,,,tepat pukul 03.00 pagi, duduk bersilang kaki ditengah asingnya lalu lalang dan bisingnya langkah kaki yang dikejar waktu keberangkatan. Earphone-pemberian gratis- menghantarkan nuansa folk song yang menambah kantuk. Bagai putri malu yang layu, kepala yang melambai sesekali kembali tegak seolah menentang kerja hormon melatoninku atau seratoninku. Yaaa, mereka si-kembar yang bisa membuatmu terlelap dimanapun dan kapanpun tanpa banyak kompromi.
Baru saja aku menjemput sekaligus menghantar seorang teman lama, Dwiasty namanya, sesaat setelah kami saling pamit untuk dia melanjutkan perjalanannya menuju ‘pulang’ ya, rumah; itu maksudku, aku mendapati diriku kembali sendiri ditengah bisingnya kota ini. Mereka meng’istimewa’kan dengan menyebutnya kota metro. Kau dan aku, juga kita tentu setuju dengan sebutan ini.
Aku menuruni anak tangga dengan design bak susunan batu-bata berwarna coklat tua, menambah klasiknya tempat ini. Aku memilih berjalan menyusuri lorong bandara dalam kantuk dan kebingungan, lalu tiba-tiba berbalik arah karena pemandangan di depanku yang semakin sepi menyusul tawaran dari beberapa supir taksi untuk menghantar ‘pulang’ ku. Agak gugup ku-atur langkahku untuk menjauh, hingga akhirnya kutemui seorang petugas kebersihan, juga beberapa orang yang memilih melayani rasa kantuknya pada kursi tunggu yang memanjang, kuhampiri dan memilih duduk dalam jarak dekat, paling tidak untuk menghilangkan rasa gugup dan takutku. Aku membuka obrolan untuk sekedar menanyakan bahwa aku di titik yang tepat untuk menunggu penjemputan transportasi umum, jawaban ‘ya’ yang kudengar membuatku sedikit lega.
Folk song dengan lantunan lirik yang indah, membuat pikiranku tak bisa tidur dan terus berbicara, melantur tentang, mengapa seorang dara-yang belum tentu jelita- memilih berani duduk di sepertiga malam dalam keasingan, jauh dari rumah, jauh dari genggam dan peluk orang-orang tersayang, jauh dari kamar tidur yang nyaman, jauh dari halaman bermain, jauh dari cantiknya mentari yang menyuguhkanmu pagi yang hangat.
Aku bahkan tidak berani untuk meninggalkan bandara, mengingat akan sendiri menyusuri jalan pulang ditengah redupnya lampu kota. Aku terlalu takut, bukan karena akan dimarahi atau mendapat omelan karena budaya timur yang menegaskan bahwa seorang perempuan tidak sepantasnya berkeliaran semalam suntuk hingga subuh. Itu hal yang sangat sepeleh bagiku, mengingat aku dibesarkan bersama konsep didikan yang tidak mengekang, namun diberi kepercayaan besar untukku tumbuh dengan segala batasan tindak tanduk tentang benar dan salah dan aku dengan gagahnya memilih jalanku yang tidak lupa akan nilai-nilai kehidupan. [untuk hal ini, Termakasih banyak buat bapa dan mama]
Tapi rasa takut ini, rasa tidak berani pulang sendirian karena titel perempuanku cukup mengganggu pikiranku. Mengapa? Sebagian dari diriku mengatakan, kamu perlu berjaga-jaga dan berhati-hati karena kamu perempuan. Namun aku kembali tanya, ya kenapa kalau perempuan? Apa yang membuatku harus berjaga-jaga? Sebagian dari diriku kembali menegaskan, kota ini menjadi salah satu kota dengan tingkat kejahatan yang tinggi, [ya setidaknya 2 tahun yang lalu menurut good stats]. Pikirku kembali; ya tidak salahnya harus berhati-hati, jika mengetahui alasan logis ini. Tapi aku kembali berdebat dengan pikiranku, kalau seandainya aku adalah pria, pasti tak ada rasa takut untuk pulang seorang diri ditengah redupnya lampu kota, toh sebentar lagi matahari akan memilih terbit. Ya paling tidak ini berdasarkan pengalamanku sebagai orang yang memiliki dua kakak, yang keduanya adalah pria.
Secara alamiah aku memilih menunggu hingga terang, dan entahlah dari mana munculnya keberanian yang sempat hilang tadi, akhirnya aku sampai pada keputusan untuk pulang.
,,,,tepat pukul 05.30, sebuah mobil-transportasi online-akhirnya menghantarku pulang. Bukannya merasa aman ketika berada dalam mobil, malah rasa takutku kembali muncul, tampak gelisah seorang diri, mengingat jalanan pulang dari bandara masih sangat sepi, namun berusaha tenang dengan menguatkan diri akan langit yang sudah menampakan diri dari balik kaca mobil, sambil kembali menentang kerja hormon melatoninku.
Namun sebagian dari diriku kembali menyuarakan dengan tegas, tiada salahnya kamu tetap berjaga-jaga.
aku dan semua perdebatan dalam diriku
pikirku, aku wanita yang tangguh
aku wanita mandiri yang mampu takhlukan rasa takut demi mimpi-mimpiku
pikirku aku wanita berani yang melesat jauh bak anak panah meninggalkan busur
kadang aku berharap tarikan tali pada busur tak sekencang ini