علم بلا أدب كنار بلا حطب ، و ادب بلا علم كروح بلا جسد
"Ilmu tanpa adab itu kek api tanpa kayu bakar. Dan adab itu klw tanpa ilmu kek jasad tanpa ruh. "
seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Maldives
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Tunisia
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
علم بلا أدب كنار بلا حطب ، و ادب بلا علم كروح بلا جسد
"Ilmu tanpa adab itu kek api tanpa kayu bakar. Dan adab itu klw tanpa ilmu kek jasad tanpa ruh. "
Berapa tahun duduk di bangku pendidikan? Lama bukan? Tapi berapa ilmu yang kamu bagikan? Bukannya ilmu itu tidak boleh di endapkan ya? Atau malah kamu simpan untuk diri sendiri?
Sejatinya masih banyak orang yang membutuhkan kita, ilmu-ilmu yang pernah kita dapat, nasehat-nasehat yang telah kita petik, hikmah-hikmah dari buku yang kita baca. Dan hal-hal lainnya.. Karena di luar sana banyak yang berkeinginan duduk di bangku-bangku pendidikan tapi tak bisa, ingin membaca buku-buku para cendekiawan tapi tak mampu.Ingin bekerja yang mapan tapi tak sampai.
Ketahuilah, semua ilmu yang kita punya akan di pertanggungjawabkan di akhirat-Nya kelak
SEPERTI APA GAMBARAN MENJADI ISTRI SEORANG YANG SIBUK DENGAN ILMU?
Siapapun yang bergelut dengan manuskrip-manuskrip Arab, hampir mustahil tidak mengenal Fuat Sezgin. Karya besarnya berjudul Geschichte des Arabischen Schrifttums berjumlah 17 jilid yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Tarikh At-Turats Al-‘Araby. Kitab tersebut adalah semacam kitab indeks untuk kitab-kitab Islam yang yang tersebar di berbagai penjuru dunia, lengkap dengan informasi lokasi manuskripnya. Karya ini melengkapi kerja keras Carl Brockelmann sebelumnya yang berjudul Geschichte der arabischen Litteratur dan diterjemahkan ke dalam bahwa Arab menjadi Tarikh Al-Adab Al-‘Araby.
Ketekunan dan keseriusan Fuat Sezgin dalam belajarnya tampak dari waktu yang beliau habiskan setiap hari untuk meneliti dan mengkaji. Kira-kira 17 jam sehari beliau habiskan hanya untuk belajar saja. Fuat Sezgin berkata,
“My teacher [Ritter] asked me one day how many hours I work a day. I said, I work 13-14 hours a day; then he said I cannot be a scientist with these work hours; if I want to be a real scientist, I should work more than 17 hours. After that, I continued working approximately 17 hours a day until the age of 70. After 70, I had to work less, which is 13-14 hours a day.”
Bisakah Anda membayangkan, seperti apa kondisi seorang istri yang suaminya menghabiskan waktu 17 jam sehari untuk bergelut dengan ilmu? Berapa banyak kira-kira waktu untuk istrinya? Kapan waktu bercanda, waktu bercengkerama, dan waktu berkasih-kasihan?
Memang, dari dulu para ilmuwan dan ulama yang sibuk dengan ilmu itu memiliki banyak kisah unik nan menakjubkan.
Istri Az-Zuhri berkata, “Demi Allah, buku-buku (suami saya) ini, bagiku lebih berat daripada tiga madu!”
Al-Bukhari dalam semalam bisa terbangun sebanyak 20 kali hanya untuk mencatat ilham-ilham ilmu yang datang pada beliau di malam itu!
Sibawaih sangat sibuk dengan proyek besarnya menulis kitab nahwu yang diberi nama Al-Kitab. Istrinya sangat cemburu karena hampir tidak ada waktu untuknya. Saat Sibawaih ke pasar, dibakarlah konsep kitab itu. Begitu pulang dan Sibawaih tahu, pingsanlah dia dan seketika diceraikanlah wanita itu!
Ibnu Rusyd, pengarang kitab Bidayatu Al-Mujtahid wa Nihayatu Al-Muqtashid yang dipakai rujukan di pesantren Gontor, tidak pernah libur belajar kecuali dua hari saja. Yakni saat menikah dan saat ayahnya wafat!
An-Nawawi tidak tidur sambil berbaring selama dua tahun. Setiap mengantuk sambil belajar, maka beliau tidur sambil duduk dengan bersandar pada buku-buku. Setelah beberapa saat, beliau terbangun lagi lalu belajar lagi!
