Sejarah dan Perkembangan Mitologi Jawa - Dari Kepercayaan Kuno hingga Era Modern

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Canada

seen from United States
seen from Canada
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Netherlands
seen from Australia
seen from Indonesia
Sejarah dan Perkembangan Mitologi Jawa - Dari Kepercayaan Kuno hingga Era Modern
Manakah yang lebih penting
Ilmu ataukah uang ?
Silahkan cek di kolom komentar yaa guys
Bahasa Inggris dari Masa ke Masa
Photo by Nothing Ahead on Pexels.com (Penulis: Titus Agung Adiyatma) Masyarakat senantiasa berubah seiring waktu. Bahasa sebagai sarana berkomunikasi antar individu dalam masyarakat tentu mengalami perubahan mengikuti penuturnya. Bahasa Inggris yang kita pelajari di sekolah dan digunakan sebagai bahasa internasional di masa kini berbeda dengan bahasa Inggris yang dituturkan pada zaman dahulu.…
View On WordPress
Alih Teknologi Internet: Perkembangan Pesat dan Dampaknya
Teknologi internet telah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa dekade terakhir, membawa perubahan mendasar dalam cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Artikel ini akan menjelajahi perubahan signifikan dalam alih teknologi internet serta dampaknya yang mendalam. Perkembangan Teknologi Internet Internet, singkatan dari “interconnected networks” atau jaringan yang saling terhubung,…
View On WordPress
Bicara Tentang Pertumbuhan dan Perkembangan
Bayi yang dulunya mungil, kecil, dan pendek, terus beranjak tinggi sampai dewasa. Gigi bayi yang awalnya ompong bisa muncul satu persatu, berikut semasa balita yang sering menangis, ketika usia 4 tahun mulai berkurang intensitasnya. Hal tersebut tak luput dari yang namanya pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan sesuatu yang identik dengan adanya perubahan dalam diri manusia. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah pertumbuhan dan perkembangan itu sama?
Jelas berbeda teman-teman, pertumbuhan dan perkembangan memiliki pengertian yang berbeda. istilah perkembangan menunjukkan arti perubahan kuantitatif, pertambahan dalam ukuran dan struktur. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat kuantitatif atau mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran dan struktur tubuh sehingga lebih banyak menyangkut perubahan fisik.Selain itu, pertumbuhan dipandang pula sebagai perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik atau sebagai akibat dari mekarnya daya-daya dari dalam, yang berlangsung secara wajar pada diri anak, dalam peredaran waktu tertentu. Bersifat kuantitatif, irreversibel, dapat diukur, dan dapat dilihat.
Hasil dari pertumbuhan ini berupa bertambah panjang tulang tulang terutama lengan dan tungkai, bertambah tinggi dan berat badan serta makin bertambah sempurnanya susunan tulang dan jaringan syaraf. Pertumbuhan ini akan terhenti setelah adanya maturasi atau kematangan pada diri individu. Contoh dari pertumbuhan antara lain pertumbuhan tinggi badan, Naiknya berat badan, Perubahan suara, Tulang memanjang dan melebar, lingkar kepala bayi yang membesar, Organ tubuh membesar, sel-sel dalam tubuh bertambah banyak, dan semacamnya yang berkaitan dengan fisik.
Sementara itu, istilah perkembangan merujuk ke bagaimana orang tumbuh, menyesuaikan diri, dan berubah sepanjang perjalanan hidupnya, melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosi, perkembangan kognisi (pemikiran), dan perkembangan bahasa. Di samping itu, perkembangan menurut Hurlock berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif yang merupakan deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur. Teratur dan koheren menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang sebelumnya dan sesudahnya. Sedangkan, perkembangan menurut John W. Santrock mengatakan bahwa pola gerakan atau perubahan yang dimulai dari pembuahan dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan. Pola gerakan perkembangan ini sangat kompleks meliputi proses biologis, kognitif, dan sosioemosional. Dari berbagai pengertian perkembangan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan ialah suatu proses perubahan secara berurutan dan menjadi lebih kompleks dan matang.
Perkembangan memiliki sifat multidimensi, yakni integrasi anatara fikiran, sosioemosi, kognitif, fungsi biologis serta intelegensi sosial. Karena beberapa hal tersebut tidak berjalan dengan semestinya, maka perkembangan secara psikologis akan terganggu, sehingga ada beberapa orang yang stres karena tekanan fikiran atau terganggunya sosioemosi, fikiran dan intelegensi sosialnya. Selain itu, perkembangan juga bersifat plastis atau kapasitas untuk berubah.
