuinya kepada orang lain. Diriku mudah menerimanya. "Semua orang melakukan kesalahan". Namun ketika berdampak pada orang lain, aku begitu merasa bersalah dan ketakutan.
Sejak 1 bulan lalu aku sudah berniat menghubungi beliau, namun selalu tertahan dengan ketakutan yang akhirnya beralih mencari-cari kesibukan lain berharap dapat melupakan rasa takut ini. Padahal nyatanya, tiap detik aku menunda, maka tiap lapis pula tertumpuk rasa takut dan pikiran buruk itu. Membuat-buat skenario aneh di kepala, genre horor hingga thriller yang mengalahkan film layar lebar tahun ini.
Maka, ketika akhirnya aku memaksa diri untuk menghadapi ketakutan ini, ternyata rasanya cukup lega. Lega bukan karena beliau langsung memaafkan atau menjawab pesanku dengan sangat baik, namun lega karena aku berhasil memecahkan cangkang ketakutan itu dan keluar dari pikiran buruk yang mengandangiku 1 bulan ini. Balasan beliau tentu mendatangkan rasa bersalah yang sudah aku perkirakan, bahkan lebih. Namun, melihat langkah berani yang aku ambil sebelumnya, aku seperti punya cahaya keberanian untuk menghadapi hal-hal berikutnya.
Seperti sebelumnya, aku pasti bisa menghadapi ini dan akan merasakan lega yang sama seperti sebelumnya
Maka, untuk ketakutan-ketakutan yang bergelantung di atas kepala, semoga engkau berani melaluinya satu-satu. Jika tidak satu-satu, setengah setengah atau sepertiga sepertiga tak masalah. Karena setiap yang engkau lalui akan mendatangkan keberanian untuk melalui ketakutan berikutnya.
-Challange Menulis 30 Hari
April #1 : jangan mengecewakan dirimu sendiri
Seperti kamu sangat tidak ingin mengecewakan orang lain, maka jangan sengaja kecewakan dirimu sendiri. Bagaimana kamu sangat mengusahakan untuk membantu orang lain, mengusahakan keinginan orang lain terwujud walau kadang sebenarnya merepotkan dirimu, maka lakukanlah itu untuk dirimu sendiri. Berusahalah mewujudkan keinginanmu, usahakan apa yang dirimu ingin sedang perjuangkan. Check list produktif itu, mimpi mimpi besar itu, keinginan untuk berubah lebih baik itu, wujudkanlah, usahakanlah.
Seperti kamu percaya bahwa temanmu begitu berpotensi, percaya bahwa ia akan baik baik saja dan menggapai mimpinya, maka percayalah pada dirimu sendiri. Sama seperti itu. Persis. Percayalah bahwa kamu bisa. Percayalah bahwa kamu juga memiliki segudang potensi itu. Percayalah pada dirimu sama seperti kamu mempercayai potensi temanmu.
Maka jangan khianati dirimu sendiri. Jika mengkhianati teman dan mengatakan hal buruk padanya amat membuat mu bersalah, maka lebih bersalahlah ketika kamu mengkhianati dan mengatakan hal buruk pada dirimu. Merendahkan dirimu, mengolok ngoloknya, bahkan tidak percaya untuk mengusahakan mimpi mimpi besar itu.
Maka mulai hari ini, aku tidak akan mengecewakan diriku, seperti aku tidak ingin mengecewakan orang lain.
- Challange menulis 30 Hari
Masa Muda Tidak Boleh Bertemu dengan Waktu Luang, Bahaya
Ramadan ini tiba-tiba banyak sekali yang harus dikerjakan. Urusan domestik di rumah, amanah di tempat kerja, belum lagi agenda buka puasa bersama dengan warga komplek, sampai shalat tarawih.
Ketika membuka sosial media banyak konten tentang banyaknya ayat Quran yang dibaca selama Ramadan. Ada yang 2 kali khatam, 3 kali khatam dan sebagainya. Ada juga yang bilang, banyakin tadabur Quran dengan membaca kitab tafsirnya sampai ikut kajian tafsir Quran. Lantas kita ingin khatam 2 kali selama Ramadan ditambah mentadaburi ditambah mengkaji. Semua ingin dilakukan.
Rasanya begitu sibuk, ya? Sampai harus pintar-pintar membagi waktu untuk tidur, memasak, atau urusan diri sendiri yang lainnya.
Kata guruku, barangkali inilah kesibukan yang Allah sukai. Kesibukan yang membuat hidup kita semakin hidup. Ditambah serangkaian rencana untuk mudik, berbagi THR dan hal lainnya yang menyibukkan pikiran kita.