Konon istri Al-Albani menuangkan sepenuh mangkok tinta pada kitab-kitab beliau karena demikian cemburu waktu Al-Albani menghabiskan banyak untuk kitab-kitabnya, bukan untuk istrinya!
Memang, bagi orang-orang yang benar-benar sudah “jatuh cinta” dengan ilmu, maka posisi wanita dan istri itu –maaf, para wanita tidak perlu tersinggung- di bawah kenikmatan bergelut dengan ilmu.
Salah satu syair yang dinisbahkan kepada Asy-Syafi’i (atau Az-Zamakhsyari) jika diterjemahkan kira-kira berbunyi begini,
“Ketukan jariku untuk menepis debu yang menempel di buku, Bagiku lebih merdu daripada suara gadis merindu”
An-Nawawi juga memutuskan tidak menikah, dan memilih sibuk dengan ilmu.
Abu Nashr As-Sijzi saat masih menuntut ilmu didatangi seorang wanita. Dengan semangat khidmat, wanita itu menawarkan dirinya untuk menjadi istrinya dan ia juga siap memberikan uang 1000 dinar untuk kepentingan menuntut ilmu. Tapi beliau menolak dan meminta wanita itu pergi!
Padahal, satu dinar itu setara dengan 4,25 gram emas. Harga emas tanggal 16 Juli 2020 per-gram adalah Rp. 949.000,-. Jadi satu dinar itu kira-kira setara dengan 4 juta. Maknanya, 1000 dinar kira-kira setara dengan 4 milyar!
Lelaki biasa jika ditawari wanita “gratis” ditambah uang 4 milyar, tentu saja semua itu akan segera “disambar”. Tapi tidak bagi ulama yang cinta ilmu dan memiliki niat spesial dalam mencari ilmu. Semua itu ternyata seakan-akan di matanya “tidak ada harganya”.
Inilah gambaran menjadi istri orang yang sibuk dengan ilmu.
Tidak hanya di dunia Islam. Di luar dunia islampun kisahnya mirip-mirip. Anda seharusnya tahu bagaimana kisah perjanjian Albert Einstein saat menikah dengan istrinya.
Jadi, jika Anda para wanita yang belum menikah, jika memutuskan untuk menerima lamaran ahli ilmu dengan kualitas tinggi, atau memutuskan menawarkan diri menjadi istri ahli ilmu dengan gambaran seperti di atas, ukurlah kesiapan Anda untuk menghadapi model kehidupan sehari-hari seperti itu.
Jika Anda termasuk wanita yang terlalu senang bermanja-manja, agak ogah-ogahan dalam berkhidmat, senang banyak menghabiskan waktu ber-romantis-romantis ria, pelesiran ke tempat-tempat wisata, banyak bercengkerama dengan suami, dan mencurhatkan segala yang terasa, sebaiknya berfikir “seribu kali” untuk menikah dengan tipe suami demikian.
Ini tentu saja tidak dimaksudkan melarang wanita bermanja-manja, ber-romantis ria, bercengkerama, bertamasya dan curhat kepada suami. Semua itu wajar sebagai manusia. Tetapi, jika intensitasnya menuntut cukup banyak, sepertinya memang wanita tipe demikian tidak cocok menjadi istri orang yang sibuk dengan ilmu.
Kuatirnya tidak kuat dan malah cerai.
Jangan seperti istri Sibawaih. Hanya karena sang istri tidak bisa merasakan betapa besarnya kedudukan ilmu di hati suaminya, dia membuat tindakan fatal yang berakibat dia ditalak.
Tetapi,
Jika Anda memang siap dan kuat atau justru malah sangat menikmati, maka bisa jadi Anda akan mendapatkan pahala amal jariah yang tak terkira, jika Anda memiliki peran besar terhadap suami berkualitas Anda. Bisa jadi juga dengan amal itu Anda mendapatkan rida Allah sebagaimana Allah rida terhadap Khadijah sehingga membangunkan untuknya istana di surga karena peran beliau yang luar biasa mendukung, membantu dan berkorban untuk Rasulullah ﷺ.
Di kutip dri blog Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
رحم الله علماء المسلمين أجمعين
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين
Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengutip, bahwa Muadz bin Jabal pernah berkata,
"Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah merupakan wujud ketakutan kepadaNya, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yg belum tahu adalah shadaqah, dan membiayai orang yg berilmu adalah taqarrub.
Ilmu adalah petunjuk yg halal dan yg haram, menara jalan para penghuni surga, teman pada saat takut, rekan saat sendirian, bukti pada saat lapang dan sempit, senjata pada saat menghadapi musuh dan hiasan di samping teman-teman.