Perubahan dapat kearah yang lebih baik atu bahkan ke arah yang lebih buruk tergantung faktor yang mendasari dan penyikapan seseorang terhadap masalah yang dihapai. Misalnya (perubahan ke arah yang lebih baik) Si B anak yang pemalu, kemudia ia menyadari akan hal ini, maka ia ingin merubahnya untuk menjadi lebih baik lagi melalui pelatihan (public speaking) dan adanya strategi yang baik diterapkan. Sehingga dengan berjalannya beberapa waktu, ia menjadi anak yang lebih pecaya diri. Sedangkan si C adalah anak yang sangat percaya diri, kemudian ia berubah menjadi pemalu dan pesimis karena ada masalah yang menghampiri dan cukup mengoyak psikologisnya (perubahna ke arah yang tidak baik).
Perkembangan dalam diri seseorang sendiri berlangsung sejak anak mulai lahir kedunia, karena ia belajar mengoptimalkan fungsi-fungsi organ tubuhnya, meskipun dengan bantuan orang disekitarnya atau orangtua sampai si anak meningal dunia. Dengan kata lain, perkembangan seseorang berlangsung sepanjang hayat. Tetapi tiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda-beda. Bisa saja si A usia biologisnya adalah 10 tahun tetapi usia psikologis atau usia perkembangannya masih 9 tahun atau 11 tahun atau mungkin sesuai, yakni sama 10 tahun. Usia perkembangan seseorang dapat lebih cepat atau lebih lambat dari usia biologisnya, hal ini terjadi karena berbedanya faktor-faktor perkembangan yang menghampiri seseorang baik dari dalam maupun luar.
Faktor yang pertama adalah faktor genetik/hereditas merupakan faktor internal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu. Hereditas sendiri dapat diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua. Sejalan dengan itu, faktor genetik dapat diartikan sebagai segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa prakelahiran sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen yang dimuliki oleh orang tua. Dari definisi tersebut, yang perlu digaris bawahi adalah faktor ini bersifat potensial, pewarisan/bawaan dan alamiah (nature).
Faktor yang kedua ialah lingkungan. Lingkungan disini memiliki arti luas. Bisa berupa lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini lingkungan di artikan sebagai keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik dan masyarakat tempat anak bergaul dan juga bermain sehari-hari. Lingkungan merupakan faktor eksternal yang turut membentuk dan mempengaruhi perkembangan individu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa faktor genetik bersifat potensial dan lingkungan yang akan menjadikannya aktual. Ada beberapa faktor lingkungan yang sangat menonjol yakni dalam lingkungan keluarga.
Faktor yang ketiga adalah kondisi kehamilan. Kondisi kehamilan pada dasarnya tumbuh kembang anak sudah dimulai sejak dalam kandungan. Tumbuh kembang janin di dalam kandungan sangat pesat. Oleh karena itu janin harus benar-benar dijaga jangan sampai mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya. Kondisi kehamilan ibu dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya anak. Sementara itu masih terdapat kurang baiknya kondisi kehamilan hal tersebut disebabkan oleh pada saat ibu hamil karena ibu mengalami stres yang berat, mengalami mual muntah yang berlebihan, paparan rokok pada kehamilan dan nafsu makan yang buruk. Sehingga kondisi kehamilan yang baik dibutuhkan agar perkembangan anak balita normal.
Faktor yang keempat adalah pemenuhan nutrisi. Peran orang tua sangatlah penting dalam pemenuhan nutrisi dalam perkembangan anak karena apa yang dimakan anak akan asupan gizi untuk menjadi zat pembangun pertumbuhan dan perkembangan anak. Agar perkembangan anak sesuai dan normal sesuai dengan umur anak. Satu aspek penting dalam pemberian makanan pada anak yaitu keamanan makanan dan terbebas dari berbagai racun kimia yang kian mengancam kesehatan anak. Pemenuhan nutrisi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Jika pemenuhan nutrisi kurang baik maka pertumbuhan akan terganggu, karena gizi sangat diperlukan untuk membangun pertumbuhan dan perkembangan. Karena ibu orang yang paling terdekat dengan anak, maka ibu yang akan menjadi orang yang berpengaruh dalam pemenuhan nutrisi anak.
Faktor yang terakhir adalah perilaku pemberian stimulus pendidikan dan pengetahuan orangtua sangat berpengaruh terhadap pemberian stimulasi, karena dengan pendidikan dan pengetahuan yang semakin tinggi, orangtua dapat mengarahkan anak sedini mungkin dan akan mempengaruhi daya pikir anak untuk berimajinasi. Latar belakang keluarga yang mendukung juga mempengaruhi prestasi anak. Perkembangan anak dapat berlangsung sesuai tahapan usianya baik melalui stimulasi langsung dari orangtua, melalui alat permainan, anggota keluarga lain, sosialisasi anak dengan orang dewasa maupun teman sebaya di lingkungan tempat tinggal. Penelitian yang dilakukan oleh Barros dkk di Brazil dengan Batelle’s Development Inventory untuk menilai perkembangan, mendapatkan hasil bahwa anak-anak yang mendapatkan stimulasi nilainya lebih tinggi dan kemampuan perkembangannya lebih baik daripada anak yang tidak mendapatkan stimulus.
