6: Bayangan
Perkara mencintaimu tidak pernah mudah. Saya hampir saja mati di jurang demi tetap bisa menggenggam tanganmu. Saya hampir saja habis terbakar api untuk melihat cahaya di matamu. Saya hampir saja tenggelam hanya demi senyum dari wajah manismu itu, sayang. Namun nyatanya semua itu belum cukup bisa meyakinkan hatimu. Selalu ada seribu alasan yang kau hadirkan untuk membuatku mati-matian menghabiskan darah dan jiwa. Dan, barangkali setelah seribu alasan itu sanggup saya tuntaskan, kau akan lahirkan jutaan alasan lainnya. Sayang, jika saya tidak pernah kau izinkan dengan mudah menjadi bagian dari hidupmu. Lalu untuk apa kau hiasi malam dengan indahnya harapan yang kau bagikan padaku ? Lalu untuk apa bunga-bunga itu mengorbankan diri mewakili rasa kasihmu ? Lalu untuk apa waktu-waktu itu kau habiskan, menembus ribuan jarak hanya untuk duduk makan bersamaku? Jika hanya karena kau tak ingin menjadi lakon jahat dalam hubungan ini. Maka, biarlah dengan cara ini saya yang menyelesaikan. Sayang, sejak awal saya sudah tau kalau ada orang lain yang bisa kau terima tanpa syarat. Saya melihatnya dari bagaimana kau merindukannya —dengan menjadikanku sekadar bayangannya. Saya sudah tau bahwa sebenarnya kau hanya takut kesendirian itu. Biarkan saya yang menjadi egois memaksamu tetap bertahan sejak awal. Jadi malam ini, biarkan saya melepasmu. Biarkan saya jatuh ke jurang itu. Biarkan saya terbakar pada api yang kian membesar. Biarkan saya tenggelam dalam lautan luka. Tapi tenanglah, sayang—saya tidak akan mati. Biar semua kesakitan itu belajar menjadi obatnya sendiri. Di lain kesempatan, saya tidak akan lagi datang kepadamu. Sebab sampai kesempatan hidup lainnya pun, saya tidak akan pernah menjadi orang yang kau cintai. Sampai akhirnya pun saya hanya akan tetap menjadi bayangan dirinya.
"seperti perahu yang akhirnya dilepas dari tambatan, melepaskanmu adalah cara terbaik untuk bisa tetap berlayar dan menemukan laut yang lebih indah"