Dengan ilmu, Allah meninggikan beberapa kaum dan menjadikan mereka pelopor dalam kebaikan dan pemimpin yg jejaknya diikuti. Perbuatan mereka ditiru dan pendapat mereka diandalkan. Para malaikat menyukai perkumpulan mereka dan mengusap dg sayap-sayapnya. Siapa pun meminta ampunan bagi mereka, termasuk pula ikan paus di lautan dan binatang buas di daratan. Sebab ilmu merupakan kehidupan hati dari kebodohan dan pelita bagi penglihatan dari kegelapan.
Dengan ilmu, seorang hamba bisa mencapai kedudukan yg paling baik dan derajat yg tinggi di dunia dan di akhirat. Memikirkan ilmu menyerupai puasa dan mengkajinya menyerupai shalat malam. Dengan ilmu, tali persaudaraan dapat dijalin.
Dengan ilmu, dapat diketahui mana yg halal dan mana yg haram.
Ilmu adalah imam amal dan amal mengikutinya. Orang-orang yg berbahagia diberi ilham ilmu dan orang-orang yg menderita tidak mendapatkannya." (Diriawayatkan ath-Thabrany dan Ibnu Abdil Barr, dan lain-lainnya serta di marfu'kan kepada Nabi Muhammad Saw.)
*tulisan seseorang semoga Allah memberkahinya
Teringat nasehat seorang syekh tentang penuntut ilmu " .
Orang yang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman, tinggalkan negerimu dan merantau lah.
Kehidupan yang manis itu adanya setelah berjuang bukan bersantai-santai, karena seringnya beristirahat tidak akan menjadikan mu seorang aalim (berilmu)
Kemudian beliau melanjutkan :
Jika kamu hendak beristirahat, bertamasya, setiap hari melakukan wisata, bermain sepakbola dan melakukan perbuatan sia-sia. Maka itu semua tidak akan menjadikan mu sebagai aalim. Akan tetapi, jika kamu menahan letih sejenak meninggalkan tidur hanya untuk membaca, meninggalkan obrolan dengan temanmu hanya untuk menulis, maka perbuatan itu akan menjadikan mu sebagai aalim.
Berlatihlah, karena manisnya terasa setelah berjuang!.
Begitulah sekiranya nasehat singkat yg sebenarnya panjang yang sarat dengan makna.
Yg merupakan cambukan bagi diri pribadi karena masih sering bermalas-malasan dalam ta'lim. Teringat dulu bagaimana para ulama berletih dalam menuntut ilmu, sehingga rela berkelana hanya atas nama ilmu. Imunya menjadikan mereka khusyuk dalam beribadah, lisannya terjaga, setiap apa yang keluar dari mulutnya adalah hikmah. Begitupun dakwahnya.
Kadang kita lebih sering melakukan hal sia-sia, seperti nongkrong ngk jelas, ngomongin orang, menghabiskan waktu main game, kulineran, jalan-jalan,, yg bahkan kita sadar bahwa itu tidak akan menambah ilmu kita, hanya sebatas pemenuhan naluri saja. Maka merugilah yang demikian.
Nasehat di atas tak lain tak bukan menyuruh kita sebagai penuntut ilmu untuk tidak berdiam saja ditempat, beranjak dari tempat dan segera melangkah ke tempat lain. Agar kita merasakan manisnya dikemudian hari.
تعلم فليس المرء يولد عالما
Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu."
اللهم ألهمنا علما يجلي لنا طريق الحق و عملا يحلنا في مقعد صدق مع أشرف الأنبياء والمرسلين
Ya Allah, ilhami kami dengan pengetahuan yang menunjukkan kami kpda jalan kebenaran dan amal yang memungkinkan kita duduk di kursi kebenaran bersama para nabi dan rasul yang paling terhormat.
KoranMandala.com – Amal Jariyah yaitu salah satu amal ibadah yang pahalanya tidak dapat putus meskipun orang yang mengamalkannya sudah meninggal. Biasanya, amal perbuatan manusia akan terputus setelah orang tersebut meninggal dunia, tapi berbeda jika orang tersebut memiliki amal jariyah. Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Rasulullah SAW pada hadits riwayat yang dikutip dari kitab ‘Syarah Riyadhus Shalihin [...] The post 3 Amal Jariyah yang Pahalanya Tidak Pernah Putus appeared first on KoranMandala.com.