Sekian
Masalah Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak, Kebiasaan Mengisap Jempol
Di antara masalah pertumbuhan dan perkembangan anak yang selalu menjadi pertanyaan para orang tua adalah kebiasaan mengisap jempol. Orang tua yang memiliki anak batita maupun balita sering kali bertanya-tanya, apakah kebiasaan mengisap ibu jari atau jempol adalah hal yang normal pada anak? Tak sedikit orang tua yang bingung memberhentikannya atau dibiarkan saja begitu. Karena lambat laun akan berhenti dengan sendiri bersamaan dengan bertambah usianya. Mengisap jempol adalah salah satu gerak refleks alami bayi atau yang tergolong dalam kebiasaan pertumbuhan dan perkembangan anak bayi. Biasanya, gerak ini dilakukan semenjak masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Kegiatan mengisap jempol selama dalam kandungan untuk menyerap gizi yang mengalir ke jabang bayi. Setelah si jabang bayi lahir, kebiasaan ini berkelanjutan dengan mengisap putting ASI untuk mendapatkan susu guna mendukung pertumbuhan bayi. Ini juga untuk mendapatkan gizi dari makanan dan minuman. Akan tetapi, kegiataan mengisap jempol ini menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi perilaku si bayi. Kalau hal ini dibiarkan terus hinggga anak melewati masa balita. Maka ia akan menjadi kebiasaan yang tidak baik. Sungguh, ini bukan pertumbuhan dan perkembangan anak yang baik. Karena umumnya, bayi yang sering mengisap ibu jarinya ketika berusia 6-7 bulan. Ada juga anak-anak yang sudah mencapai usia 7 bulan hingga 1 tahun masih mengisap jempol, tetapi dengan intentitas yang jarang?
Apa Faktor Penyebabnya?
Bila mengisap jempol bagian dari hal alami yang terjadi pada pertumbuhan dan perkembangan anak, tentu saja ada faktor penyebabnya. Di antaranya adalah sebagai berikut. - Bayi tidak mendapatkan waktu yang sewajarnya. - Karena bayi merasa lapar. - Karena munculnya reaksi mendapatkan rasa kenyamanan dan ketenangan. - Karena frutasi atau stress. - Karena ada gangguan pada gigi dan gusi. Keluarga memang tak perlu cemas, jika bayi suka mengisap jempolnya. Akan tetapi, yang perlu menjadi perhatian agak hal ini tidak menjadi kebiasaan yang tidak sewajarnya. Sebab kegiatan balita mengisap jempolnya bisa mengakibatkan hal-hal berikut ini. - Maloklusi atau gigi dan rahang dalam posisi yang tidak normal. - Masuknya kuman-kuman. - Masuknya debu atau kotoran lain ke dalam mulut si kecil. - Radang dan luka pada ibu jari si kecil.
Kapankah Kebiasaan Mengisap Jempol Bisa Mencemaskan?
Banyak keluarga yang cemas dan merasa khawatir secara berlebihan dengan perilaku balita yang suka mengisap ibu jarinya. Sehingga, tidak jarang orang tua melarangnya dengan cara yang tidak baik. Bahkan dengan cara yang keras, seperti memukul. Biasanya kecemasan orang tua terhadap anaknya yang yang suka mengisap jempolnya ke si anak sudah berumur 5 tahun. Karena berdasarkan penelitian, kebiasaan ini pada umur 5 tahun dapat menyebabkan perubahan struktur gigi dan kedua rahang. Tidak hanya itu, kebiasaan ini juga akan berpengaruh pada perkembangan psikologis anak. Kepercayaan diri yang dimiliki anak cenderung menurun. Akibat kebiasaan jeleknya ini, anak akan sering diejek oleh orang-orang di sekitarnya termasuk orang tua dan saudara. Sebenarnya, kebiasaan tersebut tidak perlu diatasi. Biarkan seperti itu karena setiap anak memiliki kecenderungan yang berbeda. Karena akan ada banyak hal terjadi selama masa pertumbuhan anak, termasuk menghisap jempol. Jangan terlalu memusingkan hal ini. Selama anak masih berwikap wajar, Anda tidak perlu khawatir berlebihan. Lakukanlah tugas sebagai orang tua sebagaimana mestinya, yakni mengarahkan dan mendampingi perkembangan anak. Artinya, Anda mesti menghilangkan rasa cemas yang berlebihan. Bersikaplah bijak. Jangan terbiasa memperlihatkan sikap tidak baik, seperti membentak, memarahi, apalagi memukul. Karena tindakan ini bukanlah solusi yang tepat untuk menghentikan kebiasaannya tersebut. Terus dukung dirinya untuk menyelesaikan masalahnya, yakni memberikan cara yang tepat agar dia mau menghentikan aktivitas mengisap jempol.
