Kurma, 3. Alasan Se-bucin Apapun..
Saya kira, Saya ini termasuk makhluk teramat bucin. Menye-menye. Bagaimana tidak, saya mulai menyukai (teman) lelaki di umur 7 tahun. Kelas 2 SD. Entah teramat polos atau justru mendewasa sebelum waktunya. Bisa jadi, ini dampak kebanyakan nonton sinetron berjam-jam dalam sehari. Terkhusus, sinetron di stasiun televisi yang berlogo ikan terbang—dulu.
Tidak hanya itu. Ketika banyak orang ditanya bagaimana dia mulai menulis, banyak alasan yang teramat mulia dan indah yang diutarakan. Sedangkan diriku, memulai tulisan dengan alasan-alasan menye dan bucin.
Selain dari pelajaran Bahasa Indonesia tentunya, lalu kumpulan puisi Bapak dan bermacam koran serta cerpen yg disuguhkan padaku sejak kecil, saya mengenal kalimat nyastra juga dari pacar.. Iya. Dulu sekali, si pacar setiap pagi—atau subuh—mengirim SMS berisi ucapan selamat pagi yang begitu puitis. Rentetan kalimatnya bahkan masih kuingat hingga sekarang. Meski sesederhana;
“..semoga hari ini indah, semanis senyum dan tawamu.”
Beuh. Untuk anak bau kencur, kalimat itu sudah amat menye romantis dan nyastra. Selain buat senyam-senyum, tanpa disadari saya belajar beragam diksi. Sampai akhirnya ketika udahan, saya pun menulis berlembar-lembar curahan hati sambil menangis sesenggukan. Ah, banyak juga mungkin yang seperti itu. Tetapi setahun kemudian, ketika kubaca ulang ocehan patah hati itu, ternyata cukup membuat pede untuk bilang; bisa nulis nih kayaknya haha.
Lalu, menulis bergenre puisi-puisi-an dieksekusi dengan sedikit serius waktu patah hati zaman Esemka. Beragam suasana tidak mengenakkan, kejengkelan si dia terhadapku, pun sebaliknya menjadi modal puisi-puisi-an itu. Tulisan yang tersimpan rapi di sub menu ‘konsep’ sebuah ponsel.
Dan lagi. Di bangku perkuliahan. Di suatu pagi ketika sebuah kelas dimulai, saya menulis sederet kalimat sebagai ucapan ulang tahun untuk orang—ehem—istimewa. Ucapan ulang tahun paling favorit saya hingga kini. Iseng-iseng, saya jadikan tulisan pendek itu sebagai unggahan pertama di story WhatsApp. Tidak dinyana, seorang mas-mas yang saya anggap keren—tulisan dan cara mikirnya—mengirim komentar; weh apik no Kaf wkwk.
Meskipun diakhiri dengan ‘wkwk’, saya terlanjur dan tetap senang bukan kepalang. Sepele mungkin. Tapi justru dari selarik respons itu, saya mulai menulis lebih giat. menemukan banyak pola tulisan dan diksi anyar. Setidaknya untuk story WA dan tagihan artikel berita sejak 3 tahun lalu. Kadang singkat, kadang panjang. Kadang rada serius dan bener, kadang menye bukan main. Mendatangkan sedikit kebahagiaan ketika satu dua teman turut senang. Juga tambahan uang jajan. Masih, sampai sekarang. Dan ya gitu.
Memulai dengan alasan bucin sekalipun, kesenangan membual dan menulis, saya rasa layak untuk ditekuni. Memang menulis curhatan dan puisi-puisi menye terkesan tidak penting dan buang-buang waktu. Berlebihan. Lebay. Tapi saat itu juga, seorang remaja yang sedang bertumbuh tengah mencoba mengenali dirinya, beragam perasaan yang melingkupinya, mulai menyusun potongan-potongan pikirnya, lalu bercerita lewat diksi yang diingini.
Puthut EA dalam buku Menjadi Penulis mengatakan;
Sebab di dalam menulis kita belajar tentang bagaimana menstrukturkan gagasan, mensolidkan argumen, menyusun logika, merapikan antara apa yang substansi, dan mana yang sampiran atau pemanis. Di dalam proses menulis, kita bergulat bahkan belajar menantang pikiran dan imajinasi kita.
Ya meskipun yang coba dikenali adalah rasa kecewa yang belum semestinya dan pada waktunya; kecewa karena berharap pada manusia. Sebuah perasaan yang harus dikelola dengan tegas sekaligus hati-hati. Tetapi kita tidak pernah tahu, melalui apa perasaan kecewa semacam ini dikelola oleh tiap-tiap orang. Siapa tahu melalui tulisan, seseorang mampu berkontemplasi dan meredakan ke-bucinan. Supaya tidak melampaui batas yang telah dipatok Pemilik Hidup.
Maka, memulai sesuatu dengan alasan sederhana atau bahkan terkesan sepele tidak selalu keliru. Seperti kata Pandji Pragiwaksono, Komika kenamaan Indonesia pada sebuah acara di UNS tahun lalu, “Keberhasilanmu tidak melulu ditentukan oleh bagaimana kamu mengawalinya, tetapi bagaimana kamu menjalani pilihanmu.”
Tentu saja bukan pilihan untuk bucin pada manusia. Kalau ditanya lagi, saya pun tidak mau patah hati teramat apalagi menangis sesenggukan sebagaimana masa-masa sekolah dulu untuk suatu hal yang tidak pasti dan tidak perlu.
Bukan berarti juga abai terhadap pentingnya meluruskan niat saat membuat sebuah pilihan dan melakukan suatu tindakan. Hanya saja saya mengamini bahwa ‘meluruskan niat’ adalah proses terus berulang seumur hidup. Menanyakan lagi dan lagi pada diri, apakah niatku benar? Masihkah lurus? Atau sedikit berbelok tanpa sadar?
Selepas beragam alasan cinta-cintaan pada seorang insan, saya hanya berharap kemudian. Bisa terus mencintai pekerjaan tulis-menulis. Iya, ‘cinta’ saja. Cukup. Sebagai bagian pelurusan niat dari diri yang sempat meleng dulu. Semoga juga, menjadi medan untuk lebih mencintai dan dicintai Allah, Pemilik Cinta yang sebenar-benarnya.