Beberapa waktu lalu saya menyampaikan ke rekan kerja sekaligus sahabat saya bahwa kelas yang saya ikuti sudah mulai full offline. Lalu dia kemudian bertanya,
Teman : berapa mb biaya transport sekali jalan kesana? Kujawab
Aku : xxxxx ribu
Teman : Wah lumayan juga ya mb? Berarti kalo bolak balik xxxxx ribu dong?
Aku : Iya begitu mb lumayan
Teman : dalam sebulan berapa kali kelasnya?
Aku : 4 kali, tiap pekan sekali (jawabku sambil nyambi kerjaan di laptop)
Belum selesai kemudian dia kembali bertanya :
Teman : mb ngga ada niatan buat pindah aja yg lebih deket? Sekitaran kantor sini kan ada. Mungkin bisa minimalisir biaya mobilitas?
Aku : gimana ya mb, aku sudah kadung nyaman dengan kelasnya, lagipun di sana itu entah bagaimana aku krasan dan suasananya enak.
Teman : iyasih, kalau udah krasan memang begitu..
----------------------------------------------------------------
Lalu kemudian pagi ini selepas pertemuan dalam kelas tersebut, di jalan saya mengingat ingat kembali percakapan dengan teman tempo hari. Jika direnungi, memang selama ini yg cukup terasa sekali effortnya dari kelas yang saya ikuti adalah biaya mobilitasnya yang lumayan untuk hitungan versi saya.
Namun, jika kembali saya renungi, bahwa barangkali letak berkahnya ilmu itu tidak hanya terletak di kelas pada saat pembelajaran berlangsung lalu kita pulang dengan pemahaman yang cukup. Tetapi, bisa jadi letak keberkahannya adalah pada hal-hal yang mengiringi perjalanan untuk sampai kepada ilmu tersebut.
Pengorbanan pengorbanan di awalnya, lelah lelah kesana kemarinya, ongkos ongkos transportasinya yang tidak sedikit, atau letak tempat belajarnya yang jauh, atau mengulang ulang belajarnya sampai paham, sampai mungkin ada yang harus rela jauh dari keluarganya. Proses proses itulah barangkali yang justru memberikan nilai keberkahan lebih asalkan diiringi dengan niat yang ikhlas, serius dalam belajar dan adab adab pembelajarannya yang lain.
Selama apa apa yang kemudian kita upayakan untuk mencapai kebaikan dengan niat ikhlas hanya mengharap ridhoNya, maka insyaAllah Allah akan lancarkan jalannya, dan diberikan kekuatan dalam menjalaninya.
----------------------------------------------------------------
Kemudian saya kembali flashback ke masa bagaimana saya bisa menemukan lembaga yang menfasilitasi pembelajaran saya saat ini. Kira" sekitar 2 tahun yang lalu, saat itu saya berdoa supaya dimampukan untuk mengikuti kelas ini baik dari segi kemampuan maupun finansial.
Lalu kemudian Allah atur perjalanan saya dari Semarang hingga ke kota ini dengan pengaturan yang saat itu sangat sangat tidak terpikirkan oleh saya, karena alasannya sungguh sangat sepele.
Hingga akhirnya disini, saya bertemu orang" yg kebetulan selingkaran dan mempelajari subjek yang sama dg yg saya inginkan. Kemudian beberapa kali mereka mengajari saya, tetapi karena kesibukan serta satu dan lain hal akhirnya off kembali. Lalu, ketika saya merasa bahwa tabungan saya sudah cukup, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar.
Namun, semua lembaga yang menaungi sudah tutup hanya berselang berapa hari dari keinginan saya untuk mendaftar. Saya cek di sosmednya, saat itu ada 2 lembaga yang masuk list tujuan pembelajaran saya. Namun 2 2nya sudah tutup pendaftaran.
Malam itu, saya teringat sekali saya galau berat. Saya memutuskan untuk menghubungi adminnya meski saya tau bahwa pendaftaran sudah ditutup dan akan dibuka kembali 3 bulan lagi. Sambil menunggu balasan saya sambil berdoa dan yang masih saya ingat sekali, saya pernah berkata begini "jika nanti kemudian ada keajaiban salah satu dari mereka mengizinkan daftar meski sudah ditutup, maka malam ini juga aku akan mendaftar" .
Beberapa menit kemudian admin lembaga satunya menjawab bahwa tetap tidak bisa dan bisa daftar 3 bulan lagi. Saya jujur saja saat itu kecewa, karena saya pikir mumpung budgetnya ada, dan sedang semangat untuk mengikutinya maka hal tersebut harus disegerakan. Khawatir jika nanti niatan baik semacam ini jika semakin lama dianggurkan akan layu terguyur berbagai kenyataan hidup dan godaan syaiton.
Masih sambil berdoa berharap saya menunggu balasan admin lembaga satunya. Dan saat itu mata saya benar" berbinar karena ternyata mereka mengizinkan saya untuk mendaftar susulan. Akhirnya saat itu malam itu juga saya memutuskan untuk mendaftar. MasyaAllah saya pun kemudian berterimakasih kepada Allah atas terkabulnya keinginan dan niat saya.
Maka, jika boleh menjawab kembali pertanyaan teman saya di atas,
Teman : mb ngga ada niatan buat pindah aja yg lebih deket? Sekitaran kantor sini kan ada. Mungkin bisa minimalisir biaya mobilitas?
Saya memiliki jawaban yang lainnya, bahwa lembaga ini Allah pilihkan untuk saya mengenyam pendidikan di sana. Sehingga saya pun harus rela sedikit berkorban sesuai dengan kemampuan saya untuk bisa tetap mengupayakan pembelajaran ini berjalan sebagaimana semangatnya saya. Mohon doa nya agar ilmunya barokah di dunia maupun di akhirat. Aamiin
Keajaiban Ketika Memohon Didikan-Nya
Dulu, aku rasa do’a hanya sekedar meminta ridho Tuhan ketika memulai belajar, tetapi ternyata lebih dari itu. Ketika aku mulai benar-benar berdoa ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat disertai dengan takut dan harap yang menjadi syarat do’a didengar-Nya, berbagai keajaiban itu terjadi.
Dari mulai selalu ada saja orang yang bertanya tentang suatu hal yang baru aku pelajari sampai tuntutan untuk membuat suatu proyek yang berkaitan dengan materi itu. Keajaiban yang aku rasakan akhir-akhir ini yaitu ketika mempelajari mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi. Di mana setelah kajian suatu buku yang membahas terkait psikologi kesehatan kerja selesai, aku menemukan beberapa masalah atau kasus yang terjadi disebabkan tidak diperhatikannya psikologi kesehatan kerja. Dari mulai orang terdekatku yang merasakan suatu tekanan dari atasannya sampai membuat tidak bisa tidur semalaman sampai dengan kasus pelecehan seksual di KPI. Di mana semua itu aku lihat dari perspektif psikologi kesehatan kerja asalnya dimulai dari ketidakpedulian organisasi atau tempat kerjanya pada psikologi kesehatan kerja pegawainya. Padahal psikologi kesehatan kerja sangat patut diperhatikan bagi kemajuan dan produktivitas suatu organisasi atau industri. Sebelum itu, aku pun merasakan suatu keajaiban lagi. Di mana pada saat aku mempelajari mata kuliah teori kepribadian, seseorang teman tiba-tiba saja bertanya kepadaku, “Bagaimana cara bersikap atau bereaksi yang benar terhadap suatu hal agar kita tidak mesti berpikir bahwa sebenarnya yang dilakukan itu ternyata salah? Karena terkadang di mata orang lain, respons atau sikap yang kita lakukan itu ternyata salah” Alhasil dari pertanyaan tersebut, aku pun menjawabnya berdasarkan ilmu yang didapatkan dalam mata kuliah teori kepribadian.
Kemudian keajaiban lain yaitu saat aku mengikuti SSC (Salman Spiritual Class) 29 dan ternyata haru membuat sebuah PKP (project kebaikan pribadi). Di mana saat itu kebetulan aku sangat interest dengan isu kesehatan mental, di sisi lain ternyata di semester depan ketika aku melakukan project ini pun aku sedang mempelajari atau mengontrak mata kuliah kesehatan mental. Alhasil dari sana aku menjadi memiliki tuntutan untuk membuat konten bagi PKP ku, sehingga menjadi memiliki keseriusan dalam mempelajari dan mendalami mata kuliah kesehatan mental ini.
Mungkin masih banyak keajaiban lain yang tentu tak bisa diungkapkan satu persatu. Tetapi di tulisan ini aku hanya ingin berbagi cerita, bahwa memang benar jalan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat lagi berkah itu akan selalu ada jika benar-benar meminta kepada-Nya.
Aku harap teman-teman yang membaca, tetapi mungkin belum mencobanya dapat sama-sama mencoba! Dan bisa berbagi cerita bersamaku di lain waktu! Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini! Semoga bermanfaat! Semoga berbagai keajaiban-Nya selalu melingkup kehidupan kita, aamiin.