Cara Mengatasi Kebiasaan Mengisap Jempol
Setelah anak menginjak usia 5 tahun, pada usia ini Anda bisa menggunakan alat bantu untuk mengatasi aktivitas negatifnya tersebut. Di antaranya adalah sebagai berikut. - Berikan kesibukan atau aktivitas lain kepada si buah hati. Berikan mainannya atau buat permainan untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak mengisap jempol. - Letakkan perekat, isolatif, atau lem pada jarinya, dengan pemakaiaan sesuai anjuran dokter. - Jika tidak berhasil juga, gunakan lempengan plastik yang tidak keras dan tidak menimbulkan bahaya. Letakkanlah pada jarinya! - Bila tidak ampuh, gunakanlah tali perban. Ikatkanlah pada tangan anak. Tentunya, Anda harus lebih dulu menjelaskan hal ini kepada buah hati. Jelaskan dengan baik-baik, jangan membentak atau menakut-nakuti. - Dalam kondisi darurat, jika berbagai solusi yang digunakan tetap tidak menghasilkan, Anda harus berkonsultasi ke dokter. Dokter akan memberikan alat khusus yang diletakkan di mulut anak supaya tidak bisa menikmati isapan jarinya lagi. - Harus diingat dan diperhatikan. Tidak ada gunanya kita memarahi atau membentak anak, apalagi sampai menghukum mereka karena kebiasaannya ini. Sebab sering melarangnya dengan cara yang keras, akan membuatnya terus melakukan aktivitas ini. - Penting diingat, bahwa anak-anak gemar melakukan hal ini karena faktor internalnya, yaitu dirinya sendiri. - Mengatasi kebiasaan mengisap jempol dengan memberikan obat-obatan kepada anak merupakan cara yang tidak efektif dan tidak menghasilkan perubahaan apa pun. Inilah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah mengisap jempol, yang termasuk bagian dari tanda pertumbuhan seorang anak. Masalah ini adalah masalah perilaku yang sama antara satu dengan lainnya. Kesamaan perilaku ini tidak lain, karena semua gerak dan tingkah lakunya masih dikendalikan oleh nalurinya. Dan bukan akalnya yang masih belum berfungsi. Perilaku sang buah hati yang masih didasarkan kepada naluri ini, kadang-kadang memang sering tidak sejalan dengan logika. Nah, di sinilah diperlukan ketelatenan dan kesabaran orang tua dalam mendidiknya. Artinya, ada keharusan orang tua untuk dituntut bersikap bijaksana dan tidak emosional menghadapi anaknya. Jika mengalami masalah seperti ini, cobalah untuk bertanya kepada orang lain. Masih banyak orang-orang tua yang bisa memberikan masukan ihwal menyelesaikan masalah ini. Bahkan, jika Anda memiliki banyak uang bisa pergi ke psikiater. Untuk mendapatkan masukan yang sangat tepat terhadap problem anak Anda yang suka mengisap jempol. Namun yang paling penting, munculnya masalah di masa perkembangan si anak adalah hal yang wajar. Bukan suatu hal yang mesti ditakuti. Hal yang paling penting, tetaplah menjaga si buah hati untuk tidak terfokus dengan mengisap jempolnya. Karena kebiasaan ini jelas akan menimbulkan hal-hal yang kurang baik nantinya. Selain itu, penulis juga ingin menyarankan melalui artikel ini, bahwa anak adalah titipan Tuhan Yang Maha Kuasa. Anak bisa menjadi mutiara dan bisa menjadi bara. Menjadi mutiara ketika kita bisa mendidiknya dan menjaga pergaulannya dengan baik. Namun, anak bisa menjadi bara ketika mendidiknya dari sejak dini tidak baik. Maka dari itu, jangan terlalu memanjakan anak dan jangan juga terlalu keras. Bijaksanalah dalam mendidiknya. Mungkin bukan saat ini, Anda merasakan dampaknya ia menjadi mutiara atau bara. Namun, di saat ia sudah dewasa atau menikah. Anak yang suka dimanja akan bisa menjadi pribadi anak yang kurang sopan terhadap orang tua. Apalagi, jika ia memiliki beberapa saudara yang berhasil. Sedangkan ia mengalami banyak masalah dan tak bisa menyelesaikannya. Apalagi, bila sejak dini sudah dimanjakan dengan harta. Maka kelak si anak akan menjadi anak yang suka menilai sesuatu dengan harta. Read the full article