Permen karet entah mengapa memberi inspirasi dalam penulisan postingan kali ini. Kenapa permen karet? Saya lebih suka menyebutnya dengan permen karet dibandingkan parasit yang terkesan lebih 'kasar' dan tidak mengenakan (walau sebenarnya keduanya tidak mengenakan).
Permen karet itu punya banyak rasa. Mulai dari yang manis hingga rasa yang bisa menghasilkan rasa pedas atau sensasi dingin. Begitu juga teman. Ketika berteman dengan seseorang kita pasti akan merasakan suatu perasaan entah apapun itu, baik yang kita sukai atau pun tidak.
Sama halnya seperti rasa yang ada di permen karet. Kita punya kuasa untuk memilih rasa apa yang kita mau, dari pilihan tersebut rasa itulah yang akan kita rasakan. Suka atau tidak suka, apa yang kamu rasakan adalah hasil akhir setelah memilih permen karet tersebut.
Oh iya, permen karet ternyata bukan soal rasa, tapi ada loh permen karet khusus yang buat kegunaan lain jadi bukan hanya menawarkan rasa manis. Walaupun yang satu terlihat punya sisi unggul 'dengan mengatas namakan kesehatan dan nilai estetika', tapi bukan berarti permen karet itu tetap baik kan buat gigi kita. Sama halnya seperti teman, sebaik apapun atau sejelek apapun mereka ke kita, pasti ada aja sisi positif dan negatifnya.
Permen karet memang akhirnya akan dibuang (beberapa ada yang menelannya), namun biasanya ketika kita ingin memakan permen karet lagi, kita akan cenderung memilih permen karet yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita atau bisa dikatakan permen karet kesukaan. Dalam konteks ini, sama halnya seperti sahabat.
Kita hidup dimana kita harus bersosialisasi dengan yang lain bukan hanya dengan sahabat kita terus menerus. Tentu saja, itu juga berlaku ketika kita berteman. Sama halnya dengan permen karet yang hadir dalam varian rasa dan merek berbeda. Kita pasti pernah penasaran dengan produk X, Y dan Z walaupun kesukaan kita itu produk A. Ketika rasa penasaran kita sudah terjawab, kita pasti bakal menimbang-nimbang rasa apa yang paling kita suka dan biasanya kita pasti balik lagi dengan rasa itu.
Nah kalau tadi soal makan permen karet, sekarang tentang permen karet yang udah selesai dikunyah.
Kalian pasti risih, sebal, kesal, dan dongkol bahkan frustasi kalau ketempelan permen karet kan. Mau seenak apapun rasanya, semahal apapun itu harganya atau se-terkenal apapun itu merek permen karetnya, yang namanya ketempelan permen karet (apalagi udah bekas dikunyah orang) itu gak enak. Karena susah banget buat ngebersihin bekasnya.
Sama seperti teman yang seperti permen karet. Teman yang tadinya selalu nempel sama kita dan selalu ada buat kita, eh terus pergi tiba-tiba atau hilang di telan bumi gak ada kabar sama sekali. Sedih, kesel, dan sebel? Pasti. Apa yang mereka tinggalin itu sadar enggak sadar pasti berbekas di kita. Ninggalin jejak yang bakal susah dibersihin kaya permen karet yang nempel di baju kesayangan kita.
Jadi apapun rasa permen karet yang kamu pilih, rasa itulah yang bakal kamu rasain. Jangan karena satu produk punya kelebihan tertentu, kamu jadi lebih memilih produk tersebut. Teliti dan teliti lagi. Belum tentu produk permen karet yang 'terlihat unggul' itu benar-benar memberikan dampak positif. Dan pesan buat yang udah terlanjur ketempelan permen karet, hmm mau itu dari merek yang mahal atau terkenal, ya namanya ketempelan permen karet itu gak keren. Bersihin bekas permen karet gak gampang, bahkan bisa niggalin noda. Jadiin pelajaran, supaya lebih hati-hati lagi nanti ketika kamu mau duduk atau jalan yah.
Jadi, rasa permen karet apa yang kamu suka?