Hari-hari biasa mungkin kita tidak sesibuk ini. Banyak waktu luang. Bahkan sering bertemu dengan kebosanan. Tapi di Ramadan, seakan 24 jam sehari sangat amat kurang.
Bagi pemuda, memiliki tenaga yang masih kuat dan keinginan yang begitu banyak, Ramadan menjadi tolok ukur, bahwa kesibukan selama Ramadan harusnya bisa dilanjutkan setelah Ramadan. Sebab dalam keadaan berpuasa saja kita begitu produktif.
Atau jangan-jangan memang inilah waktu latihan sesungguhnya. Seakan Allah minta, "Udah, lakuin amal shalih lain, urusan makan bisa nanti," sebab bagi anak muda, bertemu dengan waktu luang adalah bahaya.
aku kalah dan memilih patah
untuk rupa-rupa mu yang banyak warnanya dan kuharap hadirnya, ternyata tidak kunjung nampak di sepanjang jalan kita sejauh ini. hanya ada aku yang mengharap hangat sedang kamu berdiam beku dengan kepalamu yang mungkin riuh. padahal sudah ku katakan berjuta kali, aku di sini untuk badaimu. tapi sepertinya sunyi lebih kau nikmati dibanding berbagi sedikit aksara dengan makhluk berisik serupa genset gedung kuliah ketika listrik padam di tengah hujan angin sore itu.
untuk senyum atau tangis yang kunanti kau bagi lewat bibir dan wajahmu yang tak kunjung datang akhirnya, setia tertutupi garis datar dan netra gelap namun dalam, menyorot aku yang masih berharap.
namun diantara marah dan lelah yang aku rasakan, pandangan sayu matamu seperti menggedor-gedor sukma kecil ku meminta pertolongan. seolah sepi dan kelam di dalam sana menyiksamu terlalu tajam.
namun tak kunjung ku temukan celah pintu atau jendela untuk isi kepalamu. tidak ada bocoran kata sandi membuka gembok berlapis untuk hatimu yang diselimuti besi anti peluru. lewat manakah aku harus masuk, Tuan?
akhirnya rasanya lelah dan kalah. Maaf Tuan, aku memilih patah.
Murojaah itu Kewajiban. Itqan adalah Pemberian
Sore ini diadakan Studium General untuk peserta Teman Murojaah Batch 3. Aku menyadari begitu buruknya menjalani program di Batch 2 kemarin. Sebenernya malu untuk kembali mendaftar, khawatir hanya menjadi benalu di program yang penuh berkah ini
Namun, segala bisikan dari syaitan yang melemahkan tekad itu coba ditepiskan. Dan memang tak pernah rugi ketika memaksakan diri bergabung bersama orang-orang yang baik dan shalihah
Pada kesempatan kali ini, taujih dibawakan oleh seorang Ustadzah yang super inspiratif. Ustadzah Miftah, namanya. Beliau telah menuntaskan 20x putaran 30 Juz dan tuntas melangsungkan uji soal 30 Juz dengan 300 soal.
Beliau memberi tahu bahwa Murojaah itu memiliki kepanjangan kata. Muwazhomah, Riyadhoh Lisan, Iltizam, Jam'ul Qalbi, 'Ainul Mutasyabihat, Ta'alum minal Akhto'
Murojaah itu artinya berkesinambungan atau secara kontinu. Orang yang murojaah dengan mood moodan, tak akan sampai pada titik dimana menikmati hafalannya. Sesulit apapun, sesakit apapaun jangan pernah putuskan interaksi dengan Quran
Orang yang murojaahnya banyak, maka terbiasa melatih lisannya dalam mengucapkan huruf Al Quran sehingga fasih
Murojaah juga harus disiplin. Harus iltizam. Disiplin menghabiskan waktu yang telah ditentukan untuk Quran Time tanpa kerjaan sambilan. Walaupun jalannya nanti akan lama dan perlahan, namun lebih pasti untuk sampai ke titik menikmati hafalan Quran.
Murojaah itu harus mengumpulkan hati atau kekhusyuan. Anggap saja ini murojaah terakhir kita, sehingga akan diberikan kualitas terbaik. Jangan setengah-setengah, fokus! Tepis segala bersitan pikiran yang mengganggu kekhusyuan hati. Karena akan menurunkan kualitas hafalan kita. Jangan sepelekan permasalahan hati. Al Quran itu berbicara ke hati. Rasakan dalam hati
Murojaah juga harus memperhatikan ayat-ayat yang mutasyabihat. Jangan dikira-kira. Harus fix bisa membedakan
Murojaah juga harus belajar dari kesalahan. Jangan orang lain yang mengarahkan bahwa hafalan kita harus sempurna tanpa kesalahan, tapi harus dari diri kita sendiri. Memang lelah, merasa payah, terlalu ekstrem tapi ingat, pahala itu sesuai dengan kadar kepayahan seseorang.
Jangan sampai merasa terbebani dengan hafalan yang telah Allah rezekikan, jadikan sebagai sumber kebahagiaan. Mencintai Al Quran karena Allah, hingga lahir keikhlasan.
Camkan pada diri, bahwa kita butuh akan Al Quran. Jikalau suatu saat kita menjauh dari Al Quran ingat kembali kenikmatan yang kita pernah rasakan bersama Kitabullah ini. Jangan sampai hanya dijadikan nostalgia atau kenangan, karena mengembalikan yang sudah lalu itu susah.
Allah akan bertanya, tentang nikmat yang telah diberikan. Bukankah hafalan ini adalah nikmat yang sangat besar?
Maka jagalah nikmat ini dengan perasaan bahagia
Selamat mengisi bahan bakar sebelum memulai perjalanan bersama Al Quran🚀
katanya, tulisan akan menemukan jiwa dalam kata katanya di dua kondisi. Jatuh cinta dan patah hati.
tentangmu, aku akan selalu egois
karena kepadamu, aku tidak pernah bisa setengah.
ada hal-hal yang bisa kubagi dengan dunia: waktuku, pikiranku, bahkan ruang kosong di hatiku yang tidak terlalu penting. namun tentangmu, aku kehilangan kemampuan untuk berbagi. aku ingin menjadi alasan pertama yang kamu cari saat letih, suara pertama yang kamu ingat saat pagi, bahkan bayangan terakhir yang kamu peluk sebelum tidur.
tentangmu, aku berubah menjadi manusia yang ingin menggenggam terlalu erat. bukan karena aku takut kehilangan, melainkan karena kamu membuatku percaya bahwa ada beberapa cinta yang diciptakan untuk dimiliki sepenuhnya.
ketika mencintaimu, aku bukanlah air yang mengalir pelan; aku adalah arus deras yang tak bisa mengenal kata "cukup". aku mencintaimu dengan cara yang memenuhi ruang, menenggelamkan ragu, dan membuatku lupa bagaimana caranya menaruh perasaan hanya di separuh hati.
aku tahu ini egois, tapi mencintaimu dengan setengah-setengah adalah pengkhianatan yang lebih menyakitkan daripada kehilanganmu sekalipun. jika harus memilih antara menjadi egois atau menjadi samar di hidupmu, aku akan memilih menjadi egois yang kamu pahami, bukan bayangan setengah yang kamu lupakan.
sebab kamu adalah satu-satunya yang membuat seluruh diriku bekerja—dari kecemasan kecil hingga keberanian besar. kamu adalah hitungan yang tidak bisa dibagi, nama yang tidak bisa dihapus, dan rasa yang tidak pernah mau berada di tengah-tengah.
maka biarlah aku menjadi egois. biarlah aku ingin kamu lebih dari yang pantas ku minta. sebab kepadamu, aku tidak pernah bisa setengah, aku selalu ingin seluruhmu, dan jika boleh, selamanya..
Kalau bukan karena anjuran Nabiku tentang rasa malu, ingin sekali aku buka ruang obrolan kita dan mengetik banyak hal di sana. Aku seorang ekstrovert unggul yang berpengalaman memetik topik basa-basi dari sana dan sini. Mudah saja ku tuliskan pertanyaan juga pernyataan untuk memancing tanda “Typing…” darimu.
Kalau bukan karena Tuhanku Maha Melihat, sudah ku pasang seratus status di akun media sosialku berharap untuk engkau lihat. Akan ku pilih gambar dan video paling menarik dan sesuai kesukaanmu agar notifikasi “Membalas cerita Anda…” lebih mudah muncul di layar gawaiku.
Kalau bukan karena Tuhanku amat Pencemburu, ingin sekali aku ungkapkan betapa penasarannya aku dengan isi kepalamu. Dengan kalimat yang akan kau lontarkan, atau ekspresi apa yang akan kau tunjukkan. Ingin kukupas semua lapis tembok besi yang engkau bangun, ingin ku luluhkan pegunungan es tinggi yang kau ciptakan.
Tapi Tuhanku sudah jelas berkata, tidak ada Cinta jika bukan karena-Nya dan hanya akan melalui cara yang Ia Cintai. Maka, ini bukan cinta untuk kamu. Ini adalah ujian cinta antara aku dan Rabb-ku, yang ingin melihat seberapa besar cintaku pada-Nya. Ini ujian Cinta yang hanya bisa dilalui dengan Menjaga batas antara kamu dan aku. Karena denganmu, cinta Tuhanku terasa semakin jauh. Jadi, biarkan aku menjaga kamu, untuk cinta Tuhanku.
- Pemalang, 28 Januari